Aliansi Masyarakat Nusa Utara Bersatu menggelar aksi malam seribu lilin sebagai bentuk solidaritas dan tuntutan keadilan untuk mahasiswi Universitas Negeri Manado (Unima) berinisial EMM yang ditemukan tewas tergantung di kamar kosnya di Tomohon. Korban sempat meninggalkan surat dugaan tindak pelecehan yang dilakukan oknum dosen inisial DM.
Aksi tersebut berlangsung di Tugu Wolter Monginsidi dan Pierre Tendean, Kota Manado, Senin (12/1/2026). Aksi diawali dengan pemasangan lilin oleh para peserta yang disusun melingkari taman tugu.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Massa aksi kemudian berbaris di depan lilin, dilanjutkan dengan lagu pujian dan doa bersama. Perwakilan Tim Solidaritas Keadilan untuk Korban, Jull Takaliuang menyampaikan aksi ini sebagai bentuk untuk mengawal penanganan kasus ini.
“Kami akan menyampaikan apa yang menjadi penjelasan, apa yang kami dapatkan tadi ketika saya tim solidaritas keadilan untuk korban dan gerakan perempuan Sulut datang ke Polda rencananya kami memang dipanggil untuk beraudiensi dengan Kapolda,” kata Jull kepada wartawan di lokasi.
Jull menjelaskan, audiensi tersebut untuk mendengarkan langsung kronologi penyelidikan yang dilakukan oleh pihak Polda Sulut. Pihak kepolisian telah menyampaikan semua secara detail yang dilakukan saat penanganan korban dari rumah kos sampai dilakukan otopsi.
“Gerakan perempuan sulut dan aksi solidaritas ini akan terus memantau, dan mengawal yang ditangani polda sekarang ini adalah kasus kekerasan seksual jadi untuk penekanan terhadap undang-undang TPKS itu sangat penting bukan hanya KUHAP,” paparnya.
Diberitakan sebelumnya, polisi masih menyelidiki dugaan pelecehan terhadap mahasiswi Unima berinisial EMM yang nekat mengakhiri hidupnya diduga karena depresi. Sebanyak 13 saksi diperiksa polisi.
“Terkait laporan orang tua korban bahwa adanya kekerasan seksual, pelecehan dan dugaan pembunuhan, maka kami sudah lakukan penyelidikan, dimana kami sudah memeriksa 13 orang saksi,” ujar Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Sulut Kombes Suryadi pada konferensi pers di Mapolda Sulut, Senin (12/1).
Para saksi yang dimaksud diantaranya orang tua korban, teman korban, penjaga kos, Satgas PPKT Unima, BEM Unima, security dan dokter ahli. Polisi juga memeriksa oknum dosen berinisial DM yang diduga melecehkan korban.
“Terhadap terlapor tindakan kekerasan seksual atas nama DM juga kami sudah lakukan klarifikasi,” katanya.
Diketahui, korban EMM ditemukan tewas tergantung di kosnya di Kecamatan Tomohon Tengah pada Selasa (30/12/2025). Korban meninggalkan surat yang ditujukan kepada Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Unima, Aldjon Dapa.
Surat itu berisi keterangan perihal pengaduan dugaan tindak pelecehan yang dilakukan oknum dosen DM. Namun Aldjon Dapa mengklaim belum pernah menerima surat dari korban yang viral di media sosial tersebut.
“Surat yang beredar tiga halaman tertanggal 16 Desember, perlu saya tegaskan kembali bahwa surat itu tak pernah sampai ke saya, dan sampai saat ini pun kami sedang melacak di mana surat fisik itu,” kata Aldjon Dapa kepada wartawan, Rabu (31/12/2025).
Namun Aldjon membenarkan korban sebelumnya sempat melapor dan laporannya ditindaklanjuti Satgas PPKPT Unima. Laporan dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oknum dosen sudah ditindaklanjuti.
“Tanggal 19 Desember korban melapor ke tim satgas, di situ langsung dibuatkan dokumen berita acara dan penjelasan kronologi kejadian,” jelasnya.
Para saksi yang dimaksud diantaranya orang tua korban, teman korban, penjaga kos, Satgas PPKT Unima, BEM Unima, security dan dokter ahli. Polisi juga memeriksa oknum dosen berinisial DM yang diduga melecehkan korban.
“Terhadap terlapor tindakan kekerasan seksual atas nama DM juga kami sudah lakukan klarifikasi,” katanya.
Diketahui, korban EMM ditemukan tewas tergantung di kosnya di Kecamatan Tomohon Tengah pada Selasa (30/12/2025). Korban meninggalkan surat yang ditujukan kepada Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Unima, Aldjon Dapa.
Surat itu berisi keterangan perihal pengaduan dugaan tindak pelecehan yang dilakukan oknum dosen DM. Namun Aldjon Dapa mengklaim belum pernah menerima surat dari korban yang viral di media sosial tersebut.
“Surat yang beredar tiga halaman tertanggal 16 Desember, perlu saya tegaskan kembali bahwa surat itu tak pernah sampai ke saya, dan sampai saat ini pun kami sedang melacak di mana surat fisik itu,” kata Aldjon Dapa kepada wartawan, Rabu (31/12/2025).
Namun Aldjon membenarkan korban sebelumnya sempat melapor dan laporannya ditindaklanjuti Satgas PPKPT Unima. Laporan dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oknum dosen sudah ditindaklanjuti.
“Tanggal 19 Desember korban melapor ke tim satgas, di situ langsung dibuatkan dokumen berita acara dan penjelasan kronologi kejadian,” jelasnya.







