Warga Kelurahan Katimbang, Kecamatan Biringkanaya, Kota , Sulawesi Selatan (Sulsel), mengeluhkan rumahnya menjadi langganan banjir. Rumah warga di BTN Kodam III rawan terendam banjir ketika dilanda hujan deras.
“Itu kalau daerah di situ setiap tahun, selama saya tinggal di Kodam sudah 20 tahun lebih. Setiap tahun tiap-tiap tahun mengungsi, tidak pernah tidak,” kata warga Naomiati kepada infoSulsel, Senin (12/1/2026).
Naomiati kini mengungsi di kantor Kelurahan Katimbang Makassar sejak banjir yang dipicu hujan deras terjadi pada Sabtu (10/1). Dia turut membawa menantu dan cucunya ke lokasi pengungsian.
“Kemarin itu tingginya setinggi paha tapi kemarin, (tetapi) tahun kemarin yang 2025 itu begini (menunjuk batas setinggi perut). Kalau di rumah itu setinggi dada karena di dalam dekat sungai,” paparnya.
Naomiati mengaku malas membeli perabotan baru di rumahnya karena khawatir kembali terdampak banjir. Sejumlah fasilitas rumah tangganya bahkan dilaporkan rusak.
“Jangan mi dicerita, iye (rusak). Setiap tahun itu di rumah tidak pernah beli itu, beli ini karena ditahu mi daerah,” imbuh Naomiati.
Menurut dia, banjir tahunan yang menerjang Kelurahan Katimbang dipicu meluapnya air sungai ketika hujan. Luapan sungai justru terperangkap masuk ke permukiman karena tidak ada jalur air representatif menuju laut.
“Itu maksudnya sebenarnya solusinya (air di alirkan) ke laut, itu airnya ke laut, itu kita bebas banjir. Harapannya masyarakat di Kodam begitu (airnya langsung ke laut),” tambahnya.
Dia mengaku kondisi ini sudah kerap dilaporkan kepada wali kota Makassar maupun gubernur Sulsel setiap banjir. Namun solusi penanganan banjir tidak kunjung tertangani.
“Seandainya pemerintah ada solusinya itu maksudnya jalan (air) dari Maros ke langsung di laut, itu bebas banjir. Tiap tahun tidak pernah tidak (kena banjir), langganan kita,” ucap Naomiati.
Sementara pengungsi banjir lainnya, Darmiati mengaku pasrah rumahnya di BTN Kodam III juga kerap dilanda banjir tiap tahun. Dia hanya berharap ada perbaikan agar problem tersebut berakhir.
“Dinikmati saja, ka mau diapai, sudah begitu mi Allah yang mau. Semoga ke depannya bisa diperbaiki toh tapi namanya musibah toh setidaknya bisa mencegah,” ucap Darmiati saat ditemui di lokasi pengungsian.
Darmiati kini mengungsi di SDN Paccerakang Makassar bersama suami dan seorang anaknya. Dia mengaku baru meninggalkan rumahnya untuk mengungsi pada Minggu (11/1).
“Baru satu hari (mengungsi), baru kemarin. Saya (tinggal) di Kodam III, malamnya naik waktu malam minggu, hari Sabtu (10/1) mulai mi ada air. Hari Jumat (9/1) itu full memang mi got karena hujan terus,” tuturnya.
Dia masih sempat mengamankan barang-barang di rumah sebelum ke lokasi pengungsian. Namun banjir tiap tahun kerap merusak perabot rumah tangganya.
“Iye (barang) dikasih naik semua baru pergi ki mengungsi, semua dikasih naik (ke tempat tinggi) baru dimatikan lampu toh. Waktu banjir besar banyak rusak barang, terendam,” jelas Darmiati.
Sebelumnya diberitakan, banjir melanda di wilayah Kodam, Kelurahan Katimbang, Kecamatan Biringkanaya, pada Sabtu (10/1) sore. Banjir dipicu hujan deras hingga turut mengakibatkan Sungai Biring Je’ne meluap.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Makassar melaporkan sebanyak 356 warga mengungsi akibat banjir di Kecamatan Biringkanaya. Ratusan pengungsi tersebut diamankan di lima titik lokasi pengungsian.
“Adapun data pengungsi sementara sebagai berikut jumlah pengungsi 97 kepala keluarga (KK) dan jumlah jiwa 356 jiwa,” kata Kepala BPBD Makassar Fadli Tahar dalam keterangannya, Minggu (11/1).
