Reski (20) dan Muslimin (18) masih tidak menyangka pendakian perdananya di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel), seketika mendebarkan. Mereka menyaksikan langsung info-info jatuhnya Pesawat ATR 42-500.
Reski mengaku kaget pengalamannya ke puncak ini justru menyaksikan insiden nahas jatuhnya Pesawat ATR 42-500. Muslimin bahkan mengira apa yang ia lihat hanyalah mimpi.
“Baru pertama kali di Bulsar (Bulusaraung). Temanku saja na bilang kayak mimpi na rasa. Kaget begitu. (Temanku) langsung reflek na tarik. Temanku baru juga ke Bulsar,” ujar Reski kepada infoSulsel, Minggu (18/10/2026).
Reski menuturkan, kejadian bermula ketika dirinya bersama Muslimin baru saja sampai di puncak pada Sabtu (17/1) sekitar pukul 12.30 Wita. Kebetulan saat itu, hanya ada mereka berdua di puncak, sementara pendaki lain masih di jalur pendakian.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
“Kejadian kurang lebih jam satu, kalau bukan setengah satu,” kata Reski.
Saat itu, kondisi cuaca di puncak memang sedang kurang bersahabat. Kabut dan angin kencang menghantam puncak saat mereka tiba sehingga sempat mencari perlindungan.
Belakangan saat dia dan temannya duduk-duduk santai di puncak, terdengar suara pesawat yang melintas dari jauh. Suara itu pun perlahan semakin mendekat hingga dirinya mereka mengira itu pesawat yang melintas di atas puncak Gunung Bulusaraung.
“Saya duduk-duduk sama temanku di atas puncak. Baru ada suara pesawat dari jauh. Tidak ditahu bilang arah dari mana itu. Baru semakin mendekat. Saya kira kayak pesawat lewat, ternyata semakin dekat suaranya,” tutur Reski.
Beberapa saat kemudian, Reski dan Muslimin melihat ledakan di balik kabut yang menyelimuti puncak saat itu. Dia menyaksikan langsung api yang menyala dan suara ledakan besar dari pesawat itu hingga serpihannya mengarah kepada mereka.
“Terus itu kan makin mendekat suara toh, baru ku liat mi kayak meledak, langsung ada api, berhamburan ke atas juga. Baru di situ serpihannya hampir ma na kena, karena terbang ke atas ki,” ucap Reski.
“Baru itu temanku reflek na tarik sembunyi di tugu-tugunya (puncak). Baru di situ langsung mi ku video yang masih ada api-apinya. Pasnya masih di puncak itu dua orang ja liat pas meledak,” sambung pemuda asal Pangkep ini.
Sementara setelah menyaksikan langsung insiden kecelakaan pesawat itu, Reski dan Muslimin masih sempat menunggu sekitar dua jam di puncak. Mereka ingin melihat jelas insiden yang mereka lihat dengan menunggu kabut hilang.
“Pertamanya toh tinggal ka dulu di atas karena mau ku tunggu semoga terbuka kabut. Baru di situ jam dua setengah tiga masih belum. Jadi sekali pulang ka saja. Tapi ada mi di situ pendaki lain. Dia dengar dari bawah juga bede. Tidak dapat kejadian tapi dengar juga,” ungkapnya.
Reski dan Muslimin setelah turun dan sampai ke basecamp kemudian memperlihatkan video kejadian yang mereka lihat di puncak. Namun petugas awalnya belum meyakini jika serpihan yang ia lihat adalah milik pesawat jatuh.
“Pas di basecamp itu panitianya kayak belum percaya. Tapi pas liat postingan ada pesawat hilang kontak (baru percaya). (Suara ledakan) Tidak kedengaran mungkin. Baru di situ saya posting di IG, ramai mi,” pungkasnya.
Tim SAR gabungan menemukan satu korban Pesawat ATR 42-500 di hari kedua pencarian. Korban berjenis kelamin laki-laki ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
“Telah ditemukan satu korban dengan jenis kelamin laki-laki (meninggal dunia),” kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar Muhammad Arif Anwar dalam keterangannya, Minggu (18/1).
Korban ditemukan sekitar pukul 14.20 Wita pada koordinat 04°54′ 44″S dan 119° 44′ 48″. Korban ditemukan di sekitar jurang dengan kedalaman kurang lebih 200 meter.
“Di kedalaman jurang sekitar kurang lebih 200 meter dan berada di sekitar serpihan pesawat,” ujar Arif.
Arif menyampaikan proses evakuasi korban masih sementara berlangsung. Dia menegaskan operasi SAR akan terus dilanjutkan dengan mengutamakan keselamatan seluruh personel dan koordinasi antarunsur.
“Kami berkomitmen melaksanakan operasi ini secara maksimal, profesional, dan terukur. Setiap langkah diambil berdasarkan analisis risiko di lapangan. Mohon doa dan dukungan dari seluruh masyarakat agar proses evakuasi berjalan lancar,” pungkasnya.
Di sisi lain, Arif menyampaikan bahwa operasi berlangsung dalam kondisi medan ekstrem dan cuaca yang sangat menantang. Jarak pandang hanya mencapai lima meter di lokasi pencarian.
“Sejak pagi hari, tim SAR menghadapi cuaca hujan lebat dan kabut tebal dengan jarak pandang terbatas sekitar lima meter di puncak. Hal ini berdampak pada pergerakan tim, termasuk sempat terjadi pembatalan penurunan vertikal demi keselamatan personel,” jelas Arif.
Dalam pelaksanaan di lapangan, beberapa Search and Rescue Unit (SRU) bergerak sesuai pembagian sektor. SRU 1 melakukan penurunan ke arah barat menggunakan tali. SRU 3 masih berada di puncak dan sebagian personel berhasil menyeberang ke titik dua.
Sementara itu, SRU 4 yang sempat berada sekitar 200 meter dari titik misi tidak menemukan akses aman untuk dilalui dan setelah berkoordinasi dengan posko induk, diarahkan kembali ke posko.
“Tim logistik juga telah bergerak menuju puncak untuk melakukan drop peralatan dan logistik guna mendukung keberlanjutan operasi,” tambahnya.
1 Korban Ditemukan Tewas
Belakangan saat dia dan temannya duduk-duduk santai di puncak, terdengar suara pesawat yang melintas dari jauh. Suara itu pun perlahan semakin mendekat hingga dirinya mereka mengira itu pesawat yang melintas di atas puncak Gunung Bulusaraung.
“Saya duduk-duduk sama temanku di atas puncak. Baru ada suara pesawat dari jauh. Tidak ditahu bilang arah dari mana itu. Baru semakin mendekat. Saya kira kayak pesawat lewat, ternyata semakin dekat suaranya,” tutur Reski.
Beberapa saat kemudian, Reski dan Muslimin melihat ledakan di balik kabut yang menyelimuti puncak saat itu. Dia menyaksikan langsung api yang menyala dan suara ledakan besar dari pesawat itu hingga serpihannya mengarah kepada mereka.
“Terus itu kan makin mendekat suara toh, baru ku liat mi kayak meledak, langsung ada api, berhamburan ke atas juga. Baru di situ serpihannya hampir ma na kena, karena terbang ke atas ki,” ucap Reski.
“Baru itu temanku reflek na tarik sembunyi di tugu-tugunya (puncak). Baru di situ langsung mi ku video yang masih ada api-apinya. Pasnya masih di puncak itu dua orang ja liat pas meledak,” sambung pemuda asal Pangkep ini.
Sementara setelah menyaksikan langsung insiden kecelakaan pesawat itu, Reski dan Muslimin masih sempat menunggu sekitar dua jam di puncak. Mereka ingin melihat jelas insiden yang mereka lihat dengan menunggu kabut hilang.
“Pertamanya toh tinggal ka dulu di atas karena mau ku tunggu semoga terbuka kabut. Baru di situ jam dua setengah tiga masih belum. Jadi sekali pulang ka saja. Tapi ada mi di situ pendaki lain. Dia dengar dari bawah juga bede. Tidak dapat kejadian tapi dengar juga,” ungkapnya.
Reski dan Muslimin setelah turun dan sampai ke basecamp kemudian memperlihatkan video kejadian yang mereka lihat di puncak. Namun petugas awalnya belum meyakini jika serpihan yang ia lihat adalah milik pesawat jatuh.
“Pas di basecamp itu panitianya kayak belum percaya. Tapi pas liat postingan ada pesawat hilang kontak (baru percaya). (Suara ledakan) Tidak kedengaran mungkin. Baru di situ saya posting di IG, ramai mi,” pungkasnya.
Tim SAR gabungan menemukan satu korban Pesawat ATR 42-500 di hari kedua pencarian. Korban berjenis kelamin laki-laki ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
“Telah ditemukan satu korban dengan jenis kelamin laki-laki (meninggal dunia),” kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar Muhammad Arif Anwar dalam keterangannya, Minggu (18/1).
Korban ditemukan sekitar pukul 14.20 Wita pada koordinat 04°54′ 44″S dan 119° 44′ 48″. Korban ditemukan di sekitar jurang dengan kedalaman kurang lebih 200 meter.
“Di kedalaman jurang sekitar kurang lebih 200 meter dan berada di sekitar serpihan pesawat,” ujar Arif.
Arif menyampaikan proses evakuasi korban masih sementara berlangsung. Dia menegaskan operasi SAR akan terus dilanjutkan dengan mengutamakan keselamatan seluruh personel dan koordinasi antarunsur.
“Kami berkomitmen melaksanakan operasi ini secara maksimal, profesional, dan terukur. Setiap langkah diambil berdasarkan analisis risiko di lapangan. Mohon doa dan dukungan dari seluruh masyarakat agar proses evakuasi berjalan lancar,” pungkasnya.
1 Korban Ditemukan Tewas
Di sisi lain, Arif menyampaikan bahwa operasi berlangsung dalam kondisi medan ekstrem dan cuaca yang sangat menantang. Jarak pandang hanya mencapai lima meter di lokasi pencarian.
“Sejak pagi hari, tim SAR menghadapi cuaca hujan lebat dan kabut tebal dengan jarak pandang terbatas sekitar lima meter di puncak. Hal ini berdampak pada pergerakan tim, termasuk sempat terjadi pembatalan penurunan vertikal demi keselamatan personel,” jelas Arif.
Dalam pelaksanaan di lapangan, beberapa Search and Rescue Unit (SRU) bergerak sesuai pembagian sektor. SRU 1 melakukan penurunan ke arah barat menggunakan tali. SRU 3 masih berada di puncak dan sebagian personel berhasil menyeberang ke titik dua.
Sementara itu, SRU 4 yang sempat berada sekitar 200 meter dari titik misi tidak menemukan akses aman untuk dilalui dan setelah berkoordinasi dengan posko induk, diarahkan kembali ke posko.
“Tim logistik juga telah bergerak menuju puncak untuk melakukan drop peralatan dan logistik guna mendukung keberlanjutan operasi,” tambahnya.
