Bagi umat Katolik, renungan harian adalah cara untuk meperdalam relasi pribadi dengan Allah. Melalui renungan ini, umat diajak untuk merenungkan sabda Tuhan secara lebih personal, menanggapi panggilan-Nya, serta membawanya ke dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan kalender liturgi 2025 yang disusun oleh Komisi Liturgi KWI, Minggu, 30 November 2025 gereja sudah memasuki masa Adven I. Adapun bacaan yang menjadi perenungan minggu ini adalah Yes. 2:1-5; Mzm. 122:1-2,4-5,6-7,8-9, Rm. 13:11-14a, dan Mat. 24:37-44.
Renungan Katolik 30 November 2025 mengangkat tema “Berjaga-jagalah!” dikutip dari buku Renungan Tiga Titik oleh C Hudianto. Nah, artikel ini juga memuat informasi:
Yuk, disimak!
Sebelum membaca renungan harian hari ini baca terlebih dahulu sabda-sabda Tuhan lewat bacaan hari ini, antara lain:
Firman yang dinyatakan kepada Yesaya bin Amos tentang Yehuda dan Yerusalem.
Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung tempat rumah TUHAN akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana,
dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: “Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem.”
Ia akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa dan akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa; maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang.
Hai kaum keturunan Yakub, mari kita berjalan di dalam terang TUHAN!
Hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya.
Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang!
Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati.
Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.
“Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.
Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera,
dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.
Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan;
kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.
Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.
Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.
Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.”
Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. (Mat. 24:40-42)
Bacaan Injil hari ini berkisah mengenai wejangan Yesus di Bukit Zaitun bagi para murid. Isi wejangan-Nya terkait akhir zaman.
Hari kedatangan Anak Manusia sudah dekat, tetapi tidak diketahui harinya. Maka, perlu berjaga-jaga dan siap sedia.
Secara harafiah berarti waspada. Berjaga-jaga bermakna menjaga hidup sebagai pelaku firman-Nya dengan bertindak benar di hadapan Tuhan. Mampu menangkal godaan iblis berupa kedagingan.
“Matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi.” (Kol. 3:5a).
Ajaran Yesus untuk berjaga-jaga disampaikan melalui perumpamaan tentang tindakan memilih salah satu dari dua laki-laki dan dari dua perempuan yang sedang melakukan pekerjaan yang sama di ladang dan di rumah (Mat. 24:40-42), memberi pesan bahwa semua manusia akan dihadapkan dengan akhir zaman sebagai momen tuaian. Ada yang siap akan kedatangan Anak Manusia yang akan membawa ke surga, namun ada yang tidak siap.
Carlo Acutis baru berusia 15 tahun saat ia sakit dan tak lama kemudian dipanggil Tuhan. Sembilan belas tahun kemudian, pada September lalu Paus Leo XIV di Vatikan memberi kanonisasi alias gelar Santo kepada Carlo Acutis.
Ia dikenal sebagai anak milenial sejati, dengan kegemaran bermain computer games. Namun, ia juga menjalani kehidupan rohani yang luar biasa serta memiliki sikap belarasa yang tinggi.
Ia mendapat julukan God’s Influencer. Pada usia 10 tahun ia membuat katalog berupa website “Mukjizat Ekaristi”. Ini adalah bentuk pewartaan iman.
Carlo Acutis sangat mencintai Sakramen Ekaristi. Setiap hari ia ikut Misa. Ia pernah mengatakan: “Semakin sering kita menyambut Ekaristi, semakin kita menjadi seperti Yesus dan semakin kita merasakan surga.”
Carlo juga meyakini bahwa semua orang lahir sebagai orisinil, tapi banyak yang mati sebagai fotocopi. Paus Fransiskus menyebut Carlo sebagai contoh kekudusan remaja di zaman now.
Maka, mari meneladani kehidupan berjaga-jaga seperti yang dilakukan Carlo Acutis. Selalu mengikuti kehendak-Nya, menerima konsekuensi sebagai murid-Nya dan melawan nafsu daging. Maka, “Apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan.” (1Ptr. 5:4)
Allah Bapa Yang Maha Rahim, kami bersyukur atas talenta yang Engkau percayakan kepada kami. Teguhkanlah iman dan pengharapan kami dengan kuasa Roh-Mu, untuk selalu tekun dan taat berjaga dalam berkarya bersama-Mu, dengan mengandalkan Engkau sebagai sumber keselamatan kekal. Amin.
Andreas, salah seorang dari keduabelas Rasul Yesus, Tuhan kita. Mulanya ia berguru pada Yohanes Pembaptis; tetapi kemudian ia bersama seorang kawannya mengikuti dan menjadi murid Yesus, segera setelah Yohanes mengarahkan perhatian murid-muridnya kepada Yesus dengan menyebutNya “Anak Domba Allah” yang dinantikan Israel (Yoh 1:36-42).
Saudara Simon Petrus ini adalah nelayan kelahiran Betsaida, sebuah kota di tepi danau Genesaret (Mrk 6:45; Yoh 1:44; 12:21). Ayahnya Yohanes (Yona) adalah juga seorang nelayan di Kapernaum, sebuah kota yang letaknya 4 km sebelah barat muara Yordan pada danau Genesaret.
Andreas-lah yang membawa Simon saudaranya (yang kemudian disebut Yesus ‘Petrus’, Si Batu Karang) kepada Yesus. Bersama Yakobus dan Yohanes (anak-anak Zebedeus).
Andreas dan Simon adalah murid-murid Yesus yang pertama. Ketika beberapa orang Yunani mau bertemu dengan Yesus, Andreas-lah yang membawa mereka kepada Yesus dan menyampaikan maksud mereka itu kepadaNya. Karena keutamaannya ini, Santo Beda menjuluki dia “Pengantar kepada Kristus.
Andreas memainkan suatu peran yang penting di dalam peristiwa-peristiwa kehidupan Yesus. Ia hadir pada saat Yesus mengadakan mujizat perbanyakan roti kepada lima ribu orang; bahkan justru dialah yang memberitahukan kepada Yesus perihal anak lelaki kecil yang membawa lima ketul roti dan dua ekor ikan itu (Yoh 6:5-9). Ia juga ada di antara empat orang rasul yang mempertanyakan kepada Yesus perihal tibanya hari akhirat (Mrk 13:3, 4).
Setelah Yesus naik ke surga, Andreas ada di antara rasul-rasul lainnya di ruang atas untuk menantikan turunnya Roh Kudus yang dijanjikan Yesus. Konon, ia kemudian mewartakan Injil di Scytia dan Yunani, dan kemudian menurut tradisi (yang agak diragukan), ia pergi ke Byzantium, di mana ia mengangkat Stachys menjadi Uskup setempat.
Di mana, kapan, dan bagaimana Andreas wafat kurang diketahui jelas. Namun seturut tradisi, ia wafat di Patras, Acaia, digantung pada sebuah salib yang berbentuk huruf “X” (silang).
Ia bergantung di salib itu selama 2 hari, dan selama itu ia terus berkotbah kepada khalayak yang datang menyaksikannya. Ia tidak dipakukan melainkan diikat saja pada salib itu, sehingga lebih lama ia menderita sebelum menghembuskan nafasnya.
Salib ini kemudian dinamakan orang “Salib Santo Andreas”. Pada masa pemerintahan Kaisar Konstansius II, salib relikui Andreas itu dipindahkan dari Patras ke gereja para Rasul di Konstantinopel.
Sesudah kota itu rusak oleh Perang Salib pada tahun 1204, maka salib itu dicuri dan kemudian disimpan di katedral Amalfi di Italia. Kurang jelas apakah ia pernah berkotbah di Rusia dan Skotlandia seperti yang dikatakan oleh tradisi. Yang jelas ialah bahwa ia dijadikan pelindung kedua negara itu.
Itulah renungan harian Katolik Minggu, 30 November 2025. Semoga bermanfaat!
Renungan Harian Katolik Hari Ini 30 November 2025
Bacaan I: Yes. 2:1-5
Mazmur Tanggapan: Mzm. 122:1-2,4-5,6-7,8-9
Bacaan II: Rm. 13:11-14a
Bait Pengantar Injil: Mzm 85:8
Bacaan Injil: Mat. 24:37-44
Renungan Hari Ini: Berjaga-jagalah!
Doa Penutup
Kisah Santo Andreas, Rasul









