11+ Contoh Ceramah Isra Miraj Singkat, Panjang hingga Lucu Beserta Dalilnya

Posted on

Peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk memperdalam keimanan dan memperbaiki kualitas ibadah, khususnya salat. Rangkaian acara peringatan Isra Miraj biasanya digelar ceramah atau tausiah yang menjadi sarana untuk menyampaikan hikmah dari peristiwa tersebut.

Ceramah Isra Miraj umumnya diawali dengan salam dan puji syukur kepada Allah SWT, kemudian dilanjutkan dengan penjelasan singkat mengenai peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW hingga hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa tersebut. Ceramah kemudian ditutup dengan doa, harapan kebaikan, serta salam penutup.

Sebelum ceramah disampaikan di depan jamaah sebaiknya dipersiapkan teks ceramahnya dengan baik agar infoers dapat menguasai materi. Nah, bagi infoers yang akan bertugas menyampaikan ceramah berikut contoh ceramah Isra Miraj yang dapat menjadi referensi.

Yuk, disimak!

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan kepada kita nikmat iman, Islam, dan kesehatan sehingga pada kesempatan ini kita dapat berkumpul untuk memperingati peristiwa agung Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. Salawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah SWT,
Isra Miraj merupakan perjalanan luar biasa yang dialami Rasulullah SAW dalam satu malam. Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina, sedangkan Miraj adalah perjalanan Nabi naik ke langit hingga Sidratul Muntaha. Peristiwa ini dijelaskan dalam firman Allah SWT:

“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami.”
(QS. Al-Isra: 1)

Peristiwa Isra Miraj terjadi pada masa yang sangat berat dalam kehidupan Rasulullah SAW, yaitu setelah wafatnya paman beliau, Abu Thalib, dan istri tercinta, Khadijah RA. Tahun tersebut dikenal sebagai ‘Aamul Huzn’ atau tahun kesedihan. Namun, di tengah cobaan yang berat itu, Allah SWT memberikan penghiburan dan kemuliaan kepada Rasulullah SAW melalui peristiwa Isra Miraj.

Hadirin yang berbahagia,
Hikmah terbesar dari Isra Miraj adalah perintah salat lima waktu. Awalnya, Allah SWT mewajibkan salat sebanyak 50 waktu, kemudian diringankan menjadi lima waktu sehari semalam, namun pahalanya tetap seperti 50 waktu. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya salat dalam kehidupan seorang muslim. Rasulullah SAW bersabda:

“Salat adalah tiang agama. Barang siapa mendirikannya, maka ia telah menegakkan agama, dan barang siapa meninggalkannya, maka ia telah merobohkan agama.”
(HR. Baihaqi)

Salat bukan sekadar kewajiban, tetapi juga sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, menenangkan hati, dan mencegah perbuatan keji dan mungkar. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabut: 45)

Selain mengajarkan pentingnya salat, Isra Miraj juga memberikan pelajaran tentang keteguhan iman dan kesabaran dalam menghadapi ujian hidup. Rasulullah SAW tetap istiqamah berdakwah meskipun menghadapi berbagai cobaan. Dari sini, kita diajak untuk tidak mudah putus asa dan selalu bertawakal kepada Allah SWT.

Hadirin yang dirahmati Allah,
Peristiwa Isra Miraj juga mengajarkan kita untuk meneladani akhlak mulia Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari, seperti kejujuran, kesabaran, dan kasih sayang kepada sesama. Dengan meneladani akhlak beliau, diharapkan kualitas ibadah dan hubungan sosial kita semakin baik.

Sebagai penutup, marilah kita jadikan peringatan Isra Miraj ini sebagai momentum untuk memperbaiki kualitas salat, menguatkan iman, dan meningkatkan amal kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita di jalan yang lurus.

Akhir kata, marilah kita berdoa semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita, menerima amal ibadah kita, serta menjadikan kita umat Nabi Muhammad SAW yang taat dan berakhlak mulia.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman dan Islam. Salawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah SWT,
Isra Miraj merupakan salah satu peristiwa besar dalam sejarah Islam yang menjadi ujian keimanan bagi umat Nabi Muhammad SAW. Dalam satu malam, Rasulullah SAW diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu dinaikkan ke langit hingga Sidratul Muntaha. Peristiwa ini dijelaskan secara jelas dalam Al-Qur’an:

“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami.”
(QS. Al-Isra: 1)

Peristiwa Isra Miraj terjadi pada masa yang sangat sulit bagi Rasulullah SAW. Beliau baru saja kehilangan dua sosok yang sangat berarti dalam hidupnya, yaitu Khadijah RA dan Abu Thalib. Dalam kondisi penuh duka tersebut, Allah SWT menunjukkan kekuasaan-Nya dan menguatkan hati Rasulullah SAW melalui Isra Miraj.

Hadirin yang berbahagia,
Tidak semua orang saat itu mampu menerima peristiwa Isra Miraj dengan akal semata. Sebagian orang meragukan, bahkan mencemooh Rasulullah SAW. Namun, bagi orang-orang beriman, Isra Miraj justru menjadi bukti bahwa kekuasaan Allah SWT tidak terbatas oleh logika manusia. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah’, maka terjadilah ia.”
(QS. Yasin: 82)

Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa iman harus diletakkan di atas akal, bukan sebaliknya. Ketika kita meyakini kebesaran Allah SWT, maka tidak ada yang mustahil bagi-Nya.

Selain itu, Isra Miraj juga mengajarkan kita tentang kesabaran dan keteguhan hati dalam menghadapi ujian hidup. Rasulullah SAW tidak berhenti berdakwah meskipun menghadapi penolakan dan penderitaan. Sikap inilah yang patut kita teladani dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai penutup, marilah kita jadikan peringatan Isra Miraj sebagai sarana untuk menguatkan iman, mempertebal keyakinan kepada Allah SWT, dan meningkatkan ketakwaan dalam setiap aspek kehidupan.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita kesempatan untuk memperingati peristiwa agung Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah SWT,
Isra Miraj merupakan peristiwa istimewa karena di dalamnya terdapat perintah salat lima waktu yang menjadi kewajiban utama bagi umat Islam. Perintah ini diberikan langsung oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW tanpa perantara, berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya.

Rasulullah SAW bersabda:

“Amalan pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah salat.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Hal ini menunjukkan bahwa salat bukan sekadar kewajiban, tetapi juga penentu baik atau tidaknya amalan seorang muslim.

Hadirin yang berbahagia,
Salat sejatinya bukan hanya gerakan fisik, melainkan sarana untuk berkomunikasi langsung dengan Allah SWT. Melalui salat, kita diajarkan untuk disiplin waktu, menjaga kebersihan, serta melatih kekhusyukan dan kesabaran. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabut: 45)

Namun, dalam kehidupan sehari-hari, masih banyak umat Islam yang menganggap salat sebagai beban, bukan kebutuhan. Melalui peringatan Isra Miraj ini, kita diajak untuk mengubah cara pandang tersebut dan menjadikan salat sebagai kebutuhan hidup, sebagaimana kebutuhan makan dan minum.

Selain salat, Isra Miraj juga mengajarkan pentingnya kedisiplinan dan tanggung jawab dalam menjalankan perintah Allah SWT. Jika salat kita terjaga, insyaallah ibadah dan akhlak kita pun akan ikut terjaga.

Sebagai penutup, marilah kita jadikan momentum Isra Miraj ini sebagai titik awal untuk memperbaiki kualitas salat, menjaga waktu-waktunya, serta menghadirkan kekhusyukan dalam setiap rakaat yang kita kerjakan. Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang senantiasa taat dan istiqamah.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat-Nya. Salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah,
Isra Mi’raj merupakan salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah Islam. Dalam satu malam, Nabi Muhammad SAW diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, kemudian diangkat ke langit hingga Sidratul Muntaha. Peristiwa ini bukan hanya mukjizat, tetapi juga ujian keimanan bagi umat Islam.

Allah SWT berfirman:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى

“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa…”
(QS. Al-Isra: 1)

Peristiwa ini tidak dapat dijangkau oleh akal manusia semata. Oleh karena itu, Isra Mi’raj mengajarkan kepada kita bahwa iman harus menjadi landasan utama dalam kehidupan. Orang yang beriman akan percaya kepada kekuasaan Allah, meskipun peristiwa tersebut tampak mustahil menurut logika.

Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi teladan bagi kita. Ketika banyak orang meragukan peristiwa Isra Mi’raj, Abu Bakar justru langsung membenarkannya. Inilah bukti bahwa iman yang kuat akan melahirkan keyakinan dan keteguhan hati.

Semoga melalui peringatan Isra Mi’raj ini, iman kita semakin kokoh dan kepercayaan kita kepada Allah SWT semakin bertambah.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang masih memberi kita kesempatan untuk beribadah dan berkumpul dalam peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah SAW, suri teladan terbaik bagi umat manusia.

Hadirin yang dimuliakan Allah,
Hikmah paling besar dari peristiwa Isra Mi’raj adalah diwajibkannya shalat lima waktu. Shalat merupakan ibadah yang sangat istimewa karena diperintahkan langsung oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW saat berada di Sidratul Muntaha.

Allah SWT berfirman:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.”
(QS. Thaha: 14)

Shalat bukan sekadar kewajiban, tetapi merupakan kebutuhan rohani bagi setiap muslim. Dengan shalat, kita mengingat Allah, menenangkan hati, dan memperbaiki hubungan kita dengan Sang Pencipta. Shalat yang dilakukan dengan khusyuk akan membentuk pribadi yang lebih sabar, jujur, dan bertanggung jawab.

Allah SWT juga menegaskan:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabut: 45)

Oleh karena itu, mari kita jadikan peringatan Isra Mi’raj sebagai momentum untuk memperbaiki kualitas shalat kita, baik dari segi ketepatan waktu maupun kekhusyukannya.

Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa menjaga shalat dan mendapat keberkahan dalam hidup.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Ketakwaan adalah bekal terbaik bagi kehidupan dunia dan akhirat. Allah SWT berfirman:

اِنَّ لِلْمُتَّقِيْنَ مَفَازًاۙ

Artinya: “Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa itu ada kemenangan.”
(QS. An-Naba: 31)

Ciri orang-orang bertakwa dijelaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۙ

Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman kepada yang gaib, mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”
(QS. Al-Baqarah: 3)

Ayat ini menegaskan bahwa iman kepada perkara ghaib dan menegakkan salat merupakan dua karakter utama orang bertakwa. Dua hal inilah yang sangat berkaitan erat dengan peristiwa besar yang kita peringati di bulan Rajab, yaitu Isra Miraj Nabi Muhammad SAW.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Isra Miraj adalah peristiwa luar biasa yang dialami Rasulullah SAW dalam satu malam. Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina, sedangkan Miraj adalah perjalanan beliau naik ke langit hingga Sidratul Muntaha, sebuah tempat yang bersifat ghaib dan tidak dapat dijangkau oleh akal manusia.

Peristiwa agung ini diabadikan Allah SWT dalam Al-Qur’an:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Artinya: “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami.”
(QS. Al-Isra: 1)

Peristiwa Isra Miraj terjadi setelah Rasulullah SAW melewati masa yang sangat berat, yaitu wafatnya Khadijah RA dan Abu Thalib, yang dikenal sebagai ‘Aamul Huzn (tahun kesedihan). Di tengah ujian tersebut, Allah SWT memberikan penghiburan dan kemuliaan besar kepada Rasulullah SAW.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Dalam peristiwa Isra Miraj inilah Rasulullah SAW menerima perintah yang sangat penting bagi umat Islam, yaitu kewajiban salat lima waktu. Salat merupakan ibadah yang diperintahkan langsung oleh Allah SWT tanpa perantara, sehingga menunjukkan kedudukannya yang sangat mulia.

Salat bukan sekadar kewajiban, tetapi juga kebutuhan hidup seorang muslim. Allah SWT berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Artinya: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Namun, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa tidak semua salat menghasilkan dampak positif jika dilakukan tanpa kesadaran dan kekhusyukan. Dalam hadis disebutkan:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يُصَلُّوْنَ وَلَا يُصَلُّوْنَ

Artinya: “Akan datang suatu masa di mana manusia melakukan salat, tetapi sebenarnya mereka tidak salat.”
(HR. Ahmad)

Hadis ini menjadi pengingat agar kita tidak hanya menjaga kuantitas salat, tetapi juga kualitas salat. Salat yang berkualitas akan menghadirkan ketenangan jiwa dan mencegah perbuatan keji serta mungkar. Allah SWT berfirman:

اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ

Artinya: “Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabut: 45)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita jadikan peringatan Isra Miraj ini sebagai momentum untuk menguatkan iman kepada hal-hal yang ghaib dan memperbaiki kualitas salat kita. Semoga dengan menjaga salat, kehidupan kita menjadi lebih tenang, akhlak kita semakin baik, dan kita senantiasa berada dalam ridha Allah SWT.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِسُبُلِ السَّلَامِ، وَأَفْهَمَنَا شَرِيعَةَ نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ، نَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”
(QS. Ali Imran: 102)

Hadirin rahimakumullah,
Alhamdulillah, pada kesempatan yang penuh keberkahan ini, kita masih diberi kesehatan dan kesempatan oleh Allah SWT untuk berkumpul di bulan Rajab, bulan yang mulia. Pada bulan inilah kita kembali mengenang peristiwa luar biasa dalam sejarah Islam, yaitu Isra Miraj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Isra Miraj bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan perjalanan agung yang sarat dengan makna keimanan, keteguhan hati, dan tuntunan hidup bagi umat Islam sepanjang zaman. Isra Miraj adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina, kemudian dilanjutkan dengan perjalanan naik ke langit hingga Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah SWT. Peristiwa ini dijelaskan dalam firman Allah SWT:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya: “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami.”
(QS. Al-Isra: 1)

Hadirin rahimakumullah,
Dalam perjalanan Miraj, Rasulullah SAW dipertemukan dengan para nabi di setiap lapisan langit. Beliau bertemu dengan Nabi Adam, Nabi Yahya, Nabi Isa, Nabi Yusuf, Nabi Idris, Nabi Harun, Nabi Musa, hingga Nabi Ibrahim ‘alaihimussalam. Semua itu menunjukkan kemuliaan Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi dan rasul. Puncak dari peristiwa Isra Miraj adalah ketika Rasulullah SAW menerima perintah salat lima waktu secara langsung dari Allah SWT. Awalnya, salat diwajibkan sebanyak lima puluh waktu dalam sehari semalam. Namun atas kasih sayang Allah dan nasihat Nabi Musa ‘alaihissalam, kewajiban itu diringankan menjadi lima waktu dengan pahala tetap lima puluh.

Inilah bukti bahwa salat adalah ibadah paling istimewa. Salat menjadi mi’raj-nya orang beriman, penghubung langsung antara hamba dengan Rabb-nya.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ

Artinya: “Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabut: 45)

Hadirin rahimakumullah,
Dari peristiwa Isra Miraj, setidaknya terdapat beberapa hikmah penting yang dapat kita ambil.

Hadirin rahimakumullah,
Marilah kita jadikan peringatan Isra Miraj ini sebagai momentum untuk memperbaiki kualitas iman dan salat kita, memperkuat akhlak, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama dan agama Allah SWT.

جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ، وَجَعَلَنَا مِنْ عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ.

Demikian yang dapat saya sampaikan. Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan untuk mengamalkan hikmah Isra Miraj dalam kehidupan sehari-hari.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَىٰ أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَىٰ أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, wa bihi nasta’īn ‘alā umūrid-dunyā wad-dīn. Waṣ-ṣalātu was-salāmu ‘alā asyrafil anbiyā’i wal mursalin, sayyidinā Muḥammadin, wa ‘alā ālihī wa ṣaḥbihī ajma’īn.

Hadirin yang dirahmati Allah SWT,
Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat yang telah Dia limpahkan kepada kita, terutama nikmat iman, Islam, dan kesehatan, sehingga pada kesempatan yang penuh keberkahan ini kita dapat berkumpul untuk mengingat kembali salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah Islam, yaitu Isra Mi’raj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Peristiwa Isra Mi’raj bukan hanya kisah perjalanan luar biasa Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratul Muntaha. Lebih dari itu, Isra Mi’raj adalah peristiwa spiritual yang mengajarkan kepada kita tentang makna kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT, yang diwujudkan melalui ibadah shalat. Shalat sebagai Sarana Kedekatan dan Komunikasi dengan Allah

Hadirin yang berbahagia,
Salah satu hikmah terbesar dari Isra Mi’raj adalah diturunkannya perintah shalat lima waktu, yang diterima langsung oleh Nabi Muhammad SAW tanpa perantara. Hal ini menunjukkan bahwa shalat memiliki kedudukan yang sangat istimewa dibandingkan ibadah lainnya. Shalat adalah media komunikasi langsung antara hamba dengan Rabb-nya. Di dalam shalat, seorang hamba berdiri, rukuk, sujud, dan berdoa hanya kepada Allah SWT. Tidak ada perantara, tidak ada jarak, yang ada hanyalah kepasrahan dan penghambaan total.

Allah SWT berfirman:

{وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي}

Wa aqimiṣ-ṣalāta liżikrī.
Artinya: “Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.”
(QS. Thaha: 14)

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama shalat adalah mengingat Allah. Ketika seseorang mengingat Allah dengan sungguh-sungguh, hatinya akan menjadi tenang, pikirannya jernih, dan hidupnya lebih terarah. Shalat bukan sekadar kewajiban rutin yang dilakukan karena tuntutan syariat, tetapi merupakan kebutuhan rohani. Sebagaimana tubuh membutuhkan makanan, maka jiwa membutuhkan shalat agar tetap hidup dan kuat menghadapi berbagai ujian kehidupan. Shalat sebagai Penghubung Langsung antara Hamba dan Tuhannya

Hadirin rahimakumullah,
Dalam peristiwa Mi’raj, Rasulullah SAW menyaksikan berbagai tanda kebesaran Allah, bertemu dengan para nabi terdahulu, dan melihat keagungan ciptaan Allah SWT. Namun, dari seluruh pengalaman luar biasa tersebut, shalatlah yang menjadi amanah utama bagi umat Islam. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa sebesar apa pun kesibukan dan persoalan hidup yang kita hadapi, shalat harus tetap menjadi prioritas utama. Karena shalat adalah penghubung antara langit dan bumi, antara hamba dan Sang Pencipta.

Allah SWT berfirman:

{إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ}

Innaṣ-ṣalāta tanhā ‘anil-faḥsyā’i wal-munkar.
Artinya: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar.”
(QS. Al-‘Ankabut: 45)

Apabila shalat dilakukan dengan khusyuk dan penuh kesadaran, maka shalat akan membentuk akhlak yang baik, menahan diri dari perbuatan dosa, serta menumbuhkan rasa takut dan cinta kepada Allah SWT. Namun sebaliknya, jika shalat hanya dilakukan sebagai formalitas tanpa penghayatan, maka shalat kehilangan maknanya dan tidak memberi pengaruh positif dalam kehidupan. Meneladani Akhlak Rasulullah melalui Shalat yang Berkualitas

Hadirin yang dimuliakan Allah,
Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam melaksanakan shalat. Beliau menjalankan shalat dengan penuh kekhusyukan, hingga kaki beliau bengkak karena lamanya berdiri dalam shalat malam.

Allah SWT memuji akhlak Rasulullah SAW dalam firman-Nya:

{وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ}

Wa innaka la’alā khuluqin ‘aẓīm.
Artinya: “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas akhlak yang agung.”
(QS. Al-Qalam: 4)

Akhlak mulia Rasulullah SAW lahir dari kedekatan beliau dengan Allah, yang salah satunya dibangun melalui shalat yang berkualitas. Oleh karena itu, memperbaiki shalat berarti memperbaiki akhlak, dan memperbaiki akhlak berarti memperbaiki kehidupan.

Hadirin yang saya hormati,
Marilah kita jadikan peringatan Isra Mi’raj ini sebagai momentum untuk merenungi kembali kualitas shalat kita. Apakah shalat yang kita lakukan sudah benar-benar menghadirkan Allah dalam hati kita? Apakah shalat kita sudah mampu mengubah perilaku dan akhlak kita?

Setiap kali kita berdiri menghadap kiblat, sesungguhnya kita sedang berdiri di hadapan Allah SWT. Setiap sujud adalah bentuk kerendahan dan pengakuan bahwa kita hanyalah hamba yang lemah dan sangat membutuhkan pertolongan-Nya. Marilah kita perbaiki niat, jaga waktu shalat, dan tingkatkan kekhusyukan, agar shalat benar-benar menjadi jalan kita untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meraih keberkahan hidup di dunia dan akhirat.

Semoga Allah SWT senantiasa memberi kita kekuatan untuk menjaga shalat, memperbaiki kualitas ibadah, dan meneladani Rasulullah SAW dalam setiap aspek kehidupan.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُحَافِظِينَ عَلَى الصَّلَاةِ، وَمِنَ الْقَانِتِينَ، وَمِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang masih memberi kita nikmat iman, Islam, dan-yang paling sering kita syukuri-nikmat alarm HP. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, teladan terbaik sepanjang masa.

Hadirin yang dirahmati Allah,
Hari ini kita memperingati peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Sebuah perjalanan luar biasa: dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke langit sampai Sidratul Muntaha. Jaraknya ribuan kilometer, waktunya cuma semalam. Kalau kita? Ke masjid 200 meter saja kadang mikir: “Nanti saja, masih ada waktu.”

Allah SWT berfirman:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى

“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa…”
(QS. Al-Isra: 1)

Hadirin sekalian,
Peristiwa Isra Mi’raj ini bukan sekadar kisah perjalanan, tapi juga membawa oleh-oleh paling mahal: shalat lima waktu. Awalnya, shalat diwajibkan 50 kali sehari. Bayangkan kalau masih 50 kali… kita mungkin bukan lupa shalat, tapi lupa kerja 😄. Karena kasih sayang Allah, akhirnya diringankan menjadi lima waktu.

Allah SWT berfirman:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.”
(QS. Thaha: 14)

Shalat itu sebenarnya ringan. Yang bikin berat kadang bukan shalatnya, tapi rebahannya. Adzan sudah berkumandang, tapi kasur bilang: “Sebentar lagi…” dan akhirnya kebablasan.

Padahal shalat bukan cuma kewajiban, tapi kebutuhan. Ibarat HP, kalau tidak di-charge, lama-lama mati. Hati kita juga begitu. Kalau jarang shalat, hati mudah capek, emosi naik, masalah sedikit langsung stres.

Allah SWT juga mengingatkan:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar.”
(QS. Al-‘Ankabut: 45)

Kalau masih rajin shalat tapi tetap suka marah, bohong, dan menunda-nunda, mungkin shalatnya sudah jalan… tapi khusyuknya masih loading.

Hadirin yang berbahagia,
Isra Mi’raj mengajarkan bahwa sedekat apa pun Nabi kepada Allah, beliau tetap shalat. Maka kalau kita ingin hidup lebih tenang, lebih sabar, dan lebih berkah, kuncinya sederhana: jaga shalat, tepat waktu, dan sungguh-sungguh. Mari kita jadikan peringatan Isra Mi’raj ini sebagai pengingat, bukan hanya untuk tahu ceritanya, tapi juga untuk mempraktikkan isinya. Jangan sampai kita rajin hadir di peringatan Isra Mi’raj, tapi justru bolong shalat Subuhnya 😄.

Semoga Allah SWT memudahkan langkah kita untuk menjaga shalat lima waktu dan menjadikannya sumber ketenangan hidup.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang masih memberi kita nikmat iman, Islam, kesehatan, dan nikmat paling sering kita manfaatkan-snooze alarm. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah,
Pada hari yang penuh berkah ini kita memperingati peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Sebuah perjalanan yang luar biasa: dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke langit hingga Sidratul Muntaha. Jaraknya ribuan kilometer, waktunya cuma semalam. Kalau kita? Perjalanan dari rumah ke masjid lima menit saja kadang perlu “niat dulu”.

Allah SWT berfirman:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى

“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa…”
(QS. Al-Isra: 1)

Hadirin sekalian,
Peristiwa Isra Mi’raj ini bukan sekadar cerita perjalanan malam, tapi membawa oleh-oleh paling penting bagi umat Islam, yaitu perintah shalat. Awalnya shalat diwajibkan 50 kali sehari. Bayangkan kalau masih 50 kali… mungkin bukan shalat yang bolong, tapi jadwal hidup kita yang bolong 😄. Karena kasih sayang Allah, akhirnya diringankan menjadi lima waktu.

Namun masalahnya sekarang, bukan lagi 50 atau 5, tapi “sempat atau tidak sempat”. Adzan berkumandang, tapi kita masih berkata, “Tunggu iklan selesai”, “Tunggu game tamat”, atau “Tunggu chat dibalas”.

Padahal Allah SWT berfirman:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.”
(QS. Thaha: 14)

Artinya, shalat itu bukan sekadar gerakan fisik, tapi momen untuk ingat Allah. Kalau shalat kita terburu-buru, pikiran ke mana-mana, hati ke mana-mana, jangan heran kalau hidup juga ikut berantakan.

Hadirin yang berbahagia,
Shalat itu ibarat charger. HP secanggih apa pun, kalau tidak di-charge, pasti mati. Begitu juga hati kita. Kalau jarang shalat atau shalatnya asal-asalan, hati mudah lelah, emosi cepat naik, masalah kecil terasa besar.

Allah SWT mengingatkan:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar.”
(QS. Al-‘Ankabut: 45)

Kalau masih rajin shalat tapi masih suka marah, bohong, atau menunda-nunda, mungkin shalatnya sudah jalan… tapi khusyuknya masih buffering. Rasulullah SAW sendiri sangat mencintai shalat. Saat beliau menghadapi masalah, beliau berkata, “Arihna bis-shalah”-“Tenangkan kami dengan shalat.” Kalau kita menghadapi masalah, biasanya bilang, “Tenangkan aku dengan rebahan.” 😄

Hadirin rahimakumullah,
Isra Mi’raj mengajarkan bahwa sedekat apa pun Nabi kepada Allah, beliau tetap menjaga shalat. Maka kita yang masih sering lupa, masih sering lalai, seharusnya lebih sungguh-sungguh lagi.

Mari kita jujur pada diri sendiri:
Bukan kita tidak sempat shalat, tapi sering kali kita kalah prioritas. Untuk makan sempat, untuk nongkrong sempat, untuk scrolling berjam-jam sempat-masa untuk menghadap Allah lima kali sehari tidak sempat? Mari jadikan peringatan Isra Mi’raj ini sebagai pengingat untuk memperbaiki shalat kita. Bukan hanya tepat waktu, tapi juga lebih tenang, lebih sadar, dan lebih ikhlas.

Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang menjaga shalat, menikmati shalat, dan merasakan dampaknya dalam kehidupan sehari-hari. Mudah-mudahan setelah pulang dari sini, bukan cuma ingat ceramahnya, tapi juga ingat shalatnya.

Amin ya Rabbal ‘alamin.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang masih memberi kita nikmat iman, Islam, kesehatan, dan nikmat yang sering kita pakai untuk menunda shalat-alarm plus snooze. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, suri teladan terbaik bagi umat manusia.

Hadirin yang dirahmati Allah,
Ketika mendengar kata Isra Mi’raj, yang terbayang adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW yang sangat luar biasa. Dalam satu malam, beliau menempuh perjalanan yang jaraknya ribuan kilometer dan naik ke langit hingga Sidratul Muntaha. Sebuah perjalanan yang bahkan sampai sekarang tidak bisa ditandingi teknologi manusia.

Allah SWT berfirman:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى

(QS. Al-Isra: 1)

Namun hadirin sekalian, dari seluruh keajaiban itu, ada satu hal yang menjadi oleh-oleh utama Isra Mi’raj, yaitu shalat lima waktu. Bukan oleh-oleh foto, bukan juga oleh-oleh cerita, tapi perintah langsung dari Allah SWT.

Masalahnya, oleh-oleh ini sering kita terima… tapi jarang kita rawat. Shalat sudah diwajibkan, tapi masih sering telat. Bahkan kadang bukan telat lagi, tapi “nanti dulu”.

Padahal shalat itu bukan beban, melainkan kebutuhan. Seperti makan. Tidak ada orang yang berkata, “Aduh, berat banget ya makan tiga kali sehari.” Justru kalau tidak makan, badan lemas. Begitu juga shalat-kalau sering ditinggal, hati ikut lemas.

Allah SWT berfirman:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

(QS. Thaha: 14)

Artinya shalat itu waktu khusus untuk mengingat Allah. Kalau shalat kita asal-asalan, jangan heran kalau hidup juga sering kebingungan.

Mari jadikan peringatan Isra Mi’raj ini sebagai pengingat untuk lebih menghargai “oleh-oleh” terbaik dari Rasulullah SAW.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, Islam, kesehatan, serta nikmat waktu-meskipun sering kita habiskan untuk hal-hal yang kurang penting. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Hadirin yang dimuliakan Allah,
Pada kesempatan yang berbahagia ini, kita memperingati salah satu peristiwa paling luar biasa dalam sejarah Islam, yaitu Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Sebuah perjalanan yang logikanya sulit dicerna, tetapi kebenarannya wajib kita imani.

Allah SWT berfirman:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا

“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam…”
(QS. Al-Isra: 1)

Bayangkan, hadirin sekalian. Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik menembus langit hingga Sidratul Muntaha, hanya dalam satu malam. Kalau sekarang, naik motor ke masjid yang jaraknya 300 meter saja, kita masih bilang, “Aduh capek.” 😄

Isra Mi’raj bukan sekadar kisah perjalanan, bukan pula cerita untuk dikagumi saja. Peristiwa ini membawa oleh-oleh paling berharga, yaitu perintah shalat lima waktu. Perintah ini istimewa karena tidak diturunkan melalui malaikat, tetapi Allah SWT menyampaikannya langsung kepada Nabi Muhammad SAW.

Awalnya shalat diwajibkan 50 waktu, lalu diringankan menjadi 5 waktu, tetapi pahalanya tetap 50. Artinya apa? Allah ingin memudahkan kita. Sayangnya, yang dimudahkan justru sering kita beratkan sendiri.

Hadirin yang dirahmati Allah,
Shalat adalah sarana komunikasi langsung antara hamba dan Allah. Tidak perlu sinyal, tidak perlu paket data, tidak perlu Wi-Fi. Di mana pun kita berada, asal bersuci dan menghadap kiblat, kita bisa “menghadap” Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.”
(QS. Thaha: 14)

Namun kenyataannya, kita sering menunda shalat. Alasannya macam-macam. Masih sibuk, masih kerja, masih nanggung, masih asyik. Padahal kalau ada notifikasi HP bunyi, langsung kita buka. Tapi kalau azan berkumandang, kita bilang, “Nanti dulu.”

Kalau kita jujur pada diri sendiri, masalahnya bukan tidak sempat, tapi kurang niat. Untuk hal dunia, kita selalu punya waktu. Nongkrong bisa lama, scroll media sosial bisa berjam-jam, tapi shalat lima menit terasa berat.

Padahal shalat punya manfaat besar dalam hidup kita. Allah SWT berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabut: 45)

Kalau shalat kita masih belum mencegah perbuatan buruk, mungkin bukan shalatnya yang salah, tapi cara kita menjalankannya. Shalat masih dianggap rutinitas, belum menjadi kebutuhan.

Hadirin yang berbahagia,
Isra Mi’raj juga terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW sedang menghadapi cobaan berat. Beliau kehilangan paman dan istri tercinta, yang dikenal sebagai ‘Amul Huzn-tahun kesedihan. Dari sini kita belajar bahwa shalat adalah penguat hati di saat sulit.

Kalau hidup terasa berat, jangan jauh dari shalat. Kalau masalah terasa rumit, jangan tinggalkan shalat. Karena shalat bukan membuat kita kehilangan waktu, justru menyelamatkan hidup kita. Mari kita jadikan peringatan Isra Mi’raj ini sebagai momentum untuk memperbaiki shalat kita. Bukan hanya tepat waktu, tapi juga lebih khusyuk dan lebih sadar maknanya. Jangan sampai Nabi naik ke langit demi membawa perintah shalat, sementara kita malas melangkah ke masjid yang jaraknya dekat.

Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang menjaga shalat, mencintai shalat, dan menjadikan shalat sebagai kebutuhan hidup.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Itulah beberapa kumpulan contoh ceramah tentang Isra Miraj yang bisa menjadi referensi. Semoga bermanfaat ya, infoers!

Ceramah tentang Isra Miraj Singkat

1. Hikmah Isra Miraj Nabi Muhammad SAW

2. Isra Miraj: Ujian Keimanan dan Bukti Kekuasaan Allah SWT

3. Hikmah Isra Miraj: Menjadikan Salat sebagai Kebutuhan Hidup

4. Isra Mi’raj: Ujian Keimanan dan Bukti Kebesaran Allah

5. Isra Mi’raj: Menjadikan Shalat sebagai Kebutuhan Hidup

Contoh Ceramah tentang Isra Miraj Panjang

1. Perjalanan Nabi Muhammad SAW dan Perintah Salat Lima Waktu

2. Makna Agung dan Pelajaran Kehidupan dari Peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW

3. Menumbuhkan Kedekatan dengan Allah Melalui Shalat dalam Peristiwa Isra Mi’raj

Teks Ceramah Isra Miraj Lucu

1. Perjalanan Agung, Jangan Sampai Shalatnya Malah Tertinggal

2. Isra Mi’raj: Perjalanan Kilat Nabi, Tapi Shalat Kita Kok Masih Sering Telat?

3. Shalat Itu Oleh-Oleh Isra Mi’raj, Kok Masih Sering Kita Lupa?

4. Naik ke Langit Cuma Semalam, ke Masjid Kok Masih Banyak Alasan