Puasa qadha Ramadhan merupakan kewajiban bagi umat Islam yang meninggalkan puasa pada bulan Ramadhan karena uzur syar’i seperti haid atau nifas, sakit, maupuan bepergian jauh. Sebagai sebuah kewajiban, puasa qadha Ramadhan ini harus dilaksanakan sesuai ketentuan syariat Islam.
Menjelang datangnya bulan Ramadhan tahun ini, kewajiban menunaikan puasa qadha Ramadhan pun kembali menjadi perhatian. Bagi umat Islam yang masih memiliki utang puasa Ramadhan, waktu yang tersisa ini menjadi kesempatan untuk menunaikan kewajiban tersebut sebelum memasuki Ramadhan berikutnya.
Sebagai panduan, berikut ini tata cara pelaksanaan puasa qadha Ramadhan, mulai dari niat, tata cara, hingga batas waktu pelaksanaannya. Simak selengkapnya yuk!
Menyadur dari buku Tata Cara dan Tuntunan Segala Jenis Puasa oleh Nur Solikhin, niat puasa qadha dibaca sebagaimana kewajiban dalam puasa Ramadhan, yaitu antara waktu Maghrib hingga sebelum Subuh.
Adapun bacaan niat puasa qadha Ramadhan adalah sebagai berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى
Arab Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhaai fardhi ramadhaana lillahi ta’aalaa.
Artinya: “Aku niat puasa esok hari sebagai ganti fardhu Ramadhan karena Allah Ta’ala.”
Pada dasarnya, tata cara puasa Qadha Ramadhan sama saja dengan puasa lainnya. Perbedaanya terletak pada bacaan niatnya.
Agar lebih jelas, berikut tata cara mengerjakan puasa qadha Ramadhan:
Dinukil dari buku “Qadha & Fidyah Puasa” oleh Maharati Marfuah Lc, para ulama sepakat bahwa puasa Ramadhan dapat diganti kapan saja hingga datangnya bulan Ramadhan berikutnya.
Hal tersebut sebagaimana firman Allah SWT:
وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
Artinya: “Dan siapa yang sakit atau dalam perjalanan, boleh tidak berpuasa namun harus mengganti di hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Lalu, bagaimana jika sudah masuk Ramadhan berikutnya dan masih ada utang puasa yang belum dibayar?
Masih dari sumber yang sama, dijelaskan bahwa mayoritas ulama kalangan Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah berpendapat jika sudah masuk Ramadhan berikutnya dan utang puasa belum dibayar, maka wajib diganti setelah Ramadhan dan juga wajib membayar fidyah. Sementara itu, kalangan Hanafiyah dan Dzhahiriyah berpendapat tidak mewajibkan fidyah.
Hal ini sebagaimana dijelaskan Ibnu Abdil Barr, salah satu ulama dari kalangan Malikiyah berikut ini:
ومن وجب عليه صوم أيام من رمضان لمرض أو سفر ففرط فيها حتى دخل عليه رمضان آخر وهو قادر على صيامها فإنه إذا أفطر من رمضان صام تلك الأيام وأطعم مع ذلك كل يوم مدا لكل مسكين بمد النبي عليه السلام
Artinya: “Dan seseorang yang mempunyai kewajiban puasa Ramadhan kemudian tidak puasa dan mengakhirkan qadha sampai masuk Ramadhan berikutnya sedangkan ia mampu untuk mengqadhanya (sebelum datang Ramadhan kedua) maka jika dia tidak puasa pada Ramadhan tersebut wajib baginya mengqadha hari-hari yang ditinggalkannya dan memberi makan orang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan satu mud dengan ukuran mud Nabi SAW.”
Nah, demikianlah ulasan lengkap mengenai panduan puasa qadha Ramadhan, mulai dari bacaan niat, tata cara, dan batas waktu menggantinya. Semoga bermanfaat!







