Momentum peringatan Isra Miraj tersebut kerap diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan, salah satunya adalah ceramah sebagai sarana penyampaian hikmah. Maka itu, perlu menyusun teks ceramah Isra Miraj yang menarik agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh jamaah.
Ceramah yang singkat dan diselipi humor ringan akan membuat suasana lebih hidup tanpa mengurangi nilai spiritual dari peringatan Isra Miraj. Didukung dengan penyampaian yang sederhana dan komunikatif, jemaah dapat memahami makna perjalanan agung Rasulullah SAW secara lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ceramah menggunakan pendekatan ini juga efektif untuk menjaga perhatian audiens dari awal hingga akhir ceramah.
Nah bagi infoers yang mencari referensi dalam menyusun materi, berikut kumpulan contoh teks ceramah Isra Miraj yang singkat, lucu, dan mudah dipahami. Yuk simak selengkapnya!
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, manusia pilihan yang hidupnya penuh perjuangan, tapi hatinya selalu lapang-bahkan saat kita saja baru kehabisan kuota sudah panik.
Jemaah yang dirahmati Allah,
Isra Miraj bukan sekadar kisah spektakuler, tapi peristiwa yang Allah sendiri abadikan dalam Al-Qur’an.
Allah berfirman dalam QS. Al-Isra ayat 1:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَىٰ
“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa…”
Perhatikan Jemaah, Allah membuka ayat ini dengan kata “Subhānallāh”. Artinya, sebelum kita bertanya “masuk akal atau tidak?”, Allah sudah menjawab: ini urusan kekuasaan-Ku.
Isra Miraj terjadi setelah ‘Aamul Huzn-tahun kesedihan.
Pada saat itu, Nabi kehilangan istrinya, Khadijah RA dan pamannya, Abu Thalib. Dakwah juga ditolak, bahkan ia disakiti.
Melalui peristiwa ini kita diajarkan satu hal penting bahwa Allah mengangkat hamba-Nya justru saat dunia terasa menjatuhkan.
Kalau hari ini hidup terasa berat, jangan buru-buru suuzan.
Mungkin Allah sedang menyiapkan “kenaikan”, hanya saja bukan naik ke langit-tapi naik kelas kesabaran.
Jemaah yang dirahmati Allah,
Puncak Isra Miraj bukan bertemu para nabi, bukan melihat surga dan neraka saja, tapi diterimanya perintah salat.
Dalam hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi SAW menerima perintah 50 waktu salat, lalu diringankan menjadi 5 waktu, namun pahalanya tetap 50.
Dalam hadis qudsi Allah berfirman:
“Keputusan-Ku tidak berubah. Lima waktu salat itu bernilai lima puluh.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya apa?
Allah tidak sedang membebani, tapi memberi hadiah. Sayangnya, hadiah ini sering kita tolak dengan alasan:
“Nanti dulu”
“Masih sibuk”
“Lagi capek”
Padahal capek hidup justru karena jarang salat.
Jemaah yang dirahmati Allah,
Ulama mengatakan:
“Ash-salatu mi’rājul mu’min”
Salat adalah Miraj-nya orang beriman. Kalau Nabi naik ke langit untuk bertemu Allah, kita cukup salat-tidak perlu Buraq, tidak perlu visa langit.
Makanya Allah berfirman dalam QS. Al-‘Ankabut ayat 45:
“Sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
Kalau salat kita belum mencegah maksiat, mungkin yang kurang bukan jumlahnya-tapi kekhusyukannya.
Jemaah yang dirahmati Allah,
Banyak orang Quraisy menertawakan Nabi.
Tapi Abu Bakar RA berkata:
“Jika Muhammad yang mengatakannya, aku percaya.”
Iman itu bukan soal logika dulu, tapi kepercayaan kepada Rasul.Kalau kita bisa percaya rating online tanpa ketemu penjualnya, masa ke Nabi masih ragu?
Jemaah sekalian,
Isra Miraj mengajarkan kita bahwa:
Semoga peringatan Isra Miraj ini tidak berhenti di cerita, tapi benar-benar menghidupkan salat dalam hidup kita.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang masih memberi kita nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat sehat-karena tanpa nikmat sehat, duduk lama sedikit saja sudah mulai gelisah, apalagi dengar ceramah.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, teladan terbaik sepanjang zaman.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Pada hari ini kita memperingati peristiwa besar dalam Islam, yaitu Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Sebuah peristiwa yang luar biasa, karena terjadi dalam satu malam. Kalau kita, mau bepergian sedikit saja sudah banyak persiapannya. Nabi SAW? Tidak perlu tiket, tidak perlu paspor, apalagi check-in online-karena yang mengundang langsung adalah Allah SWT.
Isra Mi’raj adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu dilanjutkan naik ke langit menghadap Allah SWT. Tapi yang sering kita lupa, peristiwa besar ini terjadi bukan saat hidup Nabi sedang enak-enaknya. Justru sebaliknya, Nabi SAW sedang berada di masa paling berat dalam hidupnya.
Hadirin sekalian,
Sebelum Isra Mi’raj, Nabi Muhammad SAW kehilangan Khadijah RA, istri tercinta yang selalu mendukung dakwah beliau. Tidak lama kemudian, Abu Thalib pun wafat. Dukungan berkurang, tekanan bertambah. Kalau kita di posisi itu, mungkin sudah bilang, “Ya Allah, saya butuh libur dulu.” Tapi Nabi SAW tidak berhenti berdakwah. Beliau tetap melangkah, meskipun hatinya sedang sangat terluka.
Allah SWT mengingatkan kita melalui firman-Nya:
{وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمْ الْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُمْ مُؤْمِنِينَ}
“Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan pula bersedih hati, karena kamulah yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang yang beriman.”
(QS. Ali Imran: 139)
Ayat ini seperti berkata kepada kita,
“Capek itu manusiawi, tapi berhenti berjuang itu bukan ciri orang beriman.”
Hadirin yang berbahagia,
Dari Isra Mi’raj kita belajar satu hal penting: Allah tidak pernah menyia-nyiakan kesabaran hamba-Nya. Setelah Nabi SAW melewati masa paling berat, Allah memberi hadiah yang luar biasa. Bukan harta, bukan jabatan, tapi salat. Oleh-oleh dari langit untuk umat Nabi Muhammad SAW.
Uniknya, hadiah ini sering kita anggap beban. Kita bilang, “Aduh, sudah masuk waktu salat.” Padahal kalau dipikir-pikir, yang bikin hidup berat itu sering kali bukan karena kebanyakan salat, tapi karena jarang salat.
Salat itu bukan untuk menambah capek, tapi untuk mengurangi capek hidup. Masalahnya, kita kadang datang ke salat sambil membawa semua urusan dunia-tapi pulangnya masih membawa beban yang sama, karena salatnya terlalu terburu-buru.
Allah SWT berfirman:
{إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}
“Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”
(QS. Al-An’am: 162)
Ayat ini mengajarkan kita tentang keikhlasan. Hidup ini bukan soal siapa yang paling sibuk, tapi soal untuk siapa kesibukan itu dijalani. Nabi SAW memberi contoh, bahwa ketika hidup diniatkan karena Allah, beban terasa lebih ringan-meskipun masalah tetap ada.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Isra Mi’raj juga mengajarkan kita bahwa kedekatan dengan Allah tidak menunggu hidup rapi dulu. Justru saat hidup berantakan, di situlah kita paling butuh mendekat. Jangan menunggu tenang baru salat, karena sering kali tenang itu datang setelah salat.
Mari kita bercermin. Nabi SAW diuji dengan ujian besar, tapi ketaatannya tidak berkurang. Kita diuji dengan rasa malas, kadang hujan sedikit saja sudah jadi alasan tidak ke masjid. Mudah-mudahan setelah peringatan Isra Mi’raj ini, langkah kita ke arah kebaikan menjadi lebih ringan-meskipun masih pelan-pelan, yang penting terus bergerak.
Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang tetap teguh saat diuji, ikhlas dalam beramal, dan menjadikan salat sebagai tempat kita bersandar, bukan sekadar rutinitas yang dikejar di akhir waktu.
Amin ya Rabbal ‘alamin.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم}، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللهُ العَظِيمُ
Hadirin rahimakumullah,
Alhamdulillah, pada malam/hari yang penuh berkah ini kita masih diberi kesempatan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk berkumpul memperingati peristiwa besar: Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dan alhamdulillah juga, kita bisa hadir tanpa perlu pasang alarm lima kali, tanpa perlu diingatkan malaikat lewat notifikasi. Karena jujur saja, hadirin…
bangun untuk Isra’ Mi’raj setahun sekali saja sudah terasa berat, apalagi bangun salat Subuh setiap hari.
Nah, justru di situlah pesan besarnya.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Isra’ Mi’raj adalah perjalanan luar biasa. Nabi Muhammad diperjalankan oleh Allah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu naik sampai Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 1:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ…
Artinya: Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha…
Hadirin, ini perjalanan malam.
Kalau sekarang ada yang bilang, “Itu tidak masuk akal,”
ingat baik-baik…
yang berangkat itu Nabi, yang mengundang itu Allah. Kalau Allah sudah berkehendak, jarak jauh itu cuma formalitas.
Dalam hadits Shahih Bukhari diceritakan, sebelum berangkat, hati Nabi dibersihkan terlebih dahulu. Bukan bajunya, bukan kendaraannya-tapi hatinya.
Ini sindiran halus buat kita. Kadang kita mau salat, tapi hati masih penuh: penuh notifikasi, penuh chat belum dibalas, penuh utang, penuh pikiran cicilan. Pantes saja khusyuknya sering hilang di rakaat pertama.
Perjalanan Nabi berlanjut menembus langit demi langit. Di setiap langit, Nabi bertemu para nabi: Nabi Adam, Nabi Isa, Nabi Musa, Nabi Ibrahim.
Bayangkan hadirin…
kalau kita bertemu orang penting saja sudah grogi, ini Nabi Muhammad bertemu para nabi senior,
dan semuanya menyambut dengan penuh hormat.
Sampailah Nabi pada peristiwa paling penting bagi kita semua: perintah salat. Awalnya, Allah mewajibkan 50 kali salat sehari semalam. Kalau aturan ini masih berlaku sampai sekarang, mungkin sebagian dari kita sudah niat hijrah…
Tapi hijrahnya bukan ke masjid, melainkan ke gunung, biar tidak ketemu siapa-siapa.
Di sinilah Nabi Muhammad menunjukkan cintanya kepada umat. Bukan minta harta, bukan minta kekuasaan, tapi minta keringanan untuk kita.
Bolak-balik menghadap Allah, hingga akhirnya Allah menetapkan salat lima waktu, dengan pahala tetap seperti lima puluh.
Artinya apa hadirin?
Allah sudah kasih diskon besar-besaran. Ibadah lima, pahala lima puluh. Masalahnya sekarang yang lima ini saja kadang masih kita cicil.
Subuh sering kesiangan, Dzuhur “nanti dulu”, Ashar “masih sibuk”, Maghrib “bentar lagi”, Isya “ketiduran”. Padahal salat inilah oleh-oleh terbesar Isra’ Mi’raj.
Hadirin rahimakumullah,
Keesokan harinya Nabi menyampaikan peristiwa Isra’ Mi’raj ini kepada kaum Quraisy. Banyak yang tidak percaya. Bahkan ada yang imannya goyah. Namun Abu Bakar langsung berkata:
“Jika Muhammad yang mengatakannya, aku percaya.”
Tanpa debat. Tanpa tanya logika. Karena bagi Abu Bakar, iman bukan soal masuk akal atau tidak, tapi soal percaya atau tidak kepada Allah dan Rasul-Nya.
Dari Isra’ Mi’raj, ada beberapa pelajaran penting:
Hadirin rahimakumullah,
Isra’ Mi’raj bukan hanya cerita naik ke langit, tapi peringatan keras agar kita tidak malas menghadap Allah di bumi.
Karena jujur saja, yang paling berat dari Isra’ Mi’raj bukan perjalanannya, tapi menjaga salat lima waktu setelah mengetahuinya.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang istiqamah.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم}، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللهُ العَظِيمُ
Puji syukur kepada Allah yang telah memperjalankan Nabi Muhammad dari Mekkah ke Palestina, lalu ke langit tujuh, terus ke Sidratul Muntaha, dan balik lagi ke Mekkah hanya dalam satu malam. Kalau kita sekarang, perjalanan sejauh itu mungkin baru sampai tahap “packing” baju atau masih debat pilih hotel di Traveloka. Tapi bagi Allah, itu semua kun fayakun.
Shalawat serta salam semoga tercurah pada Baginda Nabi Muhammad SAW. Nabi yang sangat cinta pada kita. Buktinya? Nanti kita bahas di bagian “diskon rakaat”.
Hadirin sekalian
Peristiwa Isra Mi’raj ini termaktub jelas dalam QS. Al-Isra ayat 1:
“Subhaanal ladzii asraa bi’abdihii lailan minal masjidil haraami ilal masjidil aqsha…”
Kenapa dimulai dengan kata Subhaan (Maha Suci)? Karena peristiwa ini di luar nalar. Zaman dulu, Abu Jahal tertawa menghina Nabi. Kata Abu Jahal, “Mana mungkin semalam sampai Palestina? Saya saja naik unta sampai wasir gak sampai-sampai!”
Nah, Abu Jahal ini adalah “kakek moyang” dari netizen yang suka nyinyir tanpa tabayyun. Mereka lupa, yang menjalankan itu Allah. Kalau saya bilang HP saya bisa kirim pesan ke Amerika dalam satu info, orang zaman dulu pasti bilang saya pakai sihir. Tapi sekarang? Itu hal biasa karena ada teknologinya. Masa kita percaya teknologi buatan manusia, tapi nggak percaya “teknologi” buatan Allah?
Hadirin sekalian
Rasulullah SAW melakukan perjalan yang cukup jauh dalam Waktu yang singkat dengan menunggangi Buraq, Kendaraan “Super Sonic” yang diciptakan oleh Allah SWT. Dalam hadits riwayat Imam Muslim:
“Ataytu bil buraaq wa huwa daabbatun abyadh thawiil… yadha’u hafirahu ‘inda muntaha tharfihi.”
Artinya: Buraq itu hewan putih panjang… sekali melangkah sejauh mata memandang.
Bayangkan, Bapak-Ibu. Sekali langkah sejauh mata memandang. Kalau kita mata normal bisa melihat gunung dari jarak 50 km, berarti sekali langkah Buraq itu 50 km. Itu baru satu langkah. Nggak perlu ganti oli, nggak perlu takut tilang elektronik, dan yang pasti nggak kena macet di tanjakan.
Hikmahnya apa? Kalau kita mau cepat sampai ke ridho Allah, kendaraannya bukan mobil mewah, tapi Iman. Mobil mewah paling mentok sampai garasi, tapi iman bisa sampai ke Arsy.
Hadirin sekalian
Allah SWT memberikan kesempatan kepada Rasulullah SAW untuk bertemu para Nabi terdahulu di langit. Rasulullah SAW, bertemu dengan Nabi Adam, Nabi Yusuf yang gantengnya luar biasa (kalau Nabi Yusuf lewat, mungkin ibu-ibu di sini lupa cara kedip), sampai ketemu Nabi Musa.
Di sinilah terjadi peristiwa “tawar-menawar paling bersejarah”. Allah perintahkan salat 50 waktu. Namun, Nabi Musa berkata kepada Rasulullah: “Umatmu nggak bakal kuat, saya sudah coba di Bani Israil, mereka angkat tangan!”
Nabi Muhammad balik lagi, minta diskon. Turun jadi 45, balik lagi turun jadi 40, sampai akhirnya sisa 5 waktu. Bayangkan kalau Nabi Muhammad nggak balik lagi minta diskon. Kita harus salat 50 waktu. Artinya, tiap 28 menit kita adzan. Baru mau nyuap nasi padang, Allahu Akbar. Baru mau pakai sabun pas mandi, Allahu Akbar. Kita nggak bakal sempat kerja,
kita nggak bakal sempat ghibah, hidup kita cuma isinya salat. Tapi Allah Maha Baik, lewat lobi Nabi Muhammad, salat jadi 5 waktu tapi pahalanya tetap 50.
Ini namanya “Beli 5, Dapat 50”. Diskonnya 90%! Anehnya, sudah diskon 90%, kita masih sering “ngutang” sama Allah. Ashar jam 6 sore, Subuh jam 7 pagi. Itu bukan salat, itu absen pagi!
Hadirin sekalian
Isra Mi’raj adalah bukti cinta Allah kepada Nabi-Nya dan cinta Nabi kepada kita (dengan meminta keringanan salat). salat adalah oleh-oleh asli dari langit.
Kalau kita pulang umroh bawa kurma, itu biasa. Kalau kita pulang dari kantor bawa gaji, itu biasa. Tapi pulang dari Isra Mi’raj, Nabi bawa salat untuk menyelamatkan kita di kubur nanti.
Maka, jangan lagi jadikan salat sebagai beban. Jadikan salat sebagai “Mi’raj” kita untuk curhat langsung sama Allah tanpa perlu kuota internet.
Demikian yang dapat saya sampaikan. Kalau ada yang benar itu dari Allah, kalau ada yang salah itu murni karena saya kurang ngopi.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Alhamdulillahi wash-sholatu was-salamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa shahbihi waman waalah.
Bapak-Ibu yang ganteng-ganteng dan cantik-cantik (karena yang merasa kurang biasanya nggak datang ke pengajian), hari ini kita memperingati Isra Mi’raj. Sebuah perjalanan yang kalau di zaman sekarang mungkin namanya “Healing Level Dewa”.
Kenapa Nabi Muhammad SAW perlu healing? Karena beliau sedang di titik terendah. Ditinggal istri tercinta Siti Khadijah, ditinggal paman pelindung Abu Thalib. Tahun itu disebut Amul Huzni (Tahun Kesedihan). Allah ingin menghibur Nabi-Nya dengan cara yang paling elit: Diajak jalan-jalan melintasi galaksi.
Dalam hadits riwayat Bukhari, Nabi bersabda:
“Utitu bil Buraqi… fadhia’u hafirahu ‘inda muntaha tharfihi.” (Artinya: Aku didatangkan Buraq… ia meletakkan kakinya sejauh pandangan matanya).
Bapak-Ibu, Buraq itu kecepatannya melampaui cahaya. Kalau kita naik motor matic, mau kencang sedikit saja bautnya sudah bunyi kriet-kriet. Naik Buraq ini tenang, AC-nya alami dari langit, nggak perlu bayar tol.
Melalui peristiwa itu, Allah ingin kasih tahu, “Kalau kamu sedang sedih di bumi, ingatlah kamu punya Tuhan yang memiliki langit.” Jadi kalau kita stres cuma karena cicilan atau karena diputusin pacar, itu tandanya kita kurang piknik ke sajadah. Pikniknya Nabi itu ke Sidratul Muntaha, piknik kita cukup ke sujud waktu salat tahajud.
Pada saat Nabi naik ke Sidratul Muntaha, di sanalah Nabi melihat kebesaran Allah yang nggak bisa dijelaskan pakai kata-kata. Malaikat Jibril saja bilang, “Ya Rasulullah, aku cuma bisa sampai sini. Kalau aku maju lagi, aku hangus.”
Bayangkan, Jibril yang sayapnya ada 600 saja punya batas. Lah kita? Kadang baru baca buku satu-dua biji sudah merasa paling tahu isi surga dan neraka. Baru bisa bahasa Arab sedikit, semua orang disalah-salahkan. Padahal di atas langit ada langit.
Isra Mi’raj mengajarkan kita untuk tetap rendah hati. Semakin tinggi ilmu, harusnya semakin merasa kecil di hadapan Allah, bukan semakin merasa besar di depan tetangga.
Hadirin sekalian
Perlu kita ketahui bersama bahwa waktu salat yang diwajibkan kepada muslim saat ini adalah hasil dari negosiasi yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Dari 50 waktu jadi 5 waktu.
Ada sebuah hadits yang sering dikutip ulama: “Ash-salatu Mi’rajul Mu’minin” (salat itu adalah Mi’rajnya orang-orang beriman).
Nabi Muhammad Mi’raj secara fisik, kita Mi’raj secara ruhani lewat salat. Kalau kita punya masalah, jangan cuma bikin status di Facebook: “Duh, pusing banget hari ini.” Facebook nggak bisa kasih solusi, paling cuma dapet “Like” atau dikomen “Sabar ya say”.
Nabi mengajarkan, kalau punya masalah, langsung “Mi’raj”. Allahu Akbar! Lapor langsung ke Pusat (Allah). Nggak perlu pakai protokol, nggak perlu pakai “uang kopi” buat pelicin, langsung tembus ke Arsy.
Hadirin sekalian, ciri orang yang sukses memperingati Isra Mi’raj itu cuma satu: salatnya jadi lebih bener. Kalau sebelum peringatan Isra Mi’raj salatnya masih kayak “ayam matok jagung” (saking cepatnya), setelah ini mbok ya agak tenang. Masa menghadap Pencipta Semesta cuma 2 menit, tapi nongkrong di warung kopi bisa 2 jam? Itu namanya manajemen waktunya perlu di-service ke bengkel iman.
Semoga dengan peringatan ini, kita bukan cuma dapat makan gratis di acara ceramah, tapi dapat semangat baru untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah melalui salat 5 waktu.
Makan nasi lauknya ikan, belinya di pasar baru. Cukup sekian saya sampaikan, semoga iman kita makin baru.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
اِنَّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِىاللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَلَهُ، أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَنَبِىَّ بَعْدَهُ، اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَهُ.
أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ : يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّاقَدَّ مَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوْا اللهَ اِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ.
Hadirin rahimakumullah,
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT. yang telah memberikan kita nikmat sehat. Sholawat dan salam mari kita hadiahkan kepada Rasulullah SAW. Nabi yang membawa kita dari zaman kegelapan, zaman jahiliyah, ke zaman yang terang benderang dengan Islam. Zaman dulu itu orang disebut jahiliyah karena kalau punya anak perempuan saja malu. Kalau sekarang, zaman sudah canggih, tapi kalau “tagihan” datang kita yang pura-pura malu (tidak ada di rumah). Inilah gunanya kita mengaji, supaya mental kita tetap tangguh.
Hadirin rahimakumullah,
Secara bahasa, “Isra” itu berjalan malam. “Mi’raj” itu naik ke atas. Secara istilah, ini adalah perjalanan spiritual paling “VVIP” dalam sejarah manusia. Nabi Muhammad SAW dijemput dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Arasy menghadap Allah.
Peristiwa ini bukan karangan manusia, tapi Allah sendiri yang “update status” dalam Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 1:
سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
“Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid Al-Haram menuju ke Masjid Al-Aqsa…”
Coba perhatikan kata “Subhaana”. Kalimat ini biasanya dipakai kalau ada kejadian yang luar biasa, yang bikin kita geleng-geleng kepala. Dan perhatikan kata “Bi’abdihi” (Hamba-Nya). Nabi Muhammad itu dipanggil sebagai “hamba”. Ini sindiran buat kita. Nabi saja bangga jadi hamba Allah, lah kita kadang baru jadi atasan dikit di kantor, jalannya sudah seperti nggak napak bumi. Baru punya mobil cicilan pertama, sombongnya sudah sampai ke langit tujuh.
Hadirin rahimakumullah,
Nabi diberangkatkan saat beliau sedang sedih-sedihnya karena ditinggal Siti Khadijah dan Abu Thalib. Allah ingin menghibur Nabi. Allah utus Malaikat Jibril untuk menjemput. Tapi sebelum berangkat, Nabi “dioperasi” dulu. Dadanya dibelah, dibersihkan dari sifat buruk.
Ini pelajaran buat kita: kalau mau “naik” derajat di mata Allah, hatinya harus bersih dulu. Jangan sampai mau salat, tapi hati masih penuh “penyakit” iri dengki sama tetangga. Tetangga beli kulkas baru, kita yang kedinginan. Tetangga beli motor baru, kita yang meriang. Itu namanya hati perlu di-service rutin.
Lalu Nabi menaiki Buraq. Kendaraan yang kecepatannya luar biasa. Sekali melangkah sejauh mata memandang. Canggihnya lagi, Buraq ini tidak butuh bensin, tidak butuh ganti oli, dan yang pasti bebas dari tilang elektronik.
Selama perjalanan Nabi mampir di lima tempat:
Setiap mampir, Nabi salat dua rakaat. Ini pesan moralnya: Kalau Bapak-Ibu sedang traveling atau jalan-jalan, jangan cuma sibuk cari spot foto Instagramable. Salatnya jangan ditinggal. Masa pemandangan di foto bagus, tapi catatan amal salatnya kosong melompong?
Hadirin yang dirahmati Allah,
Sesampainya di Masjidil Aqsa, Nabi disuguhi dua gelas: isi susu dan isi arak (khamr). Nabi pilih susu. Malaikat Jibril senang, katanya Nabi pilih yang baik untuk umatnya. Bayangkan kalau Nabi pilih arak? Mungkin kita sekarang pengajian isinya bukan minum teh, tapi mabuk bareng. Alhamdulillah, Nabi kita seleranya sehat!
Setelah itu, Nabi naik ke tujuh lapis langit. Di setiap langit, Nabi ketemu “senior-seniornya”:
Hadirin rahimakumullah,
Puncaknya adalah di Sidratul Muntaha. Nabi menghadap Allah sendirian, Malaikat Jibril saja tidak ikut. Di sanalah turun perintah salat 50 waktu.
Bayangkan kalau 50 waktu itu jadi! 24 jam dibagi 50, berarti setiap 28 menit kita harus salat. Baru mau buka sarung, sudah adzan lagi. Baru mau nyuap nasi, sudah komat lagi. Kita nggak bakal sempat kerja, Isinya cuma “Allahu Akbar” sepanjang hari.
Untungnya, Nabi Musa AS kasih saran: “Balik lagi Muhammad, minta diskon! Umatmu nggak bakal kuat.” (Ini ringkasan hadits riwayat Bukhari & Muslim). Nabi kita bolak-balik sembilan kali sampai sisa 5 waktu.
Pesan lucu tapi dalemnya: Allah sudah kasih diskon 90%. Dari 50 jadi 5. Tapi lucunya, kita umatnya ini sudah dikasih diskon 90% pun, masih sering “ngemplang” sama Allah. Salat Subuh sering “didiskon” sendiri jadi jam 7 pagi karena baru bangun. Salat Isya kita tunda-tunda sampai mau Subuh. Nabi sudah “lobi” mati-matian di langit, kita yang di bumi malah malas-malasan. Padahal pahalanya tetap pahala 50 waktu. Ini namanya Mega Sale akhirat, rugi kalau nggak diambil!
Hadirin rahimakumullah,
Sebagai penutup, mari kita ambil hikmahnya. Peristiwa Isra Mi’raj ini mengajarkan kita untuk menjaga salat 5 waktu. Salat itu adalah cara kita “Mi’raj” atau curhat langsung kepada Allah. Kalau punya masalah, jangan curhat ke media sosial, curhatlah di sujud. Media sosial cuma kasih jempol, tapi Allah kasih solusi.
Semoga dengan peringatan ini, salat kita makin bener, hati kita makin bersih, dan kita semua selamat dunia akhirat.
Demikian yang dapat saya sampaikan. Yang benar dari Allah, yang salah murni karena saya kurang ngopi.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
اِنَّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِىاللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَلَهُ، أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَنَبِىَّ بَعْدَهُ، اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَهُ.
أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ : يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّاقَدَّ مَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوْا اللهَ اِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ.
Hadirin rahimakumullah,
Alhamdulillah, kita bisa berkumpul di sini dalam keadaan sehat. Karena jujur saja, di zaman sekarang sehat itu mahal. Tapi ada yang lebih mahal dari kesehatan, yaitu hidayah. Banyak orang sehat, kakinya kuat lari maraton berkilo-kilo, tapi kalau dengar adzan ke masjid yang jaraknya cuma 10 meter, rasanya kakinya langsung lumpuh mendadak. Betul apa betul?
Sholawat dan salam mari kita haturkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Nabi yang membawa kita dari zaman kegelapan menuju cahaya Islam. Zaman dulu disebut jahiliyah karena orang-orangnya belum kenal adab. Kalau sekarang, sudah kenal adab tapi kadang pura-pura lupa kalau lagi lapar atau lagi ditagih hutang.
Hadirin rahimakumullah,
Hari ini kita bicara tentang Isra Mi’raj. “Isra” itu perjalanan malam horizontal (Mekkah ke Palestina), “Mi’raj” itu perjalanan vertikal naik ke atas menghadap Sang Pencipta. Peristiwa ini bukan dongeng sebelum tidur, tapi tertulis abadi dalam Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 1:
سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنURِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
“Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam…”
Perhatikan kata “Subhaana”. Allah seolah bilang, “Eh manusia, pakai imanmu, jangan pakai logikamu saja.” Karena kalau pakai logika, mana mungkin semalam sampai? Tapi bagi Allah, semesta ini cuma seujung kuku. Nabi dipanggil bukan sebagai “Presiden” atau “Panglima”, tapi sebagai “Abdihi” (Hamba-Nya). Pangkat tertinggi kita di depan Allah itu bukan harta, tapi seberapa tulus kita jadi hamba.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Sebelum berangkat, Nabi Muhammad SAW mengalami masa sulit. Istri tercinta wafat, paman pembela wafat. Allah ingin menghibur Nabi. Maka diutuslah Malaikat Jibril. Tapi uniknya, sebelum “terbang”, Nabi dioperasi dulu. Dadanya dibelah, hatinya dicuci pakai air Zam-zam. Sifat buruk dibuang, diganti sifat baik.
Pesan moralnya buat kita: Kalau mau salat, kalau mau menghadap Allah, hatinya dicuci dulu. Jangan sampai salatnya khusyuk, tapi pas salam langsung ghibahin tetangga. “Assalamualaikum… eh tahu nggak jilbab si ibu itu warnanya nggak matching ya?”. Itu namanya hatinya belum selesai dicuci.
Lalu Nabi naik Buraq. Ini kendaraan super canggih. Kecepatannya melampaui cahaya. Dalam perjalanan, Nabi mampir di 5 tempat penting:
Di setiap tempat Nabi salat dua rakaat. Ini pelajaran bagi kita yang suka traveling: Jangan cuma sibuk cari wifi gratisan atau spot foto bagus. Ingat, di mana pun kakimu berpijak, pastikan diri mu pernah bersujud di sana. Jangan sampai album foto penuh, tapi catatan salat kosong melompong.
Hadirin rahimakumullah,
Setelah sampai di Masjidil Aqsa dan menjadi imam para Nabi, Rasulullah naik ke langit tujuh. Ini ibarat “Sidang Paripurna Langit”. Di tiap lapis, beliau bertemu para Nabi:
Sampailah Nabi di Sidratul Muntaha. Jibril berhenti, Nabi lanjut sendiri menghadap Allah. Di sanalah turun perintah salat 50 waktu.
Bayangkan Bapak-Ibu, 50 waktu! 24 jam dibagi 50, berarti setiap 28 menit kita salat. Kita baru pakai sabun pas mandi, sudah adzan lagi. Baru mau nyuap nasi, sudah komat lagi. Kita nggak bakal sempat kerja, Isinya cuma “Allahu Akbar” sepanjang hari.
Untungnya, Nabi Musa AS kasih saran: “Balik lagi Muhammad, minta diskon! Umatmu fisiknya lemah, apalagi umat akhir zaman yang kebanyakan makan mie instan dan kurang olahraga.” (Ini ringkasan riwayatnya). Nabi kita bolak-balik sampai sisa 5 waktu.
Allah sudah kasih diskon 90%. Dari 50 jadi 5. Tapi lucunya, kita umatnya ini sudah dikasih diskon 90%, masih saja sering “kurang bayar”. Subuh kesiangan, Dzuhur kerepotan, Ashar diperjalanan, Maghrib kecapekan, Isya ketiduran. Nabi sudah susah payah “negosiasi” di atas langit, masa kita yang di bumi tinggal “tap” sajadah saja masih berat? Padahal pahalanya tetap pahala 50 waktu. Ini namanya Super Mega Sale akhirat, rugi kalau nggak diambil!
Hadirin rahimakumullah,
Sebagai penutup, mari kita bawa oleh-oleh Isra Mi’raj ini ke rumah masing-masing. Oleh-olehnya bukan kurma, tapi salat. Salat adalah cara kita “telepon” langsung ke Allah tanpa operator dan tanpa kuota. Kalau punya masalah, jangan curhat ke status medsos, curhatlah di sujud terakhir. Medis sosial cuma kasih komentar, tapi Allah kasih kesabaran dan jalan keluar.
Semoga setelah pengajian ini, salat kita tidak lagi seperti “ayam matok jagung” (terburu-buru), tapi lebih tenang dan bermakna.
Demikian yang dapat saya sampaikan. Yang benar datangnya dari Allah, yang salah datangnya dari kekhilafan saya pribadi sebagai manusia biasa yang juga masih butuh diskon amal.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Assalamu’alaikum wr.wb.
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT. Karena kalau bukan karena rahmat-Nya, mungkin kita sekarang lebih milih nongkrong di depan TV atau asyik scrolling TikTok daripada duduk manis di sini. Tak lupa shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada junjungan Nabi Agung Muhammad SAW.
Jemaah yang dirahmati Allah,
Pada hari yang berbahagia ini, mari kita mengingat kembali sebuah perjalanan “super kilat” yang dilakukan Nabi kita, yaitu Isra Mi’raj. Rasulullah menempuh perjalanan ini saat keadaan beliau sedang “tidak baik-baik saja”.
Kalau bahasa anak sekarang, beliau ini lagi di fase healing. Mengapa? Karena beliau baru saja kehilangan kakek, paman, dan istri tercintanya, Siti Khadijah.
Bayangkan, dalam waktu berdekatan kehilangan orang-orang tersayang. Itu kalau kita yang ngalamin, mungkin status WhatsApp kita isinya lagu galau semua, atau malah mengurung diri di kamar sambil nangis bombay. Tapi Nabi beda. Meskipun hatinya bersedih, beliau tetap tegak dan menerima undangan “wisata langit” dari Allah dengan senang hati.
Peristiwa agung ini terjadi tanggal 27 Rajab tahun ke-11 kenabian. Dari sini kita belajar: Kalau kita lagi banyak masalah, jangan cuma lari ke gunung atau ke pantai buat healing. Larilah ke sajadah, curhat sama Allah, karena Nabi pun dijemput Allah untuk ditenangkan hatinya.
Hadirin yang berbahagia,
Dalam menjalani kehidupan, cobaan itu pasti ada. Kalau nggak mau dicoba, ya jangan hidup. Tapi sebagai orang beriman, kita jangan cepat baper (bawa perasaan) sama takdir Allah. Seringkali kita kalau dikasih ujian dikit saja, langsung protes: “Ya Allah, kenapa saya? Kenapa nggak tetangga sebelah aja yang cicilannya lebih banyak?”
Nabi Muhammad mengajarkan kita untuk sabar. Sabar itu bukan berarti diam saja kayak patung, tapi tetap berprasangka baik. Karena di balik “hujan” ujian yang kita terima, Allah pasti sudah nyiapin “pelangi” hikmah yang indah.
Allah sudah kasih kita bocoran cara menghadapi masalah dalam Surah Al-Baqarah Ayat 153:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu…”
Perhatikan, Bapak-Ibu. Sabar dulu baru salat. Kenapa? Karena kalau kita nggak sabar, salat kita nggak bakal khusyuk. Baru takbir saja sudah kepikiran: “Aduh, tadi kompor sudah dimatiin belum ya?” atau “Sandal jepit saya di luar masih ada nggak ya?”. Akhirnya salatnya bukan jadi penolong, malah jadi beban.
Jama’ah yang berbahagia,
Di perjalanan Isra Mi’raj, Allah mengobati rasa sedih Nabi dengan menunjukkan tanda-tanda kebesaran-Nya. Beliau diajak “tur” ke tempat bersejarah, ketemu nabi-nabi terdahulu-yang kalau di zaman sekarang mungkin kayak ketemu artis idola, tapi ini kelasnya Nabi. Beliau juga lihat wujud asli malaikat Jibril yang sayapnya menutupi ufuk, lihat surga yang indahnya luar biasa, dan neraka yang kalau diceritain panasnya, bikin kita mikir dua kali buat mau ghibahin tetangga lagi.
Dan puncaknya, Nabi bertemu langsung dengan Allah di Sidratul Muntaha. Oleh-olehnya apa? salat. Awalnya diminta 50 waktu, untung Nabi “negosiasi” sampai jadi 5 waktu. Bayangkan kalau tetap 50 waktu! Kita baru selesai salam salat Dhuhur, sudah adzan Ashar lagi. Baru mau nyuap nasi, sudah komat lagi. Kita nggak bakal sempat update status, isinya cuma salat terus. Tapi meskipun cuma 5 waktu, pahalanya tetap 50! Ini namanya diskon besar-besaran dari Allah, rugi kalau nggak diambil.
Hadirin sekalian,
Semoga dengan peringatan Isra Mi’raj ini, kita semua bisa ambil hikmahnya. Kalau ada masalah, jangan lari ke dukun, jangan lari ke medsos buat curhat nggak jelas. Sabarkan hati, bentangkan sajadah, dan mintalah pertolongan hanya kepada Allah. Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baiknya penolong, asalkan kita mau jadi hamba yang tahu diri untuk selalu sujud.
Demikian ceramah singkat ini. Semoga kita semua bisa menjadikan Nabi Muhammad sebagai teladan, bukan cuma di lisan tapi juga di perbuatan. Amin ya Rabbal Alamin.
Wassalamualaikum wr.wb.
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
اِنَّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِىاللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَلَهُ، أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَنَبِىَّ بَعْدَهُ، اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَهُ.
أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ : يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّاقَدَّ مَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوْا اللهَ اِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Biasanya, kalau kita merasa penat dengan pekerjaan, stres dengan urusan rumah tangga, atau “mumet” melihat saldo tabungan, kita pasti butuh yang namanya liburan atau healing. Betul? Nah, peristiwa Isra Mi’raj ini sebenarnya adalah “perjalanan pemulihan” yang Allah hadiahkan khusus untuk Rasulullah SAW.
Kondisi Nabi saat itu sedang di titik terendah. Beliau baru saja kehilangan dua “benteng” kekuatannya: Abu Thalib dan Siti Khadijah. Kalau kita di posisi itu, mungkin kita sudah collapse. Tapi Allah Maha Tahu, saat hamba-Nya sedang hancur hatinya, Allah “jemput” untuk diajak melihat keindahan alam semesta.
Jemaah yang berbahagia,
Peristiwa ini terjadi 27 Rajab tahun ke-11 Hijriah. Nabi diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra), lalu naik ke langit tujuh (Mi’raj). Kendarannya Buraq. Buraq ini bukan jet pribadi atau ojek online, tapi makhluk surga yang kecepatannya sekali langkah sejauh mata memandang. Canggihnya lagi, Buraq ini anti-macet dan nggak perlu pusing cari tempat parkir.
Dari perjalanan ini, ada satu pelajaran penting: Sabar. Nabi tetap mau berangkat menjalani perintah Allah meski sedang berduka. Ini tamparan buat kita. Kita ini kadang dikasih ujian sedikit saja, ngeluhnya sampai ke ujung langit. “Kenapa saya ya Allah? Kenapa cicilan motor saya belum lunas tapi ban-nya sudah botak?”.
Sabar itu kunci. Makanya Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah Ayat 153:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu…”
Coba perhatikan urutannya: Sabar dulu baru salat. Karena kalau kita nggak sabar, salat kita isinya bukan doa, tapi daftar belanjaan. Bibit-bibit ghibah juga muncul pas salat: “Aduh, mukena ibu di depan saya kok warnanya lebih terang dari masa depan saya ya?”. Nah, kalau sabar sudah di depan, salat kita baru bisa jadi penenang.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Nabi Muhammad SAW melihat tanda-tanda kebesaran Allah untuk mengobati kesedihannya. Beliau melihat Surga yang harumnya bikin kita nggak mau pulang ke dunia, dan melihat Neraka yang ngerinya bikin kita mikir tujuh kali kalau mau ninggalin salat lagi.
Puncaknya, Nabi bertemu Allah di Sidratul Muntaha. Oleh-olehnya adalah perintah salat. Awalnya 50 waktu. Bayangkan kalau tetap 50 waktu! Baru selesai salam salat Dhuhur, sudah adzan Ashar lagi. Baru mau nyuap nasi, sudah komat lagi. Kita nggak bakal sempat kerja, apalagi main media sosial. Isinya cuma wudhu-salat-wudhu-salat.
Beruntung Nabi kita “negosiasi” demi kita umatnya yang fisiknya mungil dan hobi rebahan ini, sampai akhirnya sisa 5 waktu. Meskipun cuma 5 waktu, pahalanya tetap 50! Ini namanya cashback 900% dari Allah. Tapi ya itu tadi, sudah dikasih diskon gede-gedean, kita masih sering “ngemplang” (lalai). Salat Subuh sering “didiskon” sendiri jadi jam 7 pagi karena alasan mendung dan bantal terlalu empuk.
Jemaah sekalian,
Semoga dengan peringatan Isra Mi’raj ini, kita makin sadar. Masalah hidup itu pasti ada, tapi kita punya Allah tempat meminta. Jangan cari dukun, jangan cari ramalan bintang, carilah sajadah. Sabarkan hati, tegakkan salat. Karena Allah itu sebaik-baiknya penolong. Kalau Allah saja bisa bawa Nabi ke langit dalam semalam, masa Allah nggak bisa selesaikan masalah kecil kita di bumi? Yang penting kita mau “mengetuk pintu-Nya” lewat salat.
Demikian ceramah singkat ini. Semoga kita bisa meneladani kesabaran Rasulullah. Yang benar dari Allah, yang lucu-lucu murni dari kekhilafan saya.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Itulah kumpulan contoh teks ceramah Isra Miraj yang singkat dan lucu serta dapat menjadi rujukan. Semoga membantu!
