Renungan Harian Katolik Minggu, 10 Januari 2026, mengajak umat merenungkan makna Pesta Pembaptisan Tuhan, peristiwa penting yang menandai awal karya publik Yesus. Melalui pembaptisan-Nya di Sungai Yordan, Yesus menyatakan ketaatan penuh kepada kehendak Bapa dan membuka jalan keselamatan bagi umat manusia.
Pesta Pembaptisan Tuhan menjadi penutup masa Natal dan sekaligus pengingat akan identitas serta panggilan setiap orang beriman sebagai anak-anak Allah. Dalam peristiwa ini, Yesus yang tanpa dosa rela dibaptis oleh Yohanes Pembaptis sebagai tanda solidaritas-Nya dengan umat manusia.
Renungan harian Katolik Minggu, 11 Januari 2026 mengangkat tema “Rahmat Baptisan” yang dikutip dari buku Inspirasi Pagi (LBI) oleh Agus Kami CS. Nah, artikel di bawah ini infoSulsel menghadirkan renungan hari ini yang meliputi:
Sebelum membaca renungan harian hari ini baca terlebih dahulu sabda-sabda Tuhan lewat bacaan hari ini, antara lain:
Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.
Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan.
Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum.
Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya.
“Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa,
untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara.
Refrain: Tuhan memberkati umat-Nya dengan damai sejahtera.
Kemudian Petrus mulai berbicara, katanya: “Sesungguhnya aku telah mengerti bahwa Allah tidak membeda-bedakan manusia.”
Setiap orang dari setiap bangsa yang takut kepada-Nya dan melakukan kebaikan, diterima oleh-Nya.
Itulah firman yang diperintahkan-Nya untuk diberitakan kepada bangsa Israel, firman yang memberitakan perdamaian melalui Yesus Kristus, yang adalah Tuhan atas segala sesuatu.
Kamu tahu tentang segala sesuatu yang terjadi di seluruh tanah Yudea, dimulai dari Galilea, setelah baptisan yang diberitakan oleh Yohanes,
Tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan dengan kuasa, yang berkeliling melakukan kebaikan dan menyembuhkan semua orang yang tertindas oleh iblis, karena Allah menyertai Dia.
Ayat: Langit terbuka, dan terdengarlah suara Bapa, “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia!”
Maka Yesus datang dari Galilea ke Yordan menemui Yohanes untuk dibaptis olehnya.
Tetapi Yohanes melarangnya, katanya, “Aku perlu dibaptis olehmu, dan mengapa engkau datang kepadaku?”
Lalu Yesus menjawab dan berkata kepadanya, “Biarlah demikian adanya, karena dengan cara inilah kita memenuhi segala kebenaran.” Dan Yohanes menaati-Nya.
Setelah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada saat itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah turun ke atas-Nya seperti seekor merpati.
Lalu terdengar suara dari surga, berkata, “Inilah Putra-Ku yang Kukasihi, yang kepada-Nya Aku berkenan.”
Hari ini, Gereja merayakan Pesta Pembaptisan Tuhan. Peristiwa ini menandai awal karya Yesus di dunia. Injil Matius mengisahkan bahwa Yesus datang kepada Yohanes di Sungai Yordan untuk dibaptis. Yohanes merasa terkejut, sebab ia tahu bahwa Yesus yang tidak membutuhkan baptisan pertobatan.
Namun, meskipun dicegah Yohanes, Yesus memilih untuk turun ke dalam air dan dibaptis. Ia berkata, “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.”
Ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan merupakan pewahyuan tentang pribadi Yesus, serta undangan bagi kita sebagai orang yang dibaptis. Berkaitan dengan itu, ada tiga pokok penting yang bisa kita renungan pada hari ini.
Pertama, tindakan Yesus ini menunjukkan sikap kerendahan hati. Sebagai Anak Allah dan pribadi yang tanpa dosa, Yesus rela berdiri di antara para pendosa dan menyatukan diri dengan mereka.
Yesus merendahkan diri-Nya. Ia menunjukkan kepada kita bahwa jalan keselamatan bukanlah jalan keangkuhan, melainkan jalan kerendahkan hati. Kerendahan hati Yesus ini mengajak kita untuk tidak hidup dengan berjarak, tetapi dengan kedekatan relasi dengan sesama. Melalui Yesus, Allah tidak hanya menjadi manusia, tetapi juga masuk ke dalam solidaritas penuh dengan manusia.
Kedua, dikisahkan bahwa ketika Yesus keluar dari air, langit terbuka dan Roh Kudus turun ke atas-Nya dalam rupa seperti burung merpati. Kehadiran Roh Kudus ini menandakan pengurapan atas diri Yesus untuk mulai berkarya di tengah dunia, yakni dengan mewartakan Kerajaan Allah, menyembuhkan, mengampuni, dan menguatkan yang tertindas.
Ketiga, Matius mencatat bahwa ada suara yang berseru, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Pernyataan surgawi ini mengingatkan kita bahwa Allah selalu mencari jalan untuk masuk ke dalam hidup kita, dan melalui Yesus, hubungan kita dengan-Nya dipulihkan.
Selanjutnya, Pesta Pembaptisan Tuhan mengingatkan kita akan rahmat baptisan kita sendiri. Bagi kita orang Katolik, baptis adalah anugerah terbesar, sebab melaluinya kita menjadi anak-anak Allah dan ambil bagian dalam misi Kristus di tengah dunia.
Sebagai orang yang dibaptis, kita menjadi pengikut Kristus, yang berarti dituntut untuk meneladan hidup-Nya, yakni mewartakan kabar baik dan membawa terang bagi sesama. Kita dipanggil untuk menjadi pribadi yang murah hati, lembut, dan penuh kasih.
Barangkali kita tidak dapat melakukan hal-hal besar, tetapi kita dapat melakukan hal-hal sederhana setiap hari, yakni menghibur yang berduka dan putus asa, menjadi pembawa damai di tengah pertikaian, menghargai martabat manusia, memperjuangkan keadilan, serta membantu mereka yang membutuhkan.
Sebagai orang yang dibaptis, kita dipanggil untuk meneladan hidup Kristus dalam cara kita berbicara, dalam cara kita memperlakukan sesama, dalam semangat mengampuni, serta dalam mencintai tanpa pamrih.
Semoga Pesta Pembaptisan Tuhan yang kita rayakan hari ini membangkitkan kembali kesadaran iman dan pengharapan kita bahwa kita tidak pernah berjalan sendiri. Allah selalu menyertai kita. Kita berjalan bersama Yesus yang turun ke dalam Sungai Yordan, dan bersama Roh Kudus yang tinggal di dalam diri kita.
Semoga kita semua menjadi pembawa kabar sukacita Kerajaan-Nya yang penuh damai, keadilan, dan kasih. Akhirnya, semoga Bapa surgawi berbicara pula tentang kita, “Inilah anak-Ku yang Kukasihi, kepadanyalah Aku berkenan.”
Aleksander I adalah Paus kelima dan seorang martir abad kedua. Sebagai Paus, ALeksander I juga adalah Uskup Roma dari tahun 105-115. Menurut Buku KePausan (Liber Pontificalis), Aleksander I adalah warga kota Roma yang lahir dan mati pada masa pemerintahan Kaisar Trajanus.
Ia menaruh perhatian besar pada Liturgi Gereja. Beberapa sumber mengatakan bahwa kata – kata Liturgi Ekaristi “Qui pride quam pateretur” (“Yang sehari sebelum Ia menderita”) adalah kata – kata tambahan dari Aleksander I.
Kata-kata ini membuka bagian dari perayaan Ekaristi, yang menceritakan perbuatan dan kata-kata Yesus sewaktu Ia mengadakan Ekaristi Kudus pada perjamuan terakhir. Beliau juga memerintahkan agar anggur yang dipakai dalam perayaan Ekaristi dicampur sedikit dengan air sebagai lambang darah dan air yang keluar dari lambung Yesus yang tertikam tombak di atas Salib.
Iapun menyesahkan praktek pemberkatan rumah dengan air suci. Bersama dengan dua orang imam, yaitu Evenius dan Teodulus, Aleksander I dipenggal kepalanya pada tahun 115.
Demikianlah renungan harian Katolik Minggu, 11 Januari 2026. Damai Tuhan beserta kita!
