Renungan Harian Katolik Selasa, 13 Januari 2026, mengajak umat untuk kembali merenungkan sabda Tuhan sebagai pedoman hidup sehari-hari. Melalui bacaan Kitab Suci, umat diajak menumbuhkan iman, memperdalam pengharapan, serta belajar menghadirkan kasih Allah dalam setiap tindakan, baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun kehidupan bermasyarakat.
Membaca dan merenungkan firman Tuhan setiap hari merupakan salah satu cara umat Katolik menjaga relasi yang dekat dengan Allah. Renungan harian membantu umat memahami makna bacaan liturgi secara lebih mendalam dan relevan dengan situasi hidup yang dihadapi.
Pada hari ini, Selasa, 13 Januari 2026, bacaan-bacaan Kitab Suci kembali mengingatkan kita akan panggilan untuk setia mendengarkan sabda Tuhan dan mewujudkannya dalam sikap serta perbuatan nyata. Renungan hari ini mengambil tema “Saat Surga Bergerak, Kegelapan Gentar” oleh Yoseph dan Caroline Pandisurya.
Nah, artikel di bawah ini infoSulsel menghadirkan renungan hari ini yang meliputi:
Sebelum membaca renungan harian hari ini baca terlebih dahulu sabda-sabda Tuhan lewat bacaan hari ini, antara lain:
1Sam 1:9 Pada suatu kali, setelah mereka habis makan dan minum di Silo, berdirilah Hana, sedang imam Eli duduk di kursi dekat tiang pintu bait suci TUHAN,
1Sam 1:10 dan dengan hati pedih ia berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu.
1Sam 1:11 Kemudian bernazarlah ia, katanya: “TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya.”
1Sam 1:12 Ketika perempuan itu terus-menerus berdoa di hadapan TUHAN, maka Eli mengamat-amati mulut perempuan itu;
1Sam 1:13 dan karena Hana berkata-kata dalam hatinya dan hanya bibirnya saja bergerak-gerak, tetapi suaranya tidak kedengaran, maka Eli menyangka perempuan itu mabuk.
1Sam 1:14 Lalu kata Eli kepadanya: “Berapa lama lagi engkau berlaku sebagai orang mabuk? Lepaskanlah dirimu dari pada mabukmu.”
1Sam 1:15 Tetapi Hana menjawab: “Bukan, tuanku, aku seorang perempuan yang sangat bersusah hati; anggur ataupun minuman yang memabukkan tidak kuminum, melainkan aku mencurahkan isi hatiku di hadapan TUHAN.
1Sam 1:16 Janganlah anggap hambamu ini seorang perempuan dursila; sebab karena besarnya cemas dan sakit hati aku berbicara demikian lama.”
1Sam 1:17 Jawab Eli: “Pergilah dengan selamat, dan Allah Israel akan memberikan kepadamu apa yang engkau minta dari pada-Nya.”
1Sam 1:18 Sesudah itu berkatalah perempuan itu: “Biarlah hambamu ini mendapat belas kasihan dari padamu.” Lalu keluarlah perempuan itu, ia mau makan dan mukanya tidak muram lagi.
1Sam 1:19 Keesokan harinya bangunlah mereka itu pagi-pagi, lalu sujud menyembah di hadapan TUHAN; kemudian pulanglah mereka ke rumahnya di Rama. Ketika Elkana bersetubuh dengan Hana, isterinya, TUHAN ingat kepadanya.
1Sam 1:20 Maka setahun kemudian mengandunglah Hana dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: “Aku telah memintanya dari pada TUHAN.”
1 Samuel 2:1 Kemudian Hana berdoa, katanya, “Hatiku bersukacita di dalam TUHAN; tanduk kekuatanku ditinggikan di dalam TUHAN; mulutku mengejek musuh-musuhku, karena aku bersukacita dalam keselamatan-Mu.”
1 Samuel 2:4 Busur orang-orang perkasa patah, tetapi pinggang orang-orang yang tersandung dikuatkan dengan kekuatan.
1 Samuel 2:5 Orang yang tadinya kenyang kini menyewakan sebagian hartanya untuk makan, tetapi orang yang tadinya lapar kini beristirahat. Bahkan perempuan yang mandul melahirkan tujuh anak, tetapi perempuan yang mempunyai banyak anak akan layu.
1 Samuel 2:6 TUHAN membunuh dan menghidupkan; Ia menurunkan orang mati dan membangkitkan dari sana.
1 Samuel 2:7 TUHAN menjadikan miskin dan menjadikan kaya; Ia merendahkan dan meninggikan.
1 Samuel 2:8 Ia mengangkat orang-orang yang rendah hati dari debu, dan mengangkat orang-orang yang membutuhkan dari lumpur, untuk mendudukkan mereka bersama para pangeran, dan menjadikan mereka mewarisi takhta kehormatan. Sebab TUHANlah yang telah mendasarkan bumi, dan Ia telah menempatkan dunia di atasnya.
Mrk 1:21 Mereka tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar.
Mrk 1:22 Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.
Mrk 1:23 Pada waktu itu di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak:
Mrk 1:24 “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.”
Mrk 1:25 Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: “Diam, keluarlah dari padanya!”
Mrk 1:26 Roh jahat itu menggoncang-goncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring ia keluar dari padanya.
Mrk 1:27 Mereka semua takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya: “Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahatpun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya.”
Mrk 1:28 Lalu tersebarlah dengan cepat kabar tentang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea.
Yesus membentaknya, “Diam! Keluarlah dari dia!” (Mrk. 1:25)
Dalam perikop ini, Yesus masuk ke dalam rumah ibadat di Kapernaum dan mengajar dengan otoritas yang berbeda dari guru-guru lainnya. Otoritas-Nya bukan berasal dari jabatan atau gelar, tetapi dari kuasa Ilahi yang terpancar melalui diri-Nya.
Ketika seorang yang kerasukan roh jahat berteriak, Yesus tidak panik atau takut. Ia berdiri dengan tenang dan dengan tegas memerintahkan roh itu untuk diam dan keluar. Tanpa dialog, tanpa negosiasi, roh jahat itu taat.
Saat saya kecil, ayahlah otoritas dalam keluarga kami. Ia melarang kami bermain di halaman rumah saat hujan. Ini perintah, tidak ada kompromi. Kenapa? Karena takut tersambar petir.
Ia juga melarang kami makan enam jam sebelum Misa. Kenapa? Karena tidak sopan, begitu katanya. Apalagi, kalau di perjalanan ke gereja kami curi-curi makan/ngemil, pastilah membuat ayah marah. Ia selalu tegas dan ingin kami anak-anaknya mengubah diri menjadi baik.
Begitu juga otoritas Yesus, bukan sekadar kata-kata, tetapi kuasa yang sanggup mengubah. Dalam hidup rohani, ada saatnya kita harus tegas; bukan dengan kekuatan sendiri, tetapi dengan otoritas Yesus.
Kadang kita menghadapi keadaan yang merusak dalam hidup kita seperti kecemasan, rasa bersalah, penyakit, kekhawatiran finansial, atau konflik keluarga. Situasi-situasi itu seolah menekan dan menguasai kita, bahkan membuat kita kehilangan arah. Namun, jangan menyerah, setiap kekuatan yang merusak hidup kita pun dapat tunduk kepada otoritas-Nya.
Bagaimana otoritas-Nya bekerja dalam diri kita? Datanglah kepada Yesus dengan hati terbuka. Izinkan Dia berbicara dan menghadirkan ketenangan dalam diri kita.
Kuasa-Nya bukan hanya untuk zaman dulu; itu nyata bagi kita hari ini. Ketika Yesus hadir, kekacauan berubah menjadi ketertiban, ketakutan menjadi damai, dan kegelapan menjadi terang.
Kita mau hidup dengan sikap tegas: tidak ada ruang untuk si jahat, tidak ada kompromi bagi dosa. Kita berjalan dengan keyakinan dan ketaatan bahwa Yesus memiliki kuasa atas segala hal yang kita hadapi, dan bahwa firman-Nya sanggup membebaskan serta memulihkan hidup.
Tuhan, saat si jahat datang menggoda, mampukan kami untuk tidak bernegosiasi dengannya. Kami bawa dan sebut “dalam nama Yesus” untuk berbalik menguasai dan mengusir jauh si jahat dari kehidupan kami.Hanya Engkau yang boleh menguasai dan merajai hidup kami, karena kami adalah gambar dan citra diri-Mu sendiri. Amin.
Demikianlah renungan harian Katolik Selasa, 13 Januari 2026. Damai Tuhan beserta kita!







