Renungan Harian Katolik Senin, 26 Januari 2026, mengajak umat untuk kembali meneguhkan iman akan penyelenggaraan Ilahi yang senantiasa bekerja dalam hidup manusia. Di tengah berbagai ketidakpastian dan tantangan, Tuhan hadir sebagai Bapa yang setia memelihara dan menuntun setiap langkah umat-Nya.
Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang manusia diliputi rasa cemas akan masa depan, kebutuhan hidup, maupun berbagai persoalan yang seakan datang silih berganti. Situasi ini sering membuat iman goyah dan kepercayaan kepada Tuhan melemah.
Renungan harian Katolik Senin, 26 Januari 2026 mengangkat tema “Percaya Sepenuhnya pada Penyelenggaraan Ilahi” yang dikutip dari buku Inspirasi Pagi (LBI) ditulis oleh Y Damai Wasono OFM, Nah, secara lengkap artikel di bawah ini menyajikan:
Sebelum membaca renungan harian hari ini baca terlebih dahulu sabda-sabda Tuhan lewat bacaan hari ini, antara lain:
Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah untuk memberitakan janji tentang hidup dalam Kristus Yesus, kepada Timotius, anakku yang kekasih: kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai engkau.
Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam. Dan apabila aku terkenang akan air matamu yang kaucurahkan, aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku.
Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu. Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu.
Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah.
Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya.
Kata-Nya kepada mereka: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.
Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapapun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini.
Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah.
Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.
Ketika hendak bepergian, apalagi dalam jangka waktu yang lama, kita sering kali disibukkan dengan pelbagai persiapan, termasuk mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa serta. Kita sering kali juga membawa bekal melebihi apa yang kita butuhkan, sehingga bekal yang kita bawa dari rumah itu nantinya terpaksa kita bawa pulang kembali.
Yesus hari ini dikisahkan menunjuk tujuh puluh murid dan mengutus mereka pergi berdua-dua untuk mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Ia mengumpamakan pengutusan ketujuh puluh murid itu bagaikan pengutusan “anak domba ke tengah-tengah serigala”.
Menarik untuk direnungkan, jika demikian, mengapa para murid dilarang membawa pundi-pundi, bekal, atau kasut? Secara logika, ketika kita akan pergi ke tempat yang berbahaya, bukankah kita harus membekali diri dengan segala macam hal secara lengkap, termasuk persenjataan kalau perlu?
Saya teringat akan sebuah kisah tentang St Fransiskus dari Assisi. Pada waktu Perang Salib, Fransiskus pergi ke tengah-tengah pasukan musuh tanpa membawa persenjataan apa pun, tanpa pengawalan para prajurit, tanpa kuda, dan tanpa ilmu bela diri.
Ia datang menemui panglima musuh, Sultan Malik al-Kamil, hanya dengan mengajak salah seorang pengikutnya. Fransiskus sepenuhnya percaya bahwa kasih Allah akan melindunginya.
Ketika berjumpa dengan sultan tersebut, kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya adalah, “Pace e bene,” yang berarti “damai dan segala yang baik” (bagimu). Justru karena kesederhanaan dan ketulusannya, Fransiskus diterima dengan baik oleh Sultan Malik.
Akhirnya, terjadilah percakapan dan terjalinlah persahabatan yang baik di antara mereka. Benarlah kata Tuhan kita Yesus Kristus bahwa “seorang pekerja patut mendapat upahnya”.
Upah di sini tidak selalu harus kita artikan sebagai barang, uang, makanan, atau minuman. Berkat melimpah, persahabatan, sukacita, dan damai sejahtera pun juga merupakan upah yang didapatkan oleh seorang pekerja.
Karena itu, menjadi murid Kristus, kita dituntut untuk berani percaya sepenuhnya pada penyelenggaraan ilahi.
Tuhan Yesus yang penuh kasih,
kami bersyukur atas sabda-Mu yang hari ini meneguhkan iman kami.
Engkau mengajar kami untuk tidak bergantung pada kekuatan, bekal,
atau rasa aman duniawi,
melainkan percaya sepenuhnya pada penyelenggaraan kasih-Mu.
Sering kali kami masih cemas akan hari esok,
takut kekurangan, dan ragu melangkah.
Ajarlah kami untuk berserah seperti para murid-Mu,
dan seperti Santo Fransiskus dari Assisi
yang berani melangkah dengan hati penuh damai dan kepercayaan.
Berilah kami hati yang sederhana,
iman yang teguh, dan keberanian untuk menjadi saksi kasih-Mu
di tengah dunia yang penuh tantangan.
Semoga dalam setiap perjalanan hidup,
kami selalu menemukan berkat-Mu
dalam persahabatan, sukacita, dan damai sejahtera.
Kami menyerahkan seluruh hidup kami ke dalam tangan-Mu,
sebab kami percaya Engkau senantiasa menyertai dan mencukupi kami. Doa ini kami sampaikan kepada Mu karena Engkaulah Tuhan kami dulu, kini, hingga sepanjang segala abad.
Amin.
Demikianlah renungan harian Katolik Senin, 26 Januari 2026. Semoga bermanfaat!







