Renungan Harian Katolik Jumat 9 Januari 2026: Belas Kasih Tuhan

Posted on

Renungan harian penting dibaca setiap hari oleh umat Katolik karena menjadi sarana untuk menata hati, memperdalam iman, serta menuntun langkah hidup agar semakin selaras dengan kehendak Tuhan. Melalui renungan, umat diajak untuk tidak hanya mendengar Sabda Allah, tetapi juga merenungkannya dan mewujudkannya dalam sikap serta tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Renungan Katolik Jumat, 9 Januari 2026 mengangkat tema “Belas Kasih Tuhan” yang dikutip dari buku Renungan Tiga Titik oleh Mery Budiman. Dalam Renungan Harian Katolik Jumat, 9 Januari 2026 ini, kita diajak untuk menyadari bahwa belas kasih Tuhan bukan sekadar pengampunan, melainkan panggilan untuk hidup dalam kasih yang sama kepada sesama.

Nah, artikel di bawah ini infoSulsel menghadirkan renungan hari ini yang meliputi:

Sebelum membaca renungan harian hari ini baca terlebih dahulu sabda-sabda Tuhan lewat bacaan hari ini, antara lain:

Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?

Inilah Dia yang telah datang dengan air dan darah, yaitu Yesus Kristus, bukan saja dengan air, tetapi dengan air dan dengan darah. Dan Rohlah yang memberi kesaksian, karena Roh adalah kebenaran.

Sebab ada tiga yang memberi kesaksian (di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu.

Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi): Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu.

Kita menerima kesaksian manusia, tetapi kesaksian Allah lebih kuat. Sebab demikianlah kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya.

Barangsiapa percaya kepada Anak Allah, ia mempunyai kesaksian itu di dalam dirinya; barangsiapa tidak percaya kepada Allah, ia membuat Dia menjadi pendusta, karena ia tidak percaya akan kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya.

Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya.

Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.

Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.

Megahkanlah TUHAN, hai Yerusalem, pujilah Allahmu, hai Sion!

Sebab Ia meneguhkan palang pintu gerbangmu, dan memberkati anak-anakmu di antaramu.

Ia memberikan kesejahteraan kepada daerahmu dan mengenyangkan engkau dengan gandum yang terbaik.

Ia menyampaikan perintah-Nya ke bumi; dengan segera firman-Nya berlari.

Ia memberitakan firman-Nya kepada Yakub, ketetapan-ketetapan-Nya dan hukum-hukum-Nya kepada Israel.

Ia tidak berbuat demikian kepada segala bangsa, dan hukum-hukum-Nya tidak mereka kenal. Haleluya!

Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh kusta. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.”

Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya.

Yesus melarang orang itu memberitahukannya kepada siapapun juga dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka.”

Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka.

Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.

Perikop hari ini mengisahkan Yesus yang menyembuhkan orang dengan sakit kulit yang sangat menular. Pada masa itu, bila ada yang kena penyakit kulit yang menular (kusta/lepra) maka akan dikucilkan, bahkan ditolak masuk ke tempat ibadah dan pekerjaan, karena dianggap najis. Ilmu kedokteran belum secanggih sekarang ini, sehingga tidak ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit kulit yang sangat menular dan dapat menyebabkan kematian tersebut.

Saya teringat pada saat pandemi Covid-19 yang lalu. Saya salah satu yang terkena covid. Betapa sengsaranya saat itu, hidup terisolasi tanpa boleh kontak fisik dengan siapa pun. Saya menjalani isolasi mandiri, hanya tinggal di dalam kamar saja. Begitu mau keluar kamar, harus melihat sekeliling terdahulu, apakah ada orang atau tidak, agar tidak berhadapan dengan orang lain.

Hidup serba ketakutan, takut orang lain tertular, takut mati di dalam kamar tanpa ada orang yang tahu, dan lain sebagainya. Saya bersyukur masih bisa berkomunikasi dengan teman-teman melalui zoom, sehingga saya tidak merasa sendiri dan masih dapat melakukan kegiatan tanpa harus keluar dari kamar.

Atas belas kasih Tuhan, saya disembuhkan dalam waktu yang singkat, bebas dari virus Covid 19. Hal ini terjadi karena Tuhan mau mengulurkan tangan-Nya untuk menyentuh saya, sehingga pulih seperti sediakala.

Dari pengalaman, saya, dapat merasakan betapa tidak enaknya dikucilkan oleh orang di sekeliling kita, terutama keluarga sendiri. Sungguh tragis hidup terasing tanpa bersosialisasi dengan orang lain. Tetapi bila kita percaya dengan penuh iman dan dengan rendah hati bersandar kepada Tuhan, maka segala sesuatu tidak ada yang mustahil dan pasti akan dipulihkan. Seperti yang dikatakan oleh seorang yang sakit kusta, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat menahirkan aku.” Yesus menjawabnya, “Aku mau, jadilah tahir.” (Luk. 5:12-13).

Marilah kita selalu berharap dan datang dengan rendah hati, memohon agar Tuhan selalu hadir di dalam kehidupan kita; baik di dalam keluarga, lingkungan pekerjaan, dan komunitas pelayanan!

Allah Bapa di dalam surga, kami bersyukur atas belas kasihan-Mu yang begitu besar kepada kami semua. Tanpa ragu Kau mengulurkan tangan untuk menyentuh, bahkan memeluk kami yang dalam kesesakan, dan menyembuhkan secara fisik maupun rohani, sehingga kami tahir; bebas dari segala penyakit, dan dapat kembali bersosialisasi dengan sesama. Amin.

Andreas Korsini lahir pada tanggal 30 November 1302 di Florence, Italia, dari sebuah keluarga yang kaya raya. Ia ditabhiskan menjadi imam dalam ordo Karmelit pada tahun 1328. Pada tahun 1322, ia diangkat menjadi pemimpin sebuah biara Karmelit di Florence dan pada tahun 1349 ia ditabhiskan menjadi Uskup Fiesole.

Pada masa mudanya ia suka hidup berfoya-foya dan melakukan perbuatan – perbuatan yang tidak terpuji, bahkan bersifat aib. Karena itu, sang ibu terus mendoakan dia sambil mengharapkan pertobatannya. Suatu ketika ia dinasehati ibunya agar berbalik dari jalan hidupnya yang sesat itu. Banyak hal dikatakan kepadanya, antara lain bahwa kelahirannya sangat didambakan dan bahwa ketika ia lahir, ia sudah dipersembahkan kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria.

Mendengar nasehat dan cerita ibunya, ia hanyut dalam rasa penyesalan yang mendalam. Hatinya yang keras membatu itu berhasil ditembusi oleh kekuatan rahmat Ilahi. Ia segera berlari menuju patung Bunda Maria dan berdoa dengan kusuk di depan patung itu. Sejak itu, ia bertobat dan meninggalkan dunia keaiban dan dosa yang sudah lama membelenggunya. Saat berahmat itu menjadi suatu titik balik bagi kehidupannya. Ia memutuskan untuk masuk biara SAnta Perawan Maria dari Gunung Karmel (Ordo Karmelit).

Andreas terkenal karena kasih sayangnya dan perhatiannya kepada para miskin dan orang – orang berdosa. Ia berusaha sekuat tenaga untuk membawa kembali para pendosa ke jalan Tuhan. Atas bantuan rahmat Tuhan, Andreas berhasil dalam usahanya itu. Umatnya sangat mencintai dia karena semangatnya dan sifat kebapaannya yang penuh kasih sayang kepada mereka. Paus Urbanus V (1363-1370) mengirim Andreas ke Bologna, Italia untuk mendamaikan pemerintah dan rakyat yang bertikai. Ia meninggal dunia pada tanggal 6 Januari 1373. Pada tahun 1629, Andreas ditetapkan sebagai Orang Kudus oleh Sri Paus Urbanus VIII(1623-1644).

Demikianlah renungan harian Katolik Jumat, 9 Januari 2026. Damai Tuhan beserta kita!

Renungan Harian Katolik Hari Ini 9 Januari 2026

Bacaan I: 1 Yoh 5:5-3

Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-13.14-15.19-20

Bacaan Injil: Luk 5:12-16

Renungan Hari Ini: Belas Kasih Tuhan

Doa Penutup

Kisah Santo Andreas Korsini, Uskup dan Pengaku Iman