Bupati Bone Andi Asman Sulaiman menemui Wali Kota Magelang Damar Prasetyono untuk membahas pengelolaan sampah terpadu dari hulu hingga hilir. Pemerintah Kabupaten Bone mencari solusi konkret dan berkelanjutan dalam menangani sampah.
Pertemuan itu berlangsung di Balai Kota Magelang, Jawa Tengah (Jateng) pada Senin (5/1). Andi Asman menilai Magelang dapat menjadi contoh dalam hal pengelolaan sampah karena berhasil menekan volume sampah hingga ke tempat pembuangan akhir (TPA), serta pengaplikasian tempat pengolahan sampah Reduce (Pengurangan), Reuse (Penggunaan Kembali), dan Recycle (Daur Ulang).
“Kami ingin belajar langsung bagaimana Kota Magelang mengelola sampah secara terintegrasi. Mulai dari pemilahan di tingkat masyarakat, pengolahan di TPS dan TPA, hingga pemanfaatan sampah menjadi nilai ekonomi,” ujar Andi Asman kepada infoSulsel, Selasa (6/1/2026).
Dia menyampaikan bahwa persoalan sampah menjadi tantangan serius yang harus ditangani dengan pendekatan terintegrasi dan berorientasi jangka panjang. Pemkab Bone menilai perlu belajar dari daerah yang telah lebih dulu berhasil mengelola sampah secara sistematis.
“Kami datang ke Kota Magelang untuk belajar langsung. Pengelolaan sampah tidak bisa hanya berakhir di TPA, tetapi harus dimulai dari sumbernya, dari rumah tangga hingga ke proses pengolahan akhir yang memberi nilai tambah,” sebutnya.
Andi Asman menambahkan, pengelolaan sampah yang baik tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan. Tetapi juga dapat menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat jika dikelola secara tepat.
“Ini bukan hanya soal lingkungan bersih. Tapi ini juga bagaimana sampah bisa menjadi peluang ekonomi dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, Wali Kota Magelang Damar Prasetyono menyambut baik kunjungan tersebut dan memaparkan berbagai inovasi yang telah diterapkan, termasuk penguatan bank sampah. Kemudian edukasi masyarakat, pengolahan sampah organik dan anorganik, serta pemanfaatan teknologi ramah lingkungan.
“Ketika keluarga terbiasa memilah sampah, maka proses pengelolaan di tingkat kota menjadi lebih mudah dan bernilai. Bank sampah bukan hanya tempat menampung, tetapi juga sumber ekonomi warga,” ucapnya.
Damar menilai kesadaran masyarakat dalam memilah sampah organik dan anorganik merupakan langkah awal yang krusial untuk menekan volume sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Apalagi, capaian pengelolaan sampah di Kota Magelang telah mencapai 94,84 persen, yang menunjukkan keseriusan pemerintah dan masyarakat dalam menjaga lingkungan.
“Adapun sisa 5,16 persen yang belum terkelola menjadi tantangan berikutnya agar semua limbah dapat dimanfaatkan secara optimal,” imbuhnya.
Selain bank sampah tutur Damar, Pemerintah Kota Magelang juga terus mengembangkan berbagai program berbasis masyarakat, seperti kampung organik, kampung iklim, sekolah Adiwiyata, dan kampung mandiri sampah. Upaya tersebut disertai edukasi lingkungan di sekolah serta pelatihan bagi masyarakat agar kesadaran mengelola sampah tumbuh sejak dini.
“Pengelolaan sampah yang baik berhubungan langsung dengan sanitasi dan kesehatan masyarakat. Lingkungan yang bersih menciptakan warga yang sehat dan berdaya,” tegasnya.







