Setiap hari, berbagai peringatan dirayakan di sejumlah belahan dunia dengan tema yang beragam, mulai dari budaya, sejarah, hingga kesadaran sosial. Hal tersebut juga terjadi pada Rabu, 7 Januari 2026, yang memiliki beberapa peringatan menarik untuk diketahui.
Lantas tanggal 7 Januari memperingati apa saja?
Setidaknya ada empat perayaan unik yang diperingati secara internasional maupun nasional pada tanggal ini. Pada skala global, ada peringatan Hari Distaff dan Hari Batu Tua, sedangkan secara nasional terdapat Hari Natal Orthodox dan Hari “Aku Tak Akan Menahan Diri Lagi” di Amerika Serikat.
Masing-masing peringatan tersebut memiliki latar belakang dan tujuan tersendiri. Untuk mengetahuinya, yuk, simak ulasannya di bawah ini!
Hari Distaff atau biasa disebut Hari Roc adalah perayaan tahunan yang dirayakan secara Internasional. Melansir National Today, Hari Distaff adalah hari untuk merayakan tradisi pemintalan benang oleh perempuan dan upaya keras perempuan dalam industri tekstil.
Distaff adalah alat yang digunakan dalam pemintalan untuk menahan wol atau rami sebelum dipintal ke gelendong, dan alat ini akan menjaga serat tetap tidak kusut dan membuat seluruh proses pemintalan lebih mudah. Hari Distaff berakar pada tradisi lama di mana perempuan kembali melakukan pekerjaan rutin mereka tersebut 12 setelah Natal.
Pemintalan sangat penting dalam tradisi Eropa dan sepanjang sejarah tekstil. Saat ini, pemintalan telah menjadi lebih dari sekadar pekerjaan rumah tangga, melainkan juga hobi. Berbagai jenis pemintal benang meliputi pemintal benang dasar, yang hanya berupa tongkat halus, dan pemintal benang gaya Rusia, yang lebih dekoratif dan berbentuk seperti papan.
Sebelum roda pemintal ditemukan pada tahun 1533, wanita menggunakan alat pemintal (distaff) dan gelendong (spindle) untuk memintal serat wol atau rami. Cara umum untuk memegang alat pemintal adalah dengan memegangnya di bawah lengan saat memintal atau memasangnya pada roda pemintal yang telah ditentukan.
Penggunaan alat pemintal dan roda pemintal secara perlahan diakui sebagai hak eksklusif wanita dan simbol dari sisi keibuan dalam keluarga. Penulis seperti Chaucer dan Shakespeare juga banyak menggunakan kata ‘distaff’ dalam karya mereka, mempopulerkan simbolisme tersebut.
Hari Batu Tua yang diperingati setiap 7 Januari bertujuan untuk mengenang sejarah panjang Bumi sekaligus memberi penghormatan kepada para ahli geologi yang telah berjasa membantu manusia memahami bebatuan dan proses pembentukannya.
Kajian tentang batuan pertama kali diperkenalkan oleh Theophrastus dari Yunani Kuno 287 SM melalui karyanya berjudul Peri Lithon (Tentang Batu). Karya ini menjadi fondasi awal ilmu geologi dan menginspirasi banyak ilmuwan setelahnya untuk meneliti berbagai jenis bebatuan.
Studi tersebut kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Plinius (Pliny the Elder) tahun 79 M, yang mencatat berbagai mineral dan logam secara rinci dengan penekanan pada kegunaan praktisnya. Meski bekerja tanpa peralatan modern, Plinius berhasil mengidentifikasi asal-usul amber sebagai resin pohon yang membatu.
Istilah “geologi” sendiri baru digunakan untuk pertama kalinya pada tahun 1603 oleh naturalis Italia Ulisse Aldrovandi. Sekitar 150 tahun kemudian, ahli geologi Inggris William Smith menggambar peta geologi pertama di dunia. Karyanya menjadi tonggak penting dalam pengurutan lapisan batuan melalui pengamatan fosil yang terkandung di dalamnya.
Pada tahun 1785, James Hutton mempresentasikan makalah berjudul Theory of the Earth kepada Royal Society of Edinburgh. Dalam karyanya, Hutton mengemukakan gagasan revolusioner bahwa usia Bumi jauh lebih tua dari perkiraan sebelumnya. Pemikirannya menjadikannya dikenal luas sebagai bapak geologi modern.
Perkembangan ilmu geologi terus berlanjut. Pada tahun 1809, William Maclure berhasil menyusun peta geologi pertama Amerika Serikat setelah menjelajahi wilayah tersebut selama dua tahun. Terobosan besar lainnya terjadi pada awal abad ke-20 dengan ditemukannya penanggalan radiometrik, yang memungkinkan ilmuwan menghitung usia batuan secara akurat melalui unsur radioaktif di dalamnya.
Penemuan ini akhirnya menegaskan bahwa Bumi adalah planet yang sangat tua, terbentuk melalui proses geologis yang berlangsung selama miliaran tahun.
Hari Natal Ortodoks dirayakan setiap tanggal 7 Januari setiap tahunnya di Amerika Serikat. Dalam kalender Julian, kalender yang lebih tua sebelum kalender Gregorian yang digunakan saat ini Hari Natal dirayakan pada tanggal 7 Januari.
Hingga saat ini, meskipun sudah menggunakan penanggalan Gregorian dan umumnya umat Kristen merayakan Natal pada 25 Desember, Gereja Ortodoks masih menggunakan kalender lama yang sama untuk merayakan Hari Natal. Umat Kristen Ortodoks merayakannya dengan pergi ke gereja dan melakukan tradisi lain seperti membakar kemenyan untuk menghormati Tiga Raja kepada bayi Yesus.
Natal adalah periode yang sangat dinantikan oleh banyak orang di seluruh dunia. Momen ini menjadi waktu untuk kembali terhubung dengan keluarga dan orang-orang terkasih, saling berbagi kasih sayang, memberi dan menerima hadiah, serta beristirahat dari kesibukan sehari-hari. Lebih dari itu, Natal memiliki makna yang jauh lebih dalam bagi umat Kristiani, yakni sebagai perayaan kelahiran Yesus Kristus, Sang Juru Selamat.
Baik yang merayakan Natal pada 25 Desember maupun 7 Januari, perayaan ini menjadi saat penuh sukacita yang dirayakan melalui berbagai tradisi dan kebiasaan. Mulai dari menyelenggarakan dan menghadiri nyanyian serta konser Natal, memasang pohon Natal dan lampu hias, hingga membuat aneka kue Natal yang indah dan lezat. Semua tradisi tersebut memperkaya makna Natal sebagai perayaan iman, harapan, dan kasih yang menyatukan banyak orang.
Selain Hari Natal Ortodoks pada tanggal 7 Januari 2026 di Amerika Serikat juga diperingati Hari “Aku Tak Akan Menahan Diri Lagi”. Hari ini adalah hari yang didedikasikan untuk membela diri dan mengambil kendali.
Tujuannya sederhana yakni mengajak Anda memulai tahun dengan sikap baru yang lebih tegas sekaligus jujur pada diri sendiri. Anda tidak perlu marah atau meledak-ledak untuk ikut merayakannya, cukup berani berkata jujur pada perasaan sendiri dan tahu kapan harus berhenti saat merasa sudah cukup.
Jika ditarik ke belakang, konsep “tidak lagi menahan diri” sejatinya sudah lama hadir dalam sejarah manusia, salah satunya melalui revolusi. Dalam ilmu politik dan sejarah, revolusi dipahami sebagai perubahan radikal terhadap tatanan yang diterima.
Ini biasanya merujuk pada pemerintahan atau lembaga sosial yang mapan. Revolusi bisa terjadi tiba-tiba, terkadang bahkan disertai kekerasan. Mereka yang memulai revolusi telah menyimpulkan bahwa lembaga-lembaga yang ada di masyarakat tersebut tidak lagi memenuhi tujuannya atau telah gagal sepenuhnya.
Dari Yunani kuno hingga Abad Pertengahan Eropa, revolusi kerap dipandang sebagai ancaman karena dianggap sebagai kekuatan yang merusak. Namun para filsuf besar memiliki pandangan yang berbeda. Aristoteles memandang revolusi sebagai dorongan manusia untuk memperoleh kehormatan dan kesetaraan, sementara Plato percaya bahwa kemerosotan nilai sosial membuat masyarakat rentan terhadap perubahan besar.
Seiring waktu, terutama memasuki era Renaisans dan Zaman Pencerahan, gagasan terhadap revolusi mulai berubah. Revolusi dipandang sebagai hal yang diperlukan untuk kemajuan.
Ketidakpuasan terhadap monarki absolut, ketimpangan sosial, dan pembatasan kebebasan melahirkan keberanian kolektif untuk bersuara dan bertindak. Dari tahun 1450 hingga 1750, banyak konsep politik dan filosofis berubah di seluruh dunia. Orang-orang memperoleh lebih banyak pengetahuan dan menerima ide-ide baru. Sebagian besar negara di Eropa diperintah oleh monarki absolut dan orang-orang mulai mempertanyakan pemerintahan absolut ini, dengan meningkatnya ketidakpuasan.
Zaman Pencerahan pada tahun 1700-an membawa revolusi di seluruh dunia. Revolusi ini tidak hanya mengubah sistem politik negara, tetapi juga membawa perubahan dalam masyarakat.
Itulah ulasan peringatan yang dirayakan pada tanggal 7 Januari. Semoga menambah wawasan ya, infoers!







