Kepergian Muhammad Farhan Gunawan (26), kopilot PK-THT yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel), menyisakan duka mendalam. Keluarga ikhlas melepas kepergian Farhan meski hati bagai teriris setiap mengenang sosok pemuda yang dikenal murah senyum tersebut.
Farhan Gunawan dikebumikan di Pemakaman Darussalam Valley, Kelurahan Romangloe, Kecamatan Bontomarannu, Gowa, Minggu (25/1/2026) pagi. Pemakaman diwarnai isak tangis dari keluarga begitu jenazah Farhan dimasukkan ke liang lahad.
Kakek Farhan, Nur Husein yang mewakili keluarga menyampaikan sambutan setelah pemakaman berakhir. Ibunda Farhan duduk di dekat nisan berupaya tegar mengantarkan anaknya di tempat peristirahatan terakhir.
“Kita masih sempat diberikan kesempatan dan kesehatan untuk bersama-sama mengantarkan cucunda Farhan Gunawan yang pada saat ini kita sama-sama saksikan untuk dilakukan pemakaman jenazahnya atas peristiwa jatuhnya pesawat ATR,” ucap Nur Husein di hadapan para pelayat.
Nur Husein berterima kasih kepada tim SAR gabungan yang telah berupaya melakukan pencarian dan evakuasi terhadap seluruh korban kecelakaan pesawat. Dia mengaku keluarga sempat berharap Farhan bisa ditemukan dalam kondisi selamat.
“Harapan keluarga dari awal dengan diiringi doa, kami berharap cucunda Muhammad Farhan Gunawan akan selamat masih bisa bersama-sama kami di tengah-tengah keluarga namun demikian Allah berkehendak lain,” paparnya.
Dia menyampaikan, pihak keluarga ikhlas menerima cobaan tersebut. Nur Husein menganggap cucunya meninggal dunia dalam tugas sehingga diharapkan mendapatkan tempat terbaik di Sisi-Nya.
“Oleh karenanya saya mengajak semua kita teristimewa kepada anakku, ponakan saya, yang merupakan orang tua langsung semuanya, kita kembalikan kepada Allah Swt,” tutur Nur Husein.
“Insyaallah dengan peristiwa semacam ini alam syariat agama merupakan mati syahid dan inilah nanti insyaallah kelak di akhirat almarhum ini adalah penjemput orang tuanya nanti kelak,” tambahnya.
Dia mewakili keluarga turut meminta maaf jika Farhan memiliki kekhilafan selama hidup. Nur Husein lantas mengenang sosok cucunya yang membuat keluarga sulit melupakan Farhan Gunawan.
“Saya tahu persis cucunda itu adalah perilakunya sopan dan santun. Dia cuma banyak melempar senyum, itulah yang membuat kami keluarga ini merasa teriris hatinya kami, karena dengan perlakuannya masih jauh sudah senyum,” jelas Nur Husein.
Nur Husein berharap kebaikan Farhan menjadi catatan amal saleh di akhirat. Dia mengajak para pelayat mendoakan Farhan sebelum meninggalkan tempat peristirahatan almarhum.
“Kita tetap mengiringi doa supaya dalam perjalanannya insyaallah tidak ada hambatan, tidak ada kendala tiada hal-hal bisa menghambat nanti mendapatkan dari kedudukannya sebagai syahid,” imbuh Nur Husein.
Kakak sepupu Farhan, Ramadani mengatakan, almarhum semasa hidup memang bercita-cita menjadi pilot. Setelah hampir 3 tahun terakhir bekerja di maskapai PT Indonesia Air Transport (IAT), Farhan bisa menggapai mimpinya.
“Kalau di mata keluarga sendiri Farhan itu orangnya ceria, penuh semangat dan juga bisa dibilang berani untuk kerja mimpinya sampai sekarang bisa jadi pilot. Selain itu juga Farhan kita kenal sebagai orang yang penyayang kepada keluarga dan saudara-saudaranya dan keluarganya,” ujar Ramadani usai pemakaman.
Ramadani mengapresiasi tim SAR gabungan yang telah mengevakuasi seluruh korban pesawat ATR 42-500, termasuk Farhan. Dia menyadari upaya evakuasi tidak mudah karena medan terjal dan cuaca ekstrem di lokasi kejadian.
“Tentu bukan tugas yang mudah untuk mencari dan mengevakuasi di medan yang begitu sulit, karena itu kita sangat mengapresiasi seluruh tim yang terlibat,” imbuhnya.
Dia menambahkan, almarhum dimakamkan di Gowa atas keputusan keluarga. Hal ini mempertimbangkan lokasi yang dianggap mudah diakses bagi seluruh keluarga besar Farhan.
“Kenapa di sini (Darussalam Valley Gowa), karena domisili keluarga intinya sudah di Makassar jadi kita pilih akses yang paling gampang untuk semua keluarga,” ucap Ramadani
Perwakilan PT Indonesian Air Transport (IAT) turut hadir mengawal keluarga memakamkan Farhan di Gowa. Salah satu direksi PT IAT menyampaikan belasungkawa atas kepergian Farhan yang merupakan salah satu kru terbaik.
“Hari ini kami dengan tim dan instruktur Mas Farhan juga hadir. Mas Farhan pilot kami, kami didik oleh instruktur terbaik kami juga. Kami merasa kehilangan. Mudah-mudahan syahid bagi seluruh korban husnul khatimah,” ucap salah satu direksi PT IAT.
Farhan menjadi salah satu dari 10 korban pesawat ATR 42-500 PK-THT yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Pangkep, Sabtu (17/1). Operasi SAR dinyatakan berakhir usai seluruh korban berhasil dievakuasi secara bertahap selama 7 hari pelaksanaan pencarian dan pertolongan.
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri telah mengidentifikasi seluruh korban sesuai manifes maskapai IAT. Dari 11 kantong jenazah yang dievakuasi tim SAR, 10 di antaranya merupakan jenazah dan 1 lainnya berisi potongan tulang yang merupakan bagian tubuh salah satu korban.
“Hasil identifikasi berdasarkan pemeriksaan yang dilaksanakan oleh tim DVI, 10 korban sudah bisa diidentifikasi berdasarkan jumlah yang terdapat di manifes,” kata Kapolda Sulsel Irjen Djuhandhani Rahardjo Puro dalam konferensi pers di Biddokkes Polda Sulsel, Sabtu (24/1).
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
Berdasarkan manifes, pesawat ATR 42-500 diisi tujuh kru dan tiga penumpang. Dari tujuh kru pesawat, dua orang di antaranya merupakan Pilot Captain Andi Dahanto dan Kopilot Farhan Gunawan.
Selain itu ada Flight Operation Officer (FOO), Hariadi dan dua orang Engineer on Board (EOB) atau teknisi bernama Resti Ad dan Dwi Murdiono. Dua lainnya merupakan Flight Attendant (FA) atau pramugari bernama Florencia Lolita dan Esther Aprilita.
Sementara tiga penumpang masing-masing bernama Deden Maulana, Ferry Irawan dan Yoga Naufal. Mereka adalah pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang bertugas menjalankan misi patroli atau pengawasan kelautan via udara.
Kapusident Bareskrim Mabes Polri Brigjen Mashudi menambahkan, jenazah bisa diidentifikasi berdasarkan pemeriksaan sidik jari. Identifikasi membutuhkan ketelitian karena ada jenazah yang sidik jarinya sudah menipis.
“Jadi memang kuasa Tuhan itu memberikan kita manusia itu identitasnya dengan sidik jari. Jempol kanan, jempol kiri ataupun jari telunjuk, jari kelingking itu semuanya beda, memiliki ciri-ciri khusus bentuknya,” ujar Mashudi.
Farhan Gigih Kejar Mimpi Jadi Pilot
Seluruh Korban ATR 42-500 Teridentifikasi
Kakak sepupu Farhan, Ramadani mengatakan, almarhum semasa hidup memang bercita-cita menjadi pilot. Setelah hampir 3 tahun terakhir bekerja di maskapai PT Indonesia Air Transport (IAT), Farhan bisa menggapai mimpinya.
“Kalau di mata keluarga sendiri Farhan itu orangnya ceria, penuh semangat dan juga bisa dibilang berani untuk kerja mimpinya sampai sekarang bisa jadi pilot. Selain itu juga Farhan kita kenal sebagai orang yang penyayang kepada keluarga dan saudara-saudaranya dan keluarganya,” ujar Ramadani usai pemakaman.
Ramadani mengapresiasi tim SAR gabungan yang telah mengevakuasi seluruh korban pesawat ATR 42-500, termasuk Farhan. Dia menyadari upaya evakuasi tidak mudah karena medan terjal dan cuaca ekstrem di lokasi kejadian.
“Tentu bukan tugas yang mudah untuk mencari dan mengevakuasi di medan yang begitu sulit, karena itu kita sangat mengapresiasi seluruh tim yang terlibat,” imbuhnya.
Dia menambahkan, almarhum dimakamkan di Gowa atas keputusan keluarga. Hal ini mempertimbangkan lokasi yang dianggap mudah diakses bagi seluruh keluarga besar Farhan.
“Kenapa di sini (Darussalam Valley Gowa), karena domisili keluarga intinya sudah di Makassar jadi kita pilih akses yang paling gampang untuk semua keluarga,” ucap Ramadani
Perwakilan PT Indonesian Air Transport (IAT) turut hadir mengawal keluarga memakamkan Farhan di Gowa. Salah satu direksi PT IAT menyampaikan belasungkawa atas kepergian Farhan yang merupakan salah satu kru terbaik.
“Hari ini kami dengan tim dan instruktur Mas Farhan juga hadir. Mas Farhan pilot kami, kami didik oleh instruktur terbaik kami juga. Kami merasa kehilangan. Mudah-mudahan syahid bagi seluruh korban husnul khatimah,” ucap salah satu direksi PT IAT.
Farhan Gigih Kejar Mimpi Jadi Pilot
Farhan menjadi salah satu dari 10 korban pesawat ATR 42-500 PK-THT yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Pangkep, Sabtu (17/1). Operasi SAR dinyatakan berakhir usai seluruh korban berhasil dievakuasi secara bertahap selama 7 hari pelaksanaan pencarian dan pertolongan.
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri telah mengidentifikasi seluruh korban sesuai manifes maskapai IAT. Dari 11 kantong jenazah yang dievakuasi tim SAR, 10 di antaranya merupakan jenazah dan 1 lainnya berisi potongan tulang yang merupakan bagian tubuh salah satu korban.
“Hasil identifikasi berdasarkan pemeriksaan yang dilaksanakan oleh tim DVI, 10 korban sudah bisa diidentifikasi berdasarkan jumlah yang terdapat di manifes,” kata Kapolda Sulsel Irjen Djuhandhani Rahardjo Puro dalam konferensi pers di Biddokkes Polda Sulsel, Sabtu (24/1).
Berdasarkan manifes, pesawat ATR 42-500 diisi tujuh kru dan tiga penumpang. Dari tujuh kru pesawat, dua orang di antaranya merupakan Pilot Captain Andi Dahanto dan Kopilot Farhan Gunawan.
Selain itu ada Flight Operation Officer (FOO), Hariadi dan dua orang Engineer on Board (EOB) atau teknisi bernama Resti Ad dan Dwi Murdiono. Dua lainnya merupakan Flight Attendant (FA) atau pramugari bernama Florencia Lolita dan Esther Aprilita.
Sementara tiga penumpang masing-masing bernama Deden Maulana, Ferry Irawan dan Yoga Naufal. Mereka adalah pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang bertugas menjalankan misi patroli atau pengawasan kelautan via udara.
Kapusident Bareskrim Mabes Polri Brigjen Mashudi menambahkan, jenazah bisa diidentifikasi berdasarkan pemeriksaan sidik jari. Identifikasi membutuhkan ketelitian karena ada jenazah yang sidik jarinya sudah menipis.
“Jadi memang kuasa Tuhan itu memberikan kita manusia itu identitasnya dengan sidik jari. Jempol kanan, jempol kiri ataupun jari telunjuk, jari kelingking itu semuanya beda, memiliki ciri-ciri khusus bentuknya,” ujar Mashudi.







