Oknum dosen Institut Teknologi Habibie (ITH) Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel) berinisial RR malah melaporkan mantan istrinya berinisial MM ke polisi atas dugaan pencemaran nama baik dan pelanggaran Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). RR menduga mantan istrinya memakai akun media sosial palsu untuk menyebarkan isu dugaan pelecehan mahasiswi.
“Pokoknya mantan istri beserta akun-akun sosmed yang berafiliasi, seperti Makassar Keras, Parepare Info, Pinrang Info, Sidrap Info. Saya lapor semua itu,” ujar ungkap RR kepada infoSulsel, Selasa (27/1/2026).
RR melayangkan laporan ke Polres Parepare pada Minggu (25/1). Dia merasa kasus pelecehan mahasiswa yang diduga dilakukannya itu sebagai penghinaan dan merusak nama baiknya.
“Hari Minggu kemarin (25/1) saya melapor secara hukum, diproses mi itu. Mulai besok pemanggilan juga itu untuk saksi-saksi. Makanya itu mi, iya, masuk mi laporanku dan sudah diproses mi,” tuturnya.
“Terkait pencemaran nama baik sama penghinaan. Sama semua yang disangkakan juga tentang ini, yang pelecehan itu,” tambah RR.
Dia menuding mantan istrinya sakit hati kepada dirinya, namun RR tidak merinci permasalahan yang memicu persoalan itu. Dari problem itu, istrinya belakangan sengaja mencari-cari masalah dengan dirinya.
“Ini mantan istri yang sakit hati, makanya dia kompor-kompori semua orang-orang yang ada di kampus. Dia pakai akun anonim untuk seolah-olah mengungkap, padahal kan belum ada juga dari kampus secara resmi di Satgas,” ungkapnya.
Menurutnya, perlakuan yang diduga dilakukan mantan istrinya itu perlu pembuktian. Olehnya itu, dia melakukan upaya hukum dengan melaporkan ke polisi.
“Makanya itu harus dibuktikan dengan pembuktian yang ada. Makanya perlu secara hukum saya lapor, karena sudah keterlaluan nama saya dirusak,” katanya.
Dia juga mengaku keberatan fotonya tersebar di beberapa akun media sosial yang diduga melecehkan mahasiswi. Dengan demikian, dia juga melaporkan beberapa akun media sosial terkait pelanggaran UU ITE.
“Apalagi kan ada Undang-Undang ITE sekarang yang baru. Iya, tidak boleh memposting foto orang apalagi ada mukanya tanpa persetujuan. Itu masuk pencemaran nama baik. Makanya saya sudah masukkan di situ pasal tentang ITE,” ungkapnya.
Dia merasa dirugikan oleh sejumlah akun medsos yang menyebar isu dugaan pelecehan mahasiswi tanpa melakukan konfirmasi. Menurutnya, postingan media sosial itu termasuk pencemaran nama baik.
“Itu kan tidak boleh, pencemaran nama baik. Kan ada asas praduga tak bersalah. Kita kan harus menjunjung tinggi itu. Saya ini kasihan yang kena sanksi sosial. Saya dirugikan toh,” katanya.
RR membantah sudah melakukan pelecehan kepada beberapa mahasiswi. Dia mengungkapkan, informasi terkait pelecehan mahasiswi yang disangkakan itu semuanya tidak benar atau hoaks dan merugikan dirinya.
“Justru itu yang mau saya konfirmasi bahwa itu tidak benar, itu berita hoaks. Saya merasa tidak pernah melakukannya. Makanya saya merasa dirugikan sekali, mulai dari keluarga, profesi saya dan orang tua, hingga kampus dibawa-bawa. Rusak sekali nama saya,” jelasnya.
Dia mengaku sudah memenuhi undangan klarifikasi oleh tim Satgas ITH terkait dugaan pelecehan tersebut. RR mengaku sudah 2 kali menghadiri undangan klarifikasi oleh pihak kampus.
“Iya (diundang) untuk klarifikasi. Dan saya klarifikasi tentang itu ya memang tidak ada. Sudah, hari ini klarifikasi yang kedua. Yang pertama sudah pernah juga. Saya tetap bilang bahwa mantan istriku itu memang niatannya tidak bagus,” ujarnya.
RR mengatakan, hingga saat ini belum ada mahasiswi yang melaporkan terkait kasus dugaan pelecehan itu. Dia mempersilakan jika ada mahasiswi yang merasa jadi korban pelecehan.
“Itu makanya harus dibuktikan. Apalagi tidak ada laporan resmi (ke Satgas), harusnya dia melapor ke Satgas,” katanya.
Dia juga membantah tudingan dirinya menghubungi mahasiswi saat tengah malam. Menurutnya tudingan itu perlu dibuktikan secara hukum.
“Tidak benar. Makanya perlu diklarifikasi dan dibuktikan. Jangan sampai itu muatan untuk menghancurkan saya dan karier saya,” tegasnya.
“Kalau menurut saya, biasa mahasiswa ada yang chat malam dan saya balas. Balasannya pun normatif, tanya tugas atau diskusi. Saya membuka ruang untuk mereka diskusi, bahkan sampai larut malam tanya tugas. Itu hal biasa,” tambahnya.
Terkait dugaan ada 4 mahasiswi yang menjadi korban pelecehan itu juga ditepis. Dia menantang pihak yang merasa menjadi korban untuk menunjukkan buktinya.
“Itu tidak benar juga. Harus saya pastikan itu tidak benar. Mana buktinya? Apakah ada pelaporan? Kalau ada, ayo kita buktikan sama-sama di ranah hukum,” katanya.
Dia juga mengklaim hubungannya dengan mahasiswi di kampus itu tidak ada yang berlebihan. RR mengaku tidak tahu identitas mahasiswa yang merasa dilecehkan.
“Sesuai idealnya, sebatas mahasiswa dan dosen. Saya bahkan tidak tahu mahasiswa mana yang dimaksud karena tidak ada laporan resmi ke kampus. Kalau ada laporan, pasti kampus panggil saya,” ujarnya.
RR berharap dengan upaya hukum yang ditempuhnya itu bisa kembali memulihkan nama baiknya. Dia mengaku, dugaan pelelehan itu sudah merusak nama baiknya di kampus hingga lingkungan keluarganya.
“Saya tentu berharap nama baik saya bisa kembali dipulihkan dengan fakta yang sebenarnya. Karena rusak sekali mi nama ku di keluarga, apalagi sudah bawa-bawa kampus,” harapnya.
Selain itu, dia meminta pihak kepolisian bisa memberi efek jera kepada semua pihak yang menyebarkan informasi tidak benar. Dia berharapan para oknum pelaku itu bisa diberi sanksi.
“Yang kedua, saya harap ada efek jera bagi pelaku yang berniat merusak nama baik saya. Yang menuding saya yang melakukan hal yang belum tentu kebenarannya atau hoaks,” pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan, oknum dosen ITH Parepare, RR diduga melakukan pelecehan kepada mahasiswi. Informasi itu awalnya terungkap melalui unggahan di salah satu akun media sosial.
Pihak kampus yang menerima informasi itu, langsung merespons dengan menyampaikan klarifikasi. Pihak ITH mengaku belum pernah menerima laporan dari mahasiswa yang menjadi korban pelecehan.
“Hingga saat ini pihak institusi belum menerima laporan resmi terkait dugaan pelecehan seksual sebagaimana informasi yang berkembang di beberapa media sosial,” kata Surya dalam keterangannya yang diterima infoSulsel, Senin (26/1).
Di sisi lain, seorang mahasiswi ITH Parepare mengaku dilecehkan oknum dosen berinisial RR sejak tahun 2023. Oknum dosen itu diduga sudah melakukan aksinya kepada 4 korban mahasiswi.
“Untuk yang bisa saya pastikan sekarang adalah, bentuk pelecehan yang dilakukan terlapor yaitu pada 2023. Beliau (RR) sering sekali menghubungi mahasiswi pada jam yang tidak wajar dan juga sering menelpon di waktu tersebut,” ungkap salah seorang mahasiswi ITH Parepare yang enggan disebut namanya kepada infoSulsel, Senin (26/1).
Mahasiswi ini mengaku sudah ada 4 rekannya yang menjadi korban pelecehan oleh oknum dosen RR. Keempat korban mengaku kerap ditelepon tengah malam oleh RR.
“Sejauh ini yang mengaku dapat chat tengah malam itu ada 4 mahasiswi,” jelasnya.
Dia juga membantah tudingan dirinya menghubungi mahasiswi saat tengah malam. Menurutnya tudingan itu perlu dibuktikan secara hukum.
“Tidak benar. Makanya perlu diklarifikasi dan dibuktikan. Jangan sampai itu muatan untuk menghancurkan saya dan karier saya,” tegasnya.
“Kalau menurut saya, biasa mahasiswa ada yang chat malam dan saya balas. Balasannya pun normatif, tanya tugas atau diskusi. Saya membuka ruang untuk mereka diskusi, bahkan sampai larut malam tanya tugas. Itu hal biasa,” tambahnya.
Terkait dugaan ada 4 mahasiswi yang menjadi korban pelecehan itu juga ditepis. Dia menantang pihak yang merasa menjadi korban untuk menunjukkan buktinya.
“Itu tidak benar juga. Harus saya pastikan itu tidak benar. Mana buktinya? Apakah ada pelaporan? Kalau ada, ayo kita buktikan sama-sama di ranah hukum,” katanya.
Dia juga mengklaim hubungannya dengan mahasiswi di kampus itu tidak ada yang berlebihan. RR mengaku tidak tahu identitas mahasiswa yang merasa dilecehkan.
“Sesuai idealnya, sebatas mahasiswa dan dosen. Saya bahkan tidak tahu mahasiswa mana yang dimaksud karena tidak ada laporan resmi ke kampus. Kalau ada laporan, pasti kampus panggil saya,” ujarnya.
RR berharap dengan upaya hukum yang ditempuhnya itu bisa kembali memulihkan nama baiknya. Dia mengaku, dugaan pelelehan itu sudah merusak nama baiknya di kampus hingga lingkungan keluarganya.
“Saya tentu berharap nama baik saya bisa kembali dipulihkan dengan fakta yang sebenarnya. Karena rusak sekali mi nama ku di keluarga, apalagi sudah bawa-bawa kampus,” harapnya.
Selain itu, dia meminta pihak kepolisian bisa memberi efek jera kepada semua pihak yang menyebarkan informasi tidak benar. Dia berharapan para oknum pelaku itu bisa diberi sanksi.
“Yang kedua, saya harap ada efek jera bagi pelaku yang berniat merusak nama baik saya. Yang menuding saya yang melakukan hal yang belum tentu kebenarannya atau hoaks,” pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan, oknum dosen ITH Parepare, RR diduga melakukan pelecehan kepada mahasiswi. Informasi itu awalnya terungkap melalui unggahan di salah satu akun media sosial.
Pihak kampus yang menerima informasi itu, langsung merespons dengan menyampaikan klarifikasi. Pihak ITH mengaku belum pernah menerima laporan dari mahasiswa yang menjadi korban pelecehan.
“Hingga saat ini pihak institusi belum menerima laporan resmi terkait dugaan pelecehan seksual sebagaimana informasi yang berkembang di beberapa media sosial,” kata Surya dalam keterangannya yang diterima infoSulsel, Senin (26/1).
Di sisi lain, seorang mahasiswi ITH Parepare mengaku dilecehkan oknum dosen berinisial RR sejak tahun 2023. Oknum dosen itu diduga sudah melakukan aksinya kepada 4 korban mahasiswi.
“Untuk yang bisa saya pastikan sekarang adalah, bentuk pelecehan yang dilakukan terlapor yaitu pada 2023. Beliau (RR) sering sekali menghubungi mahasiswi pada jam yang tidak wajar dan juga sering menelpon di waktu tersebut,” ungkap salah seorang mahasiswi ITH Parepare yang enggan disebut namanya kepada infoSulsel, Senin (26/1).
Mahasiswi ini mengaku sudah ada 4 rekannya yang menjadi korban pelecehan oleh oknum dosen RR. Keempat korban mengaku kerap ditelepon tengah malam oleh RR.
“Sejauh ini yang mengaku dapat chat tengah malam itu ada 4 mahasiswi,” jelasnya.







