Tim SAR gabungan telah menemukan black box pesawat ATR 42-500 PK-THT yang jatuh di Gunung Bulusaraung (Bulsar), Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel). Black box tersebut ditemukan dalam kondisi utuh pada ekor pesawat.
“Alhamdulillah, bentuknya utuh,” kata Asisten Operasi Kodam XIV Hasanuddin Kolonel Inf Dody Triyo Hadi kepada wartawan di Posko Operasi SAR gabungan, Desa Tompo Bulu, Kecamatan Balocci, Pangkep, Rabu (21/1/2026).
Tim SAR gabungan mulanya berhasil melacak lokasi potongan bagian ekor pesawat pada Selasa (20/1), namun tak bisa langsung dievakuasi akibat perlunya persiapan matang dalam menjangkau medan terjal dengan kedalaman 150 meter. Hingga akhirnya, tim khusus (timsus) yang dibentuk mampu menjangkau dan mengevakuasi black box tersebut pada Rabu (21/1).
“Nanti kita serahkan ke kawan-kawan dulu di KNKT untuk memastikan bentuk secara fisik dan video yang dikirimkan sudah kita konfirmasi,” imbuhnya.
Lantas, apa sebenarnya black box itu? Apa saja bagian-bagian black box, dan bagaimana cara kerjanya dalam mengungkap penyebab kecelakaan?
Simak ulasan lengkapnya berikut ini yang disadur infoSulsel dari laman resmi Indonesia.baik.id!
Black box adalah perangkat penting yang menyimpan data penerbangan. Meskipun namanya ‘black box’, benda ini sebenarnya berwarna oranye mencolok agar mudah ditemukan.
Black box terdiri dari dua komponen utama: Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR). Masing-masing memiliki fungsi khusus yang dapat membantu mengungkap penyebab kecelakaan pesawat.
Black box umumnya terletak di ekor pesawat. Penempatan ini bertujuan agar perangkat tetap terlindungi jika terjadi kecelakaan.
Dalam kasus Pesawat ATR 42-500 PK-THT, black box ditemukan dalam kondisi utuh, masih menempel pada bagian ekor pesawat.
Selain FDR dan CVR, black box juga dilengkapi pemancar. Pemancar ini akan aktif saat black box terkena air.
Pemancar pada black box didesain mampu bertahan hingga kedalaman laut 4 kilometer. Begitu teraktivasi, pemancar tersebut akan terus menerus mengirimkan sinyal per satu info selama 30 hari penuh.
Meskipun waktunya terbatas, pemancar ini dapat dideteksi dengan alat khusus bernama towed pinger locator. Alat tersebut memungkinkan black box ditemukan meski pemancarnya sudah tak aktif.
Towed pinger locator sendiri diklaim bisa mengenali black box meski di kedalaman laut hingga 20 ribu meter.
Setelah black box ditemukan, sering muncul pertanyaan mengenai berapa lama data dapat dibaca dan hasilnya diumumkan ke publik.
Waktu pembacaan data bisa bervariasi, tergantung lokasi dan fasilitas yang digunakan. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, proses ini bisa memakan waktu beberapa hari, namun ada juga kasus yang membutuhkan waktu berbulan-bulan.
Berdasarkan data infocom, pada kasus pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu pada 9 Januari 2021, FDR ditemukan pada 12 Januari, sedangkan CVR baru ditemukan akhir Maret 2021.
Hasil awal pembacaan FDR diumumkan ke publik pada Februari 2021, sementara analisis lanjutan, termasuk data dari CVR, terus berkembang hingga April 2021.
Sementara itu, pada kasus pesawat AirAsia QZ8501 yang jatuh di Selat Karimata pada 28 Desember 2014, black box baru berhasil ditemukan pada 12 Januari 2015.
Proses pembacaan data black box AirAsia QZ8501 terbilang cepat karena dilakukan di Indonesia. KNKT menyebut data berhasil diunduh pada 13 Januari, sehari setelah black box ditemukan. Namun, proses investigasi secara keseluruhan berlangsung cukup lama, dan hasil akhirnya baru diumumkan pada Desember 2015.






