Puasa Syaban menjadi salah satu amalan yang dianjurkan bagi umat Islam ketika memasuki bulan tersebut. Melaksanakan puasa sunnah di bulan Syaban ini merupakan amalan yang dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW.
Menyadur buku Kalender Ibadah Sepanjang Tahun karya Ust Abdullah Faqih Ahmad Abdul Wahid, Rasulullah SAW memperbanyak puasa sunnah di bulan Syaban. Sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim:
Aisyah berkata, “Saya tidak pernah melihat Rasulullah SAW melakukan puasa satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan. Dan, saya juga tidak pernah melihatnya sangat banyak melakukan puasa selain pada bulan Syaban.” (HR Bukhari dan Muslim)
Lantas berapa hari puasa Syaban yang dianjurkan? Apakah boleh dilaksanakan sebulan penuh?
Simak ulasan selengkapnya berikut ini!
Masih dari buku Kalender Ibadah Sepanjang Tahun, dijelaskan bahwa tidak ada ketentuan khusus mengenai waktu pelaksanaan puasa bulan Syaban. Artinya, tidak ditentukan tanggal dan harinya, sehingga tanggal berapa pun boleh saja untuk berpuasa.
Namun, Syaban menjadi bulan di mana Rasulullah melaksanakan banyak puasa sunnah. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW berpuasa sunnah hampir satu bulan penuh pada bulan Syaban.
Diceritakan bahwa Ummu Salamah berkata, “Saya tidak pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa dua bulan berturut-turut, kecuali pada bulan Syaban dan bulan Ramadhan.” (HR Tirmidzi dan Nasa’i)
Menyadur buku Memantaskan Diri Menyambut Bulan Ramadhan oleh Abu Maryam Kautsar Amru, disebutkan bahwa dilarang melaksanakan puasa sunnah di akhir bulan Syaban, yakni sehari atau dua hari menjelang Ramadhan. Hal ini dilarang dengan alasan agar tidak tercampur antara puasa sunnah pada bulan Syaban dengan puasa wajib pada bulan Ramadhan.
Maka, meskipun dianjurkan memperbanyak puasa sunnah, tidak diperbolehkan untuk sebulan penuh hingga akhir bulan Syaban.
Sementara itu, dalam buku Rahasia Puasa Sunah karya Ahmad Syahirul Alim dijelaskan bahwa Ibnu Mubarak dan beberapa ulama menguatkan pendapat bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak berpuasa penuh selama bulan Syaban. Hal itu berdasarkan hadits-hadits dari Aisyah RA.
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ وَمَا اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ قَطُّ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ
Artinya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa sampai kami berkata ia tidak berbuka, dan beliau berbuka sampai kami berkata ia tidak berpuasa. Tidak pernah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyempurnakan puasa selama sebulan penuh, kecuali di bulan Ramadhan, dan saya tidak pernah melihat bulan yang beliau paling banyak melakukan puasa selain Sya’ban.” (HR Bukhari Muslim)
Selain itu, juga terdapat beberapa hadits yang senada bahwa Rasulullah SAW tidak pernah menyempurnakan puasa selama sebulan penuh melainkan di bulan Ramadhan.
Sebagaimana disebutkan sebelumnya, tidak ada ketentuan hari atau tanggal tertentu untuk melaksanakan puasa Syaban. Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama Indonesia, bulan Syaban berlangsung mulai 20 Januari 2026 hingga 18 Februari 2026.
Maka, umat Islam dapat melaksanakan puasa sunnah Syaban di rentang waktu tersebut, yakni mulai 20 Januari hingga sebelum 18 Februari 2026 sebagaimana ketentuan yang telah dipaparkan di atas.
Mengutip buku Meraih Surga dengan Puasa oleh H Herdiansyah Achmad Lc, berikut bacaan niat puasa Syaban:
نَوَيْتُ صَوْمَ الشَّهْرِ الشَّعْبَانِ سُنَّةَ لِلَّهِ تَعَالَى
Arab Latin: Nawaitu shauma-sy-syahri-sy-sya’baani sunnata-lillâhi ta’aala.
Artinya: “Saya berniat puasa pada bulan Syaban sunnah karena Allah Ta’ala.”
