Seluruh jenazah korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel), sudah teridentifikasi. Tim Disaster Victim Identification (DVI) mengidentifikasi seluruh korban salah satunya melalui sidik jari.
Kapusident Bareskrim Mabes Polri Brigjen Mashudi mengatakan tujuh kantong jenazah yang terakhir diterima tim DVI masih bisa teridentifikasi. Sidik jari diambil baik pada jari jempol, telunjuk, maupun kelingking.
“Kemarin dari tujuh kantong jenazah yang diterima memang semuanya masih bisa teridentifikasi dengan sidik jari,” ujar Mashudi dalam konferensi pers di Biddokkes Polda Sulsel, Sabtu (24/1/2026).
Mashudi menjelaskan sidik jari menjadi salah satu data yang mudah diidentifikasi sebab sidik jari setiap orang berbeda-beda. Sehingga, tim DVI bisa dengan cepat membaca ciri-ciri khusus dari jenazah korban.
“Jadi memang kuasa Tuhan itu memberikan kita manusia itu identitasnya dengan sidik jari. Jempol kanan, jempol kiri ataupun jari telunjuk, jari kelingking itu semuanya beda. Memiliki ciri-ciri khusus bentuknya,” ujar dia.
“Kemudian papiler itu memiliki ciri-ciri. Inilah yang memberikan ciri-ciri khusus dan pembandingan sidik jari melalui manual ini, minimal kita menemukan 12 titik disamakan. Kalau sudah ditemukan 12 titik kesamaan, karena memang kan sidik jari tidak sempurna, semuanya terekam. Sehingga itu sudah dinyatakan identik,” sambungnya.
Mashudi tidak menampik ada jenazah yang sidik jarinya sudah menipis. Namun, masih bisa terbaca atas ketelitian tim dengan meyakininya berdasarkan keilmuan dan saintek.
“Walaupun sudah mulai menipis tapi dengan ketelitian anggota ini bisa juga menemukan kesamaan. Dan keseluruhan kami meyakini dengan keilmuan dan saintek yang kita miliki, semuanya bisa teridentifikasi dan bisa meyakinkan,” ucap Mashudi.
Diketahui, tujuh jenazah yang baru teridentifikasi ialah Pilot Captain Andi Dahanto dan Kopilot Farhan Gunawan. Selain itu ada Flight Operation Officer (FOO) Hariadi dan dua orang Engineer on Board (EOB) atau teknisi bernama Resti Ad dan Dwi Murdiono. Sementara dua pegawai KKP ialah Ferry Irawan dan Yoga Naufal.
Sebelumnya, tiga jenazah sudah terlebih dahulu teridentifikasi. Mereka adalah Florencia Lolita Wibisono, Deden Maulana, dan Esther Aprilita S.
