Renungan Harian Katolik Senin 19 Januari 2026: Hidup Seturut Perintah Tuhan

Posted on

Membaca dan merenungkan sabda Tuhan bertujuan membantu umat merenungkan firman Tuhan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Membaca renungan dan bacaan harian menjadi sarana bagi umat Katolik untuk memperdalam iman, meneguhkan hubungan dengan Allah, serta mendapatkan bimbingan rohani agar hidup selaras dengan kehendak-Nya.

Bacaan liturgi hari ini menegaskan bahwa perintah Allah bukanlah beban, melainkan pedoman yang menuntun manusia pada kebaikan sejati. Renungan Harian Katolik Senin, 19 Januari 2026, menjadi kesempatan bagi umat untuk merefleksikan sikap hidup sehari-hari, apakah sudah selaras dengan kehendak Tuhan, serta memperbarui komitmen iman untuk hidup seturut perintah-Nya dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.

Renungan hari ini Senin, 19 Januari 2026 mengangkat tema “Hiduplah Seturut Perintah Tuhan” yang dikutip dari buku Renungan Tiga Titik ditulis oleh Bernadette Esther. Nah, secara lengkap artikel di bawah ini menyajikan:

Yuk, simak selengkapnya!

Sebelum membaca renungan harian hari ini baca terlebih dahulu sabda-sabda Tuhan lewat bacaan hari ini, antara lain:

Lalu berkatalah Samuel kepada Saul: “Sudahlah! Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang difirmankan TUHAN kepadaku tadi malam.” Kata Saul kepadanya: “Katakanlah.”

Sesudah itu berkatalah Samuel: “Bukankah engkau, walaupun engkau kecil pada pemandanganmu sendiri, telah menjadi kepala atas suku-suku Israel? Dan bukankah TUHAN telah mengurapi engkau menjadi raja atas Israel?

TUHAN telah menyuruh engkau pergi, dengan pesan: Pergilah, tumpaslah orang-orang berdosa itu, yakni orang Amalek, berperanglah melawan mereka sampai engkau membinasakan mereka.

Mengapa engkau tidak mendengarkan suara TUHAN? Mengapa engkau mengambil jarahan dan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN?”

Lalu kata Saul kepada Samuel: “Aku memang mendengarkan suara TUHAN dan mengikuti jalan yang telah disuruh TUHAN kepadaku dan aku membawa Agag, raja orang Amalek, tetapi orang Amalek itu sendiri telah kutumpas.

Tetapi rakyat mengambil dari jarahan itu kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dari yang dikhususkan untuk ditumpas itu, untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu, di Gilgal.”

Tetapi jawab Samuel: “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.

Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja.”

Bukan karena korban sembelihanmu Aku menghukum engkau; bukankah korban bakaranmu tetap ada di hadapan-Ku? Tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu atau kambing jantan dari kandangmu,

Tetapi kepada orang fasik Allah berfirman: “Apakah urusanmu menyelidiki ketetapan-Ku, dan menyebut-nyebut perjanjian-Ku dengan mulutmu, padahal engkaulah yang membenci teguran, dan mengesampingkan firman-Ku?

Itulah yang engkau lakukan, tetapi Aku berdiam diri; engkau menyangka, bahwa Aku ini sederajat dengan engkau. Aku akan menghukum engkau dan membawa perkara ini ke hadapanmu.

Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku; siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari Allah akan Kuperlihatkan kepadanya.”

Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus: “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?”

Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa.

Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya.

Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”

“Mengapa engkau tidak mendengarkan suara Tuhan? Mengapa engkau menyambar jarahan dan melakukan apa yang jahat di mata Tuhan?” (1Sam. 15:19)

Seorang martir bernama Floribert Bwana Chui lahir pada 13 Juni 1981 di Goma Kongo. Kongo adalah negara di Afrika yang rawan konflik etnis, sarat korupsi, kebencian, dan balas dendam.

Floribert bergabung dalam Komunitas Sant’Egidio saat studi di Universitas Goma. Dalam keluarga rohaninya itu, ia mendengarkan sapaan Tuhan melalui Injil. Ia menjalankan perintah-Nya: peduli dan mencintai kaum miskin, serta anak-anak jalanan. “Segala sesuatu yang telah kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40b).

Floribert hidup jujur. Ia menolak berbagai upaya suap yang terjadi berulang-ulang saat ia menjadi petugas Bea Cukai. Ia kehilangan nyawa, karena melindungi nyawa orang miskin. Floribert dibunuh dengan brutal pada tahun 2007, karena menolak mengizinkan makanan busuk yang akan dibagikan kepada masyarakat miskin.

Minggu, 15 Juni 2025, Kardinal Marcello Semeraro melakukan beatifikasi Floribert di Basilika Santo Paulus di Luar Tembok di Roma. “Floribert adalah guru harapan” kata Kardinal Semeraro, “Ia mengajari kita untuk mengatasi kejahatan dengan kebaikan.”

Dalam Misa harian di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus pernah mengatakan: “Menjadi orang Kristen yang baik, berarti patuh kepada firman Tuhan. Floribert patuh pada firman Tuhan, seperti yang Yesus kehendaki.” Saul yang tidak patuh pada perintah Tuhan, mendapat teguran Samuel, “Mengapa engkau tidak mendengarkan suara Tuhan?

Mengapa engkau menyambar jarahan dan melakukan yang jahat di mata Tuhan?” (1Sam. 15:19). Saul keukeuh melakukan kehendaknya sendiri: membawa Agag raja Amalek, dan membolehkan rakyatnya mengambil hewan-hewan yang harusnya dimusnahkan, untuk dipersembahkan sebagai korban bakaran kepada Tuhan di Gilgal (1Sam. 15:20-21). Allah menolak Saul sebagai raja.

Kita juga kerap bersikap seperti Saul. Tak mengindahkan apa yang Tuhan kehendaki untuk kita lakukan, karena tidak sesuai dengan keinginan diri sendiri. Pembangkangan sama seperti dosa bertenung; keras kepala sama seperti kejahatan menyembah berhala (1Sam. 15:23). Apa jadinya hidup kita, bila Tuhan 15:23). Apa jadinya hidup kita, bila Tuhan menolak kita?

Allah Tritunggal Maha Kudus, berilah kami keberanian untuk melaksanakan perintah-Mu demi kemajuan iman dan kehidupan rohaniku. Mampukan kami meninggalkan segala kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran-Mu yang menyeret kami ke lembah dosa. Amin.

Demikianlah renungan harian Katolik Senin, 19 Januari 2026. Semoga bermanfaat!

Renungan Harian Katolik Hari Ini 19 Januari 2026

Bacaan I: 1Sam. 15:16-23

Mazmur Tanggapan: Mzm. 50:8-9; 16bc-17,21,23

Bacaan Injil: Mrk. 2:18-22

Renungan Hari Ini: Hiduplah Seturut Perintah Tuhan

Doa Penutup