Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berinteraksi dengan banyak orang-tetapi berapa banyak dari mereka yang benar-benar kita kenal? Kadang, yang tampak biasa bagi kita ternyata menyimpan kisah, iman, atau kebaikan yang luar biasa.
Hari ini, Gereja mengajak kita merenungkan sosok “Dia yang Tidak Kamu Kenal.” Seperti Yesus yang kerap muncul dalam wujud yang tak terduga, kita diingatkan untuk tidak menilai orang hanya dari penampilan atau kesan pertama.
Dengan membuka diri terhadap orang-orang di sekitar kita seperti tetangga, rekan kerja, bahkan orang asing, kita belajar melihat kasih Allah yang bekerja dalam kehidupan mereka. Renungan ini menantang kita untuk memperluas pandangan, menyingkirkan prasangka, dan menumbuhkan sikap welas asih serta kesabaran dalam setiap pertemuan.
Nah, artikel ini juga memuat informasi:
Sebelum membaca renungan harian hari ini baca terlebih dahulu sabda-sabda Tuhan lewat bacaan hari ini, antara lain:
Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak.
Sebab barangsiapa menyangkal Anak, ia juga tidak memiliki Bapa. Barangsiapa mengaku Anak, ia juga memiliki Bapa.
Dan kamu, apa yang telah kamu dengar dari mulanya, itu harus tetap tinggal di dalam kamu. Jika apa yang telah kamu dengar dari mulanya itu tetap tinggal di dalam kamu, maka kamu akan tetap tinggal di dalam Anak dan di dalam Bapa.
Dan inilah janji yang telah dijanjikan-Nya sendiri kepada kita, yaitu hidup yang kekal.
Semua itu kutulis kepadamu, yaitu mengenai orang-orang yang berusaha menyesatkan kamu.
Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu?dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta?dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.
Maka sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya.
Mazmur. Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus.
TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa.
Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita.
Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita.
Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!
Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: “Siapakah engkau?”
Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: “Aku bukan Mesias.”
Lalu mereka bertanya kepadanya: “Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?” Dan ia menjawab: “Bukan!” “Engkaukah nabi yang akan datang?” Dan ia menjawab: “Bukan!”
Maka kata mereka kepadanya: “Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?”
Jawabnya: “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya.”
Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi.
Mereka bertanya kepadanya, katanya: “Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?”
Yohanes menjawab mereka, katanya: “Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal,
yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak.”
Hal itu terjadi di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis.
“Namun, di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal,” (Yoh. 1:26b)
Pascakerusuhan Agustus 2025, Indonesia memiliki menteri keuangan baru dengan sepak terjang populis dan menjadi media daring. Ia membongkar praktek kotor institusi, memecat oknum koruptif, sidak dan menggelar perkara pengaduan masyarakat, menggelontorkan ratusan triliun ‘dana nganggur’, sampai tak gentar melawan mafia dan koruptor.
DPR dan para pakar ramai membicarakan siapa sebenarnya menkeu ‘koboi’ yang membuatnya ‘dikucilkan’ elite, tetapi mendapat tempat di hati publik. Semoga sepak terjangnya tetap konsisten dan menjadi sikap kenabian.
Serupa dengan itu, kemunculan fenomenal Yohanes yang membaptis dan membuat puluhan ribu orang bertobat membuncah pikiran para pemimpin Yahudi. Otoritas dan identitasnya dipertanyakan. Yohanes menjawab pertanyaan mereka dengan taktis menohok, “Aku bukan Mesias (ouk eimi).
Namun, di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal.” (Yoh. 1: 20.26)
Sebagai suara yang berseru-seru di padang gurun, Yohanes sadar bahwa ia hanyalah seorang pembuka jalan, bentara yang mempersiapkan kedatangan Tuhan (Yes. 40:3). Lebih dari sekedar saudara sepupu dan putra seorang tukang kayu, Yohanes mengenal betul siapa Yesus sesungguhnya, sehingga membuka tali kasut-Nya pun ia merasa tidak layak.
Sejak zaman Musa, orang Yahudi tidak berani menyebut nama Tuhan dengan tidak hormat sehingga YHWH disebut Adonai. Dia mengungguli ilah-ilah ‘bernama’ dari bangsa lain, seperti Molok, Baal, dan Zeus.
Rasul Paulus menemukan mezbah Allah yang tidak kamu kenal’ itu di kuil dewa-dewi Yunani ketika sedang di Athena. Penemuan itu digunakan Paulus untuk membungkam kritik para filsuf di mimbar Aeropagus, sehingga membuat Dionisius bertobat (Kis. 7:23).
Injil Yohanes memperkenalkan Dia yang tidak dikenal, sebagai Allah Pencipta, pemberi hidup, yang tinggal di tengah-tengah manusia. Dialah ‘Anak Tunggal Bapa’ yang memiliki kuasa penuh atas penghakiman dunia, yaitu Yesus Kristus.
Hari ini kita merayakan Pesta Santo Basilius dan Gregorius, yang gigih menentang bidaah Arianisme yang menyangkal Yesus Kristus sebagai Tuhan. Apakah kita sudah sungguh-sungguh mengenal dan mengakui Yesus, Allah yang telah menyatakan diri-Nya melalui Kitab Suci (ego eimi, Kel. 3:14) dan karya agung-Nya dalam hidup kita?
Ya Tuhan Yesus, jadikan kami seperti Yohanes Pembaptis. Ketika mulutnya meninggikan Engkau, hatinya merendahkan dirinya sendiri. Berilah kami semangat pewartaan seperti Yohanes, “Engkau harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Gerakkanlah hati dan teguhkan iman kami, bukan untuk mencari mukjizat setiap hari, tetapi untuk pertobatan dan tuntunan mendekat kepada-Mu. Amin.
Basilius Agung lahir pada tahun 329 di Kaesarea, ibukota Propinsi Kapadokia di Asia Kecil. Ia berasal dari keluarga Kristen yang saleh.
Kedua orangtuanya yaitu Basilius Tua dan Emmelia beserta neneknya Makrina Tua diakui dan dihormati Gereja sebagai orang Kudus. Demikia pula dengan Makrina Muda dan kedua adiknya: Gregorius dari Nyssa dan Petrus dari Sebaste.
Basilius dididik oleh ayahnya dan neneknya Makrina Tua. Pendidikan ini menumbuhkan iman yang kokoh dan murni dalam dirinya. Basilius kemudian melanjutkan pendidikannya di Konstantinopel dan Athena.
Di Athena, ia menjalin persahabatan dengan Gregorius dari Nazianze, teman kelasnya. Setelah menamatkan pendidikannya dengan cermelang, ia kemudian kembali ke Kaesarea dan menjadi pengajar Retorika (ILmu Pidato). Dalam waktu singkat, namanya sudah dikenal luas.
Ia bangga atas prestasi dan kemasyuran namanya dan senang dengan pujian orang. Oleh karena itu, lama kelamaan ia menjadi sombong dan cenderung mencari hormat duniawi. Namun atas pengaruh kakaknya Makrina Muda dan kedua adiknya, ia mulai tertarik pada corak hidup membiara.
Ia lalu berhenti mengajar dan berangkat ke Mesir, Palestina, Syria dan Mesopotamia untuk mempelajari corak hidup membiara. Sekembalinya dari perjalanan itu, ia bersama Petrus Sebaste adiknya, membangun suatu biara pertapaan di Pontus.
Di tempat itu, ia bertapa dan menjalani hidup yang keras bersama dengan beberapa rekannya. Aturan hidup membiara di Pontus mengikuti contoh dari Santo Pakomius dari Mesir. Kehidupan membiara yang dibangunnya merupakan bentuk kehidupan membiara yang pertama di ASia Kecil.
Oleh karena itu, Basilius digelari sebagai Bapa Perintis hidup membiara di Gereja Timur. Di Gereja Barat pengaruh Basilius dikenal melalui Santo Benediktus, pendiri ordo Benediktin dan Abbas biara Monte Kasino.
Pada tahun 370, Basilius diangkat menjadi Uskup Kaesarea, menggantikan Uskup Eusebius. Ia dikenal sebagai seorang Uskup yang berwatak tegas dan bersemangat. Kepandaian, kesucian dan kerendahan hatinya menjadikan dia tokoh panutan bagi umatnya dan uskup-uskup lain.
Selain giat membela kebenaran ajaran Kristiani terhadap serangan kaum Arian, Basilius juga memperhatikan kepentingan umatnya, terutama mereka yang miskin dan melarat. Karya sosial yang dirintisnya amat luas dan modern.
Kaum kaya yang tidak mau mempedulikan sesamanya yang miskin dan melarat, dikecamnya habis-habisan. Ia membangun sebuah rumah sakit (namanya: Basiliad) untuk menampung orang-orang sakit yang miskin.
Untuk membela dan mempertahankan ajaran iman Kristiani terhadap ajaran sesat Arianisme, Basilius menerbitkan banyak buku – buku liturgi dengan berbagai pembaharuan. Dari antara ribuan surat yang ditulisnya itu tersimpan 300 surat hingga kini.
Dari surat-surat itu kita dapat mengetahui kepribadian Basilius sebagai seorang yang mahir, pandai dan beriman. Meskipun badannya amat kurus karena hidup tapa yang keras dan penyakit, namun semangat pelayannya tak pernah pudar.
Ia pun tetap ramah dan rendah hati terhadap semua umatnya.
Basilius meninggal dunia pada tangga 1 januari 379. Ia digelari Kudus dan dihormati sebagai Pujangga Gereja.
Demikianlah renungan harian Katolik Jumat, 2 Januari 2026. Selamat tahun baru infoers!







