3 Khutbah Jumat tentang Isra Miraj Terbaru yang Penuh Makna dan Hikmah - Giok4D

Posted on

Khutbah Jumat menjadi salah satu sarana bagi umat Islam untuk mengambil pelajaran hidup sekaligus memperkuat iman. Melalui khutbah, pesan-pesan agama disampaikan secara langsung kepada jamaah yang hadir di masjid.

Pada tahun 2026, peringatan Isra Miraj jatuh tepat pada hari Jumat, 16 Januari, menjadikannya waktu yang sangat tepat untuk mengangkat peristiwa agung ini dalam khutbah. Momentum ini dapat digunakan untuk menekankan nilai-nilai spiritual, keteladanan Nabi Muhammad SAW, serta pentingnya sholat dan akhlak mulia.

Khutbah tentang Isra Miraj tidak hanya membahas perjalanan Nabi secara historis, tetapi juga menyampaikan pelajaran yang relevan bagi kehidupan sehari-hari. Mulai dari disiplin dalam ibadah, kesabaran menghadapi ujian, hingga menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.

Bagi infoers yang bertindak sebagai khatib, artikel ini menyajikan khutbah Jumat tentang Isra Miraj terbaru yang dapat dijadikan referensi. Yuk, simak selengkpanya!

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلىَ عَبْدِهِ الْكِتَابَ تَبْصِرَةً لِأُوْلِي الْأَلْبَابِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ رَبُّ الْأَرْبَابِ، الَّذِي خَضَعَتْ لِعَظَمَتِهِ الرِّقَابُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلىَ خَيْرِ أُمَّةٍ بِأَفْضَلِ كِتَابٍ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْأَنْجَابِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْأَحْبَابُ، إِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْوَهَّابِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Segala puji hanya milik Allah ta’ala, Zat Yang terus melimpahkan karunia-Nya kepada kita semua tanpa henti. Nikmat iman, kesehatan dan kedamaian yang senantiasa menyelimuti kita adalah bukti kasih sayang-Nya yang tiada tara. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, sang pembawa risalah kebenaran dan suri teladan sepanjang zaman.

Selanjutnya, sebagai khatib yang diberi amanah untuk menyampaikan khutbah di atas mimbar yang mulia ini, perkenankan saya untuk mengajak diri sendiri dan seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan kualitas takwa kita kepada Allah SWT. Mari kita rawat dan tingkatkan ketakwaan itu dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu dengan menjalankan seluruh perintah Allah dengan penuh keikhlasan serta menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh kesadaran dan kehati-hatian.

Ketakwaan tidak hanya ucapan di lisan, tetapi juga harus tercermin dalam perilaku, pilihan, dan tanggung jawab kita sehari-hari. Dengan takwa, maka hati akan menjadi tenang, langkah hidup menjadi terarah, dan pertolongan Allah senantiasa dekat dalam setiap keadaan.

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Pada kesempatan yang mulia ini, mari kita bersama-sama merenungkan salah satu peristiwa agung dalam sejarah Islam yang terjadi pada bulan Rajab, yaitu peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad. Peristiwa ini tidak hanya sebatas sejarah biasa, tetapi perjalanan spiritual yang penuh dengan hikmah dan pelajaran berharga bagi kita semua. Allah ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

Artinya: “Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Al-Isra’: 1)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam kitab Tafsir Al-Qur’anil Azhim, jilid 5, halaman 43, setiap ayat yang diawali dengan lafal tasbih (subahana) sebagaimana awal ayat ini, menjadi isyarat agung bahwa peristiwa yang akan diceritakan sesudahnya merupakan sesuatu yang sangat luar biasa dan melampaui nalar akal manusia.

Selain itu, Allah menyebut Nabi Muhammad dalam ayat ini dengan sebutan “abdihi” (hamba-Nya), bukan rasul-Nya atau nabi-Nya. Ini karena derajat penghambaan lebih tinggi dan lebih mulia daripada derajat kerasulan. Sebab, status penghambaan itu muncul dari seorang hamba kepada Allah ta’ala, sementara status rasul muncul dari Allah dan ditunjukkan kepada hamba-Nya. Ibnu Katsir berkata:

مَقَامُ الْعُبُودِيَّةِ أَشْرَفُ مِنْ مَقَامِ الرِّسَالَةِ لِكَوْنِ الْعِبَادَةِ تَصْدُرُ مِنَ الْخَلْقِ إِلَى الْحَقِّ وَالرِّسَالَةِ مِنَ الْحَقِّ إِلَى الْخَلْقِ

Artinya: “Derajat penghambaan (ubudiyah) itu lebih mulia daripada derajat kerasulan (risalah), karena ibadah muncul dari makhluk kepada Allah (Al-Haq), sedangkan risalah itu dari Allah kepada makhluk.”

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Peristiwa Isra Mi’raj merupakan perjalanan spiritual yang penuh hikmah di dalamnya. Namun mari kita renungkan bersama, bahwa sebelum Allah memperjalankan rasul-Nya ini, terdapat berbagai bentuk ujian dan penderitaan yang sangat berat dari kaum Quraisy yang datang menghampiri Rasulullah.

Cacian, penolakan, dan kekerasan terus ada dalam perjalanan dakwahnya. Bahkan, salah satu ujian yang paling menyakitkan adalah ketika beliau pergi ke Thaif dengan harapan akan mendapatkan sambutan dan dukungan, namun justru diusir dan dilempari batu, hingga tubuhnya terluka dan berdarah.

Tidak hanya itu, kesedihan Rasulullah semakin bertambah ketika pamannya yang bernama Abu Thalib yang senantiasa mendukung dan melindunginya dari gangguan kaum Quraisy wafat. Selang dua bulan kemudian, istri tercintanya yang bernama Khadijah juga berpulang ke Rahmatullah.

Dalam kondisi yang sangat lemah itu, Rasulullah kemudian menampakkan puncak penghambaan dirinya kepada Allah, dengan berdoa penuh kerendahan hati, mengadukan kelemahan dirinya, memohon pertolongan, dan menyerahkan sepenuhnya keadaan beliau kepada Allah SWT. Dan seketika itu, datanglah penghormatan agung dari Allah swt melalui peristiwa Isra dan Mi’raj.

Penjelasan ini sebagaimana disampaikan oleh Syekh Muhammmad Said Ramadhan al-Buthi, dalam kitab Fiqhus Sirah an-Nabawiyyah Ma’a Mujizin li Tarikhil Khilafah ar-Rasyidah, halaman 13, ia mengatakan:

فَجَاءَتْ ضِيَافَةُ الْإِسْرَاءِ وَالْمِعْرَاجِ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ تَكْرِيمًا مِنَ اللَّهِ لَهُ وَتَجْدِيدًا لِعَزِيمَتِهِ وَثَبَاتِهِ، ثُمَّ جَاءَتْ دَلِيلًا عَلَى أَنَّ هَذَا الَّذِي يُلَاقِيهِ عَلَيْهِ مِنْ قَوْمِهِ لَيْسَ بِسَبَبِ أَنَّ اللَّهَ قَدْ تَخَلَّى عَنْهُ، أَوْ أَنَّهُ قَدْ غَضِبَ عَلَيْهِ، وَإِنَّمَا هِيَ سُنَّةُ اللَّهِ مَعَ مُحِبِّيهِ وَمَحْبُوبِيهِ. وَهِيَ سُنَّةُ الدَّعْوَةِ الْإِسْلَامِيَّةِ فِي كُلِّ عَصْرٍ وَزَمَانٍ

Artinya: “Maka datanglah undangan Isra dan Mi’raj setelah itu sebagai penghormatan dari Allah kepadanya, dan sebagai pembaharuan bagi tekad dan keteguhannya. Kemudian datanglah sebagai bukti bahwa apa yang dialami olehnya (Nabi Muhammad) dari kaumnya bukanlah karena Allah telah meninggalkannya, atau karena Allah telah murka kepadanya, tetapi sesungguhnya itu adalah sunnatullah yang berlaku bagi orang-orang yang mencintai dan dicintai-Nya. Dan itu adalah sunnah dakwah Islam di setiap zaman dan waktu.”

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Dari peristiwa agung ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa jalan penghambaan dan dakwah tidak pernah lepas dari ujian. Justru, semakin tinggi kedudukan seseorang di sisi Allah, semakin berat pula ujian yang harus ia lalui. Rasulullah telah memberi teladan nyata bahwa segala ujian hidup bukanlah tanda kebencian Allah, melainkan sering kali merupakan tanda cinta dari-Nya.

Isra dan Mi’raj mengajarkan kepada kita bahwa setelah kesabaran yang panjang, Allah menghadirkan pertolongan-Nya dengan cara yang tidak disangka-sangka. Setelah manusia menyakiti dan menolak, Allah sendiri yang memuliakan dan menenangkan hati kekasih-Nya. Inilah sunnatullah yang harus kita Yakini, bahwa kesulitan tidak pernah datang sendirian, tetapi selalu membawa harapan dan rahmat di dalamnya.

Oleh sebab itu, ketika kita menghadapi ujian hidup berupa kegagalan atau penolakan, janganlah kita berputus asa. Jadikanlah penghambaan kepada Allah sebagai sandaran utama. Perbanyak doa, perkuat sujud, dan perkokoh kesabaran. Sebab pertolongan Allah akan senantiasa datang kepada mereka yang paling jujur dalam penghambaan.

Demikianlah khutbah Jumat perihal peristiwa Isra Mi’raj sebagai pelajaran agung tentang ujian, penghambaan, dan anugerah kemuliaan dari Allah ta’ala. Semoga khutbah ini menambah keimanan, menguatkan kesabaran, serta meneguhkan hati kita untuk senantiasa istiqamah dalam penghambaan kepada-Nya. Dan semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang dicintai dan dimuliakan-Nya. Amin ya rabbal alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ . أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِلَهُ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيبُهُ وَخَلِيلُهُ ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ، الْمَبْعُوثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ اللَّهُمَّ صَلَّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِينَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُورِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيعِ الْمَأْمُورَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلَّمُوا تَسْلِيماً

اللَّهُمَّ صَلَّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ

Oleh: Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.

Sumber: Laman NU Online

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَنَا بِشَهْرِ رَجَبَ، وَهُوَ الَّذِي اصْطَفَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُجْتَبَى الْمُؤَيَّدَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِي قَائِلَهَا يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا وَلَدٌ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمَبْعُوثُ إِلَى سَائِرِ الْأَعَاجِمِ وَالْعَرَبِ اللَّهُمَّ صَلَّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْمَآبِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. فَقَالَ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ : أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ: سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. وَقَالَ تَعَالَى: حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

Hadirin Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah,

Mengawali khutbah pada siang hari yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian. Marilah kita senantiasa berupaya meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Ketakwaan tersebut hendaknya diwujudkan dalam amal perbuatan yang nyata, yaitu dengan imtitsalu awamirillahi ta’ala wajtinabi nawahih, atau melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Sebab, kebahagiaan hidup di dunia dan kebahagiaan di akhirat yang merupakan dambaan setiap insan tidak akan pernah dapat diraih kecuali dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya pada Surat Yunus ayat 63 sampai 64.

الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63) لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah. Demikian itulah kemenangan yang agung.”

Hadirin Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah,

Sebagaimana telah maklum bagi kita semua, salah satu peristiwa besar dan bersejarah yang terjadi pada bulan Rajab adalah peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW, yang menurut mayoritas ulama terjadi pada malam tanggal dua puluh tujuh bulan Rajab. Dalam perjalanan yang sangat istimewa tersebut, Rasulullah SAW mengalami berbagai peristiwa luar biasa. Dan pada puncaknya, beliau SAW berkesempatan menghadap dan bermunajat secara langsung kepada Allah SWT, Tuhan seluruh alam semesta.

Pada peristiwa itulah terjadi momen yang sangat krusial dalam sejarah Islam, yaitu diturunkannya perintah Shalat. Oleh karena itu, Shalat menempati kedudukan yang sangat istimewa di antara seluruh bentuk ibadah. Berbeda dengan kewajiban-kewajiban lainnya yang diturunkan Allah SWT melalui perantara Malaikat Jibril. Puasa, misalnya, diwajibkan melalui firman Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah ayat 183 dengan perantaraan Malaikat Jibril. Demikian pula kewajiban zakat, haji, dan berbagai ketentuan syariat lainnya, semuanya disampaikan melalui perantaraan Malaikat Jibril.

Adapun kewajiban Shalat, Allah SWT memanggil langsung Baginda Nabi Muhammad SAW untuk menghadap kepada-Nya, tanpa perantara, guna menerima perintah Shalat lima waktu. Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dalam kitab Fathul Bari jilid 7 halaman 216 menjelaskan:

وَفِي اخْتِصَاصِ فَرْضِيَّتِهَا بِلَيْلَةِ الإِسْرَاءِ إِشَارَةٌ إِلَى عَظِيمِ شَأْنِهَا، وَلِذَلِكَ اخْتُصَّ فَرْضُهَا بِكَوْنِهِ بِغَيْرِ وَاسِطَةٍ، بَلْ بِمُرَاجَعَاتٍ تَعَدَّدَتْ

Artinya: “Kewajiban Shalat yang secara khusus ditetapkan pada malam Isra dan Mi’raj menunjukkan betapa agung dan mulianya kedudukan Shalat. Oleh karena itu, kewajibannya ditetapkan tanpa perantara malaikat, bahkan melalui beberapa kali dialog yang berulang.”

Hadirin Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah,

Shalat merupakan ibadah yang paling mulia. Ia bukan sekadar rangkaian gerakan dan bacaan, melainkan sarana komunikasi langsung antara seorang hamba dengan Tuhannya. Ketika seorang mukmin menunaikan Shalat, pada hakikatnya ia sedang berdiri menghadap Allah SWT, bermunajat dengan kalam-Nya, serta menyerahkan seluruh urusan hidupnya hanya kepada-Nya. Oleh sebab itu, Shalat sering disebut sebagai Mi’rajnya orang-orang beriman.

Dalam kitab Tafsir Al-Wasith juz 2 halaman 1080, Syekh Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan:

أَمَّا الصَّلَاةُ فَهِيَ مِعْرَاجُ الْمُؤْمِنِ، وَصِلَةُ الْوَصْلِ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالِاسْتِمْتَاعُ بِالتَّوَجُّهِ نَحْوَ الذَّاتِ الْعَلِيَّةِ فِي أَوْقَاتٍ مُنْتَظِمَةٍ

Artinya: “Adapun Shalat, maka ia adalah mi’rajnya orang beriman, penghubung antara seorang hamba dengan Allah SWT, serta sarana menikmati kelezatan beribadah dengan menghadapkan diri kepada Zat Yang Mahatinggi pada waktu-waktu yang telah ditentukan.”

Oleh karena itu, ketika melaksanakan Shalat, kita dituntut untuk benar-benar menghayati setiap bacaan dan gerakan yang kita lakukan. Pada saat itu, sesungguhnya kita sedang berhadapan dan bermunajat kepada Allah SWT, sebagaimana Rasulullah SAW bermunajat dan berkomunikasi langsung dengan Allah SWT pada peristiwa Mi’raj.

Dalam sebuah hadis qudsi, Allah SWT menegaskan bahwa Shalat adalah media dialog antara Allah dan hamba-Nya. Ketika seorang hamba membaca Surah Al-Fatihah dalam Shalat, Allah SWT menjawab setiap ayat yang dibacanya.

Ketika hamba membaca:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Allah SWT berfirman: “Hamba-Ku telah memuji-Ku.”

Ketika membaca:

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah SWT berfirman: “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.”

Ketika membaca:

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Allah SWT berfirman: “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.”

Ketika membaca:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Allah SWT berfirman: “Ini adalah antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia mohonkan.”

Dan ketika membaca:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ. صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Allah SWT berfirman: “Ini adalah milik hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.” (HR Muslim)

Hadirin Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah,

Demikianlah khutbah singkat yang dapat khatib sampaikan pada kesempatan yang mulia ini. Semoga kita semua senantiasa diberikan hidayah dan kekuatan oleh Allah SWT untuk terus memperbaiki dan meningkatkan kualitas Shalat kita. Aamiin, aamiin ya Rabbal ‘alamin.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، سَيِّدُ الْإِنْسِ وَالْبَشَرِ اللَّهُمَّ صَلَّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، مَا اتَّصَلَتْ عَيْنُ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ اتَّقُوا اللَّهَ فِيمَا أَمَرَ ، وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللهُمَّ صَلَّ وَ سَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّد وَ عَلَى آل سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَ سَلَّمْتَ وَ بَارَكْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيم وعلى آل سيدنا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ سَادَاتِنَا أَبِي بَكْرٍ وعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ والتَّابِعِينَ وَتَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ الْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُحِيبُ الدَّعْوَاتِ وَ قَاضِي الْحَاجَاتِ. رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْلَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ رَبَّنَا لَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبَنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ. رَبَّنَا هَبْلَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللَّهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدُكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Oleh: Muhammad Zainul Mujahid, Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, kini mengabdi di Pondok Pesantren Manhalul Ma’arif Lombok Tengah.

Sumber: Situs NU Online

Sumber: Giok4D, portal informasi terpercaya.

Khutbah I

الحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدَ الشَّاكِرِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِلَهُ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ خِيَرَةُ الْمُخْتَرِينَ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِينَ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا
الحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
:قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّدِقُوْنَ

Ma’asyiral hadirin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya sekaligus menjauhi larangan-Nya. Hanya dengan itulah kita akan selamat di dunia fana maupun akhirat abadi.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Isra Mi’raj merupakan mukjizat supranatural yang melampaui batas akal manusia: Nabi Muhammad SAW menempuh ribuan kilometer dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dalam semalam, bahkan naik ke langit tujuh, melewati alam mulk, alam jabarut, alam malakut, alam gaib, hingga alam izzah-dimensi yang tak sanggup dipahami oleh logika empirik kita.

Dalam hadits riwayat ‘Aisyah RA, ketika Nabi SAW telah menyelesaikan perjalanan Isra Mi’raj, keesokan harinya kabarnya menyebar luas di Madinah. Sebagian mukmin langsung beriman penuh, tetapi ada pula yang ragu hingga murtad karena merasa mustahil manusia bisa bepergian sejauh itu dalam semalam. Mereka mendatangi Abu Bakar Ash-Shiddiq RA dan berkata, “Wahai Abu Bakar, bagaimana pendapatmu tentang sahabatmu yang mengaku diisra’kan dalam waktu semalam ke Baitul Maqdis?”

Abu Bakar menjawab dengan penuh keyakinan, “Dia benar-benar mengatakan itu?” Mereka pun menjawab, “Ya.” Lantas Abu Bakar berkata tegas, “Jika dia mengatakan demikian, maka sungguh dia telah berkata benar.”

Mereka bertanya lagi, “Apakah engkau benar-benar mempercayainya, bahwa dia pergi dalam semalam ke Baitul Maqdis dan kembali sebelum subuh?” Jawaban Abu Bakar ternyata di luar dugaan, mencerminkan kedalaman iman siddiqiyyah:

نَعَمْ، إِنَّنِي لَأُصَدِّقُهُ فِيمَا هُوَ أَبْعَدُ مِنْ ذَلِكَ

Artinya: “Ya, aku percaya. Bahkan hal yang lebih mustahil daripada itu sekalipun, aku mempercayainya.”

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Sungguh keimanan Abu Bakar tidak ada yang dapat menandinginya. Dalam sebuah riwayat disebutkan:

لَوْ وَزِنَ إِيمَانُ أَبِي بَكْرٍ بِإِيمَانِ أَهْلِ الْأَرْضِ لَرَجَّحَتْ كَفَّةُ أَبِي بَكْرٍ

Artinya: “Seandainya keimanan Abu Bakar ditimbang dengan keimanan penduduk bumi, maka timbangan beliau lebih berat.”

Dari penjelasan di atas, ibrah mendalam yang dapat kita ambil adalah: mari napak tilas jejak Abu Bakar. Jadikan bulan Rajab sebagai momen sakral untuk memperkuat keimanan kita kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, agar tak tergoyahkan oleh keraguan modern.

Kini Nabi telah tiada dan kita tidak hidup di zamannya. Maka pedoman abadi kita adalah warisannya: Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang menjamin keselamatan hingga tujuan akhirat. Sebagaimana sabda Nabi SAW:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا مَا تَعْتَصِمْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ رَسُولِهِ

Artinya: “Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR Malik)

Mari kuatkan iman kita sebagaimana Abu Bakar yang tak tergoyahkan oleh keraguan akal. Jadikan Al-Qur’an dan Hadits sebagai kompas hidup yang tetap, panduan pasti melewati lautan dunia yang fana menuju pelabuhan akhirat yang abadi dan mulia.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِلُزُوْمِ اْلجَمَاعَةِ، وَنَهَانَا عَنِ اْلاِخْتِلَافِ وَالتَّفَرُّقَةِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ هُدَاةِ الْأُمَّةِ، أَمَّا بَعْدُ.

فَيَا أَيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ.
وَقَالَ اللهُ تَعَالَى: أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ،
إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، وَارْزُقْنَا وَإِيَّاهُمْ زِيَادَةَ التَّقْوَى وَالْإِيْمَانِ.

اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوءَ الْفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيسِيَّا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ،
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ.
يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Oleh: Muhammad Shodiq Ma’mun, S Sos

Sumber: Laman NU Banyumas

Itulah 3 contoh khutbah Jumat terbaru tentang Isra Miraj. Smeoga membantu ya, infoers! Khutbah Jumat #1: Ujian dan Penghambaan hingga Anugerah Kemuliaan

Khutbah Jumat #1: Ujian dan Penghambaan hingga Anugerah Kemuliaan

Khutbah Jumat #2: Peringatan Isra Mi’raj sebagai Momentum Memperbaiki Kualitas Shalat

Khutbah Jumat #3: Isra Mi’raj dan Pelajaran Keimanan dari Abu Bakar