Bagi umat Katolik, renungan harian menjadi bagian penting dalam kehidupan iman sehari-hari. Melalui renungan, umat diajak untuk merenungkan Sabda Tuhan, menata hati, serta menemukan makna firman Allah yang relevan dengan situasi hidup yang sedang dijalani.
Membaca renungan setiap hari membantu umat Katolik memulai aktivitas dengan hati yang lebih tenang, sikap yang lebih bijaksana, dan iman yang terus bertumbuh. Melalui bacaan Kitab Suci dan refleksi iman hari ini, umat diajak untuk membuka hati agar kehadiran Tuhan sungguh dirasakan dalam setiap aspek kehidupan.
Renungan Katolik Rabu, 7 Januari 2026 mengangkat tema “Damai Terjadi Saat Tuhan Hadir” yang dikutip dari buku Renungan Tiga Titik oleh Taruna Lala. Nah, artikel ini juga memuat informasi:
Sebelum membaca renungan harian hari ini baca terlebih dahulu sabda-sabda Tuhan lewat bacaan hari ini, antara lain:
Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.
Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.
Demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita: Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam Roh-Nya.
Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia.
Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah.
Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.
Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini.
Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.
Kiranya ia mengadili umat-Mu dengan keadilan dan orang-orang-Mu yang tertindas dengan hukum!
kiranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan-persemb kiranya raja-raja dari Syeba dan Seba menyampaikan upeti!
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
Kiranya semua raja sujud menyembah kepadanya, dan segala bangsa menjadi hambanya!
Sebab ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, orang yang tertindas, dan orang yang tidak punya penolong;
ia akan sayang kepada orang lemah dan orang miskin, ia akan menyelamatkan nyawa orang miskin.
Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.
Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa.
Ketika hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat.
Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka.
Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak,
sebab mereka semua melihat Dia dan merekapun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”
Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan anginpun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung,
sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.
Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan angin pun reda. Mereka sangat tercengang (Mrk. 6:51)
Ketika ibu mertua meninggal beberapa tahun lalu, saya baru sadar betapa repotnya mengurus upacara kedukaan. Saya pernah mengalami proses pemakaman opa, pakde dan papa, namun bukan saya yang mengurusnya. Saya hanya mendapat urusan kecil saja.
Proses mendapat ruangan di rumah duka, tempat pemakaman serta acara doa dan pastor yang bersedia memberikan misa, ternyata tidaklah mudah. Dalam suasana duka itu, saya takut tidak dapat memenuhi apa yang diharapkan seluruh anggota keluarga.
Hal ini membuat hati saya jauh dari damai. Inilah ‘angin sakal’ yang dialami perahu keluarga kami.
Bacaan Injil hari ini menceritakan para murid yang mengalami angin sakal ketika berperahu menyeberangi danau ke Betsaida. Perhatian para murid fokus pada bagaimana mengendalikan perahu agar dapat berlayar dengan aman.
Dalam kondisi lelah ini, betapa takut dan terkejutnya murid-murid ketika melihat ada seseorang yang mirip Yesus berjalan di atas air. Bagaimana mungkin? Bukankah Yesus masih berdoa di atas bukit sana?
Betapa lega dan damai hati para murid saat Yesus berkata, “Tenanglah, ini Aku. Janganlah takut!” Murid-murid tercengang ketika Yesus masuk ke dalam perahu dan angin menjadi reda. Walau sudah mengalami mukjizat pemberian makan ke lima ribu orang sebelumnya, para murid masih belum mengerti tentang Yesus.
Mereka baru mengerti setelah mengalami berbagai peristiwa yang memuncak pada kebangkitan Yesus yang selalu menyertai murid-murid-Nya. Yesus menyertai keluarga kami melalui adik, lingkungan, keluarga dan kerabat, hingga akhirnya kami memperoleh ruangan di rumah duka.
Kami juga mendapat tempat pemakaman dan pastor yang akan memimpin acara hingga pemakaman selesai. Walau berduka, keluarga kami mendapatkan damai setelah acara berlangsung lancar. Saya percaya ibu mertua saya mendapatkan belas kasih dari Tuhan Yesus.
Seperti para murid dan keluarga saya yang mengalami penyertaan Tuhan Yesus, saya percaya siapa pun yang berdoa dan percaya kepada Tuhan Yesus akan mengalami penyertaaan dan damai-Nya.
Bapa, terpujilah nama-Mu untuk selama-lamanya. Terima kasih atas penyertaan Putra-Mu Yesus Kristus dan Roh Kudus yang Engkau berikan dalam diri kami. Amin.
Pada tahun 1175, keluarga Penafort dianugerahi seorang putera. Sang bayi ini segera dipermandikan dan diberi nama Raymundus.
Oleh orang tuanya, ia dididik dan dibesarkan dalam keluhuran iman Katolik dan dalam ilmu pengetahuan. Semenjak kecilnya, Raymundus menunjukkan bakat yang luar biasa.
Bakat dan kemampuannya menjadi nyata ketika ia menyelesaikan kuliahnya di Universitas Barcelona dan ditunjuk sebagai pengajar Filsafat. Kemudian Raymundus melanjutkan lagi studinya ke Universitas Bologna, Italia hingga meraih gelar Doktor dalam bidang Hukum.
Di universitas ini pun, ia menjadi seorang mahaguru yang disukai oleh siswanya. Pada tahun 1222, Raymundus kembali ke Barcelona. Disini ia kemudian tertarik dengan kehidupan membiara.
Tak lama kemudian, ia menggabungkan diri dengan para biarawan Ordo Dominikan. Bersama Santo Petrus Nolaskus, ia mendirikan tarekat Pembebasan Para Hamba (Tarekat Marsedirian) yang khusus mengabdikan diri bagi orang-orang Kristen yang ditawan oleh orang-orang Moor.
Pada tahun 1230, Raymundus pergi ke Roma atas undangan Sri Paus Gregorius IX (1227-1241). Oleh Sri Paus, ia diangkat menjadi bapa pengakuannya dan di tugaskan untuk mengatur semua dekrit gereja yang telah di terbitkan.
Sewaktu tugas itu selesai dikerjakan pada tahun 1234, Sri Paus mensahkannya sebagai buku pegangan untuk semua lembaga pendidikan Seminari dan Universitas. Setahun kemudian (1235), Sri Paus menunjuk Raymundus sebagi Uskup Agung Tarragona, Spanyol.
Tetapi atas permohonannya sendiri, penunjukkan ini ditarik kembali. Tahun itu juga, ia kembali ke Barcelona untuk memulai kembali kegiatan pewartaannya menentang ajaran Kaum Sesat Albigensia.
Tiga tahun kemudian, ia terpilih sebagai Pemimpin tertinggi Ordo Dominikan. Selama masa jabatannya ini, ia memperbaharui aturan-aturan ordo.
Pada tahun 1240, ketika ia berusia 65 tahun, ia mengundurkan diri dari jabatan itu. Tahun-tahun terakhir hidupnya dipakainya untuk berkhotbah dan melancarkan perlawanan terhadap bidaah Albigensia serta berusaha mempertobatkan bangsa Moor dan Yahudi.
Ia juga memperkenalkan pelajaran bahasa Ibrani dan Arab di semua sekolah Dominikan. Atas permintaannya, Santo Thomas Aquinas menulis sebuah buku khusus untuk melawan para penganut bidaah tersebut.
Setelah bertahun-tahun mengabdikan dirinya pada gereja, Raymundus meninggal dunia di Barcelona pada tanggal 7 Januari 1275 dalam usia 100 tahun.
Demikianlah renungan harian Katolik Rabu, 7 Januari 2026. Semoga bermanfaat!







