Jadwal Isra Miraj 2026 Lengkap Sejarah, Dalil, dan Hikmah Peringatannya - Giok4D

Posted on

Peringatan Isra Miraj 2026 menjadi momen untuk merenungkan salah satu peristiwa paling bermakna dalam sejarah Islam. Peristiwa ini bukan hanya tentang perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW, tetapi juga tentang kebesaran Allah SWT.

Isra Miraj merupakan peristiwa yang menjadi dasar ditetapkannya perintah sholat lima waktu bagi umat Islam. Kisah ini pun disebutkan dalam ayat Al-Quran dan sejumlah hadits shahih.

Untuk menyambut peringatan Isra Miraj, penting memahami peristiwa ini secara utuh agar dapat merenungkannya dengan baik. Karena itu, artikel ini akan menyajikan jadwal Isra Miraj 2026 yang dilengkapi sejarah peringatan, dalil, hingga hikmahnya.

Disimak, yuk!

Isra Miraj diperingati setiap 27 Rajab dalam penanggalan kalender Hijriah. Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama, 27 Rajab 1447 H jatuh pada 16 Januari 2026.

Artinya, peringatan Isram Miraj 2026 bertepatan dengan hari Jumat, 16 Januari.

Namun, perlu diingat bahwa pergantian hari dalam kalender Hijriah terjadi pada waktu Maghrib. Maka, 27 Rajab 1447 H telah dimulai sejak Maghrib pada Kamis, 15 Januari 2026 dan berakhir pada waktu Maghrib di hari Jumat, 16 Januari 2026.

Agar lebih jelas, berikut rinciannya:

Kabar baiknya, peringatan bersejarah ini ditetapkan sebagai hari libur nasional di Indonesia. Ketetapan ini tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri tentang Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2026.

Karena berdekatan dengan akhir pekan, masyarakat Indonesia dapat menikmati libur Isra Miraj selama 3 hari berturut-turut. Berikut rincian jadwal libur panjang Isra Miraj 2026:

Disadur dari buku Isra & Miraj: Perjalanan Kepada yang Maha Agung oleh Zulkifli Mohamad Al Bakri, Isra berasal dari kata asra yang berarti perjalanan waktu malam. Secara istilah, Isra berarti Nabi Muhammad melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa pada malam hari.

Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.

Sementara Miraj secara bahasa memiliki arti alat untuk naik. Secara istilah, Miraj adalah perjalanan Nabi Muhammad naik dari Bumi ke langit melewati tingkatan langit sampai ke langit ketujuh.

Dalam Kitab Dardir Bainama (Qisah Isra Mi’raj) karya Syaikh Najmuddin al Ghaithi, peristiwa bersejarah ini bermula ketika Nabi Muhammad SAW beristirahat di samping Hijir Ismail, dekat Ka’bah. Pada malam itu, Malaikat Jibril datang dan membelah dada Rasulullah SAW untuk menyucikan hati dan batinnya.

Malaikat Jibril menyucikan hati Rasulullah SAW dengan air zam-zam yang dibawa oleh malaikat Mikail dalam sebuah bokor emas. Setelah disucikan, dada Rasulullah dikembalikan seperti semula, lalu diberi gelar kenabian oleh kedua malaikat tersebut.

Setelah itu, Nabi Muhammad SAW disediakan buraq, hewan berbulu putih, sebagai kendaraan. Rasulullah kemudian naik ke atasnya dan melakukan perjalanan dengan didampingi oleh Malaikat Jibril dan Mikail.

Selama perjalanan Isra, Rasulullah singgah di beberapa tempat bersejarah untuk melaksanakan sholat sunnah, seperti Madinah, Bukit Tursina, dan Betlehem. Perjalanan berlanjut hingga Nabi Muhammad SAW tiba di Baitul Maqdis dan melaksanakan sholat dua rakaat di Masjidil Aqsha.

Di sana, Rasulullah menjadi imam sholat bagi para nabi, rasul, dan malaikat, yang dikumpulkan oleh Allah SWT. Setelah salam, Jibril memberitahu kepada Rasulullah bahwa orang-orang yang sholat di belakangnya adalah para nabi dan rasul yang diutus Allah SWT.

Setelah itu, Nabi SAW melakukan Miraj bersama Jibril dengan menaiki tangga terbuat dari perak dan emas yang berasal dari Surga Firdaus. Selama perjalanannya, Rasulullah bertemu dengan para nabi, mulai dari Nabi Adam AS hingga Nabi Ibrahim AS di langit ketujuh.

Nabi Muhammad kemudian dibawa naik menuju Sidratul Muntaha yang disebut sebagai tempat akhir dari semua amal manusia dari Bumi. Rasulullah SAW lalu dihadapkan kepada Allah SWT, kemudian dia bersujud kepada-Nya.

Pada momen inilah Allah SWT mewajibkan sholat 50 waktu dalam sehari kepada umat Nabi Muhammad SAW. Setelahnya, Nabi Muhammad pun turun dari Sidratul Muntaha, bertemu dengan Nabi Musa AS dan menceritakan kewajiban sholat 50 waktu yang diperintahkan Allah SWT kepada umatnya.

Nabi Musa AS kemudian berkata, “Berkenanlah kiranya engkau untuk kembali ke hadapan Allah dan mintalah keringanan untuk dirimu dan umatmu”. Dengan persetujuan Malaikat Jibril, Nabi SAW kembali ke hadapan Allah SWT kemudian sujud meminta agar diberi keringanan jumlah sholat kepada umatnya. Allah SWT lalu berkata: “Aku kurangi lima untuk umatmu.”

Nabi Muhammad SAW kembali turun dan menceritakannya kepada Nabi Musa AS. Namun, Nabi Musa kembali meminta Rasulullah untuk meminta keringanan kepada Allah SWT, karena umat Nabi Muhammad SAW masih belum mampu mengerjakannya.

Hal itu terus dilakukan Rasulullah SAW hingga akhirnya, perintah sholat lima puluh waktu diringankan menjadi lima waktu saja. Allah SWT berkata: “sholat itu kerjakanlah dalam waktu sehari-semalam. Adapun pahalanya setiap satu kali sholat adalah sepuluh kali lipat. Jadi, lima kali sholat itu sama halnya dengan pahala lima puluh kali sholat.”

Kemudian turunlah Nabi SAW menemui Nabi Musa AS. Nabi Musa berkata, “Berkenanlah kiranya kamu ya Muhammad untuk kembali lagi ke hadapan Allah, Tuhanmu untuk meminta keringanan. Sesungguhnya umatmu masih belum sanggup untuk mengerjakannya”.

Akan tetapi, Nabi Muhammad SAW merasa malu karena sudah bolak-balik meminta keringanan kepada Allah SWT. Oleh karenanya, Rasulullah ikhlas dan ridha dengan perintah sholat lima waktu.

Dengan diterimanya wahyu tersebut, Nabi Muhammad SAW turun kembali ke Bumi untuk menyampaikan perintah sholat. Itulah akhir dari perjalanan Miraj Nabi SAW dari Baitul Maqdis ke langit tertinggi.

Perjalanan agung Rasulullah SAW dikisahkan dalam Al-Quran dan hadits. Dalil ini menggambarkan perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW sekaligus menegaskan kedudukan dan kemuliaannya di sisi Allah SWT.

Untuk lebih jelasnya, berikut masing-masing ayat dan hadits yang menjelaskan tentang perjalanan Isra dan Miraj Nabi Muhammad SAW:

Peristiwa Isra Miraj disebutkan dalam surat Al-Isra ayat 1 dan surat An-Najm ayat 12-18. Dilansir dari laman Quran Kementerian Agama:

سُبْحْنَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَا الَّذِي بِرَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ايْتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya: Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

اَفَتُمٰرُوْنَهٗ عَلٰى مَا يَرٰى

Artinya: Apakah kamu (kaum musyrik Mekkah) hendak membantahnya (Nabi Muhammad) tentang apa yang dilihatnya itu (Jibril)?

وَلَقَدْ رَاهُ نَزْلَةً أُخْرَى

Artinya: Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain,

عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى

Artinya: (yaitu ketika) di Sidratulmuntaha.

عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى

Artinya: Di dekatnya ada surga tempat tinggal.

إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى

Artinya: (Nabi Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratulmuntaha dilingkupi oleh sesuatu yang melingkupinya.

مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى

Artinya: Penglihatan (Nabi Muhammad) tidak menyimpang dan tidak melampaui (apa yang dilihatnya).

لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى

Artinya: Sungguh, dia benar-benar telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang sangat besar.

Berikut adalah hadits shahih yang menjelaskan tentang perjalanan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW:

Dijelaskan dalam buku Isra & Miraj: Perjalanan Kepada yang Maha Agung bahwa peristiwa Isra bermula ketika Nabi Muhammad SAW beristirahat di Masjidil Haram, tepatnya di dekat Ka’bah. Pada malam itu, Malaikat Jibril datang dan membelah dada Rasulullah SAW untuk menyucikan hati dan batinnya.

Hal ini diterangkan dalam hadist riwayat Bukhari, dari Anas bin Malik:

لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ مَسْجِدِ الكَعْبَةِ، أَنَّهُ جَاءَهُ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ قَبْلَ أَنْ يُوحَى إِلَيْهِ وَهُوَ نَائِمٌ فِي الْمَسْجِدِ الحَرَامِ، فَقَالَ أَوَّهُمْ : أَيُّهُمْ هُوَ ؟ فَقَالَ أَوْسَطُهُمْ: هُوَ خَيْرُهُمْ، فَقَالَ آخِرُهُمْ: خُذُوا خَيْرُهُمْ، فَكَانَتْ تِلْكَ اللَّيْلَةَ، فَلَمْ يَرَهُمْ حَتَّى أَتَوْهُ لَيْلَةً أُخْرَى فِيمَا يَرَى قَلْبُهُ، وَتَنَامُ عَيْنُهُ وَلَا يَنَامُ قَلْبُهُ، وَكَذَلِكَ الأَنْبِيَاءُ تَنَامُ أَعْيُنُهُمْ وَلَا تَنَامُ قُلُوبُهُمْ، فَلَمْ يُكَلِّمُوهُ حَتَّى احْتَمَلُوهُ ، فَوَضَعُوهُ عِنْدَ بِثْرِ زَمْزَمَ، فَتَوَلَّاهُ مِنْهُمْ جِبْرِيلُ، فَشَقَّ جِبْرِيلُ مَا بَيْنَ نَحْرِهِ إِلَى لَبَّتِهِ حَتَّى فَرَغَ مِنْ صَدْرِهِ وَجَوْفِهِ، فَغَسَلَهُ مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ بِيَدِهِ، حَتَّى أَنقَى جَوْفَهُ، ثُمَّ أُتِيَ بِطَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ فِيهِ تَوْرٌ مِنْ ذَهَبٍ، مَحْشُوا إِيمَانًا وَحِكْمَةً، فَحَشَا بِهِ صَدْرَهُ وَلَغَادِيدَهُ – يَعْنِي عُرُوقَ حَلْقِهِ – ثُمَّ أَطْبَقَهُ ثُمَّ عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا

Artinya: “Pada malam Rasulullah SAW diisrakkan dari masjid Ka’bah (Masjid Haram), telah datang kepadanya tiga malaikat sebelum Baginda SAW diberikan wahyu, sewaktu Baginda SAW sedang tidur di Masjid Haram. Malaikat pertama berkata: ‘Yang mana satu dia dalam kalangan mereka?’ Malaikat yang di tengah berkata: ‘Dia adalah orang yang paling baik di antara mereka.’ Malaikat terakhir berkata: ‘Ambillah orang yang terbaik dalam kalangan mereka. Itulah yang berlaku pada malam itu. Setelah itu, Baginda SAW tidak lagi melihat mereka, sehinggalah mereka datang lagi pada malam lainnya, seperti yang dilihat dengan hatinya. Ini kerana mata Baginda SAW tidur tetapi hatinya tidak tidur. Sememangnya begitulah keadaan para nabi; mata mereka tidur namun hati mereka tidak tidur. Para malaikat itu tidak berbicara dengan Baginda SAW. Kemudian mereka membawanya lalu meletakkannya berdekatan telaga zamzam. Baginda SAW diserahkan oleh mereka kepada Jibril. Setelah itu, Jibril membelah kawasan antara bahagian leher sehingga bahagian tengah dada, lalu dia membuat ruang pada dada dan rongga tubuhnya, kemudian dia mencucinya dengan air zamzam dengan tangannya sendiri, sehingga bersihlah rongga dalam Baginda SAW. Kemudian dia dibawakan dulang yang dibuat daripada emas. Di dalamnya terdapat bekas minuman yang diperbuat daripada emas, berisi keimanan dan hikmah, lalu Jibril mengisi dada dan urat-urat tenggoroknya dengan itu. Seterusnya, dia merapatkannya (kembali). Setelah itu, Jibril membawanya naik ke langit dunia…” (HR al-Bukhari [7517])

Setelah itu, Nabi Muhammad SAW disediakan buraq, hewan berbulu putih, sebagai tunggangan atau kendaraan untuk melakukan perjalanan. Rasulullah kemudian naik ke atasnya dan melakukan perjalanan ke Masjidil Aqsa.

Keterangan tersebut dijelaskan dalam hadits riwayat Muslim dan Ahmad, dari Anas bin Malik RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ قَالَ فَرَكِبْتُهُ حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ قَالَ فَرَبَطْتُهُ بِالْحَلْقَةِ الَّتِي يَرْبِطُ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ

Artinya: “Aku telah didatangi Buraq, yaitu seekor binatang yang berwarna putih, lebih tinggi daripada keldai tetapi lebih kecil daripada baghal. Satu langkah kakinya berada di hujung pandangannya. Baginda bersabda lagi: ‘Maka aku segera menungganginya sehingga sampai ke Baitul Maqdis.’ Baginda bersabda lagi: ‘Kemudian aku mengikatnya pada tiang masjid sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para Nabi.” (HR Muslim [162] dan Ahmad [12527])

Selain itu, dijelaskan lebih rinci dalam hadits riwayat Imam Muslim lainnya, dari Anas Bin Malik RA sebagaimana dilansir dari laman Muslim.or.id:

Rasulullah SAW bersabda:

“Didatangkan kepadaku Buraq-yaitu yaitu hewan putih yang panjang, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal, dia meletakkan telapak kakinya di ujung pandangannya (maksudnya langkahnya sejauh pandangannya). Maka saya pun menungganginya sampai tiba di Baitul Maqdis, lalu saya mengikatnya di tempat yang digunakan untuk mengikat tunggangan para Nabi. Kemudian saya masuk ke masjid dan shalat 2 rakaat kemudian keluar. Kemudian datang kepadaku Jibril ‘alaihis salaam dengan membawa bejana berisi khamar dan bejana berisi air susu. Aku memilih bejana yang berisi air susu. Jibril kemudian berkata : “Engkau telah memilih (yang sesuai) fitrah”.

Setelah itu, Nabi SAW melakukan perjalanan ke langit bersama Jibril dengan menaiki tangga berbahan perak dan emas yang berasal dari Surga Firdaus. Selama perjalanannya, Rasulullah bertemu dengan para nabi di setiap tingkatan langit.

Masih dari laman Muslim.or.id, berikut hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, yang menceritakan perjalanan Nabi SAW menuju langit ke-7:

“Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit (pertama) dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan:”Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:”Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit) dan saya bertemu dengan Adam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian kami naik ke langit kedua, lalu Jibril ‘alaihis salaam meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):”Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril”. Dikatakan lagi:”Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:”Muhammad” Dikatakan:”Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:”Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit kedua) dan saya bertemu dengan Nabi ‘Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakariya shallawatullahi ‘alaihimaa, Beliau berdua menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit ketiga dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):”Siapa engkau?” Dia menjawab:”Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:”Muhammad” Dikatakan:”Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:”Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit ketiga) dan saya bertemu dengan Yusuf ‘alaihis salaam yang beliau telah diberi separuh dari kebagusan (wajah). Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit keempat dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):”Siapa engkau?” Dia menjawab:”Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab: “Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit keempat) dan saya bertemu dengan Idris alaihis salaam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Allah berfirman yang artinya: “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi” (QS Maryam:57)

Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit kelima dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):”Siapa engkau?” Dia menjawab:”Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:”Muhammad” Dikatakan:”Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:”Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit kelima) dan saya bertemu dengan Harun ‘alaihis salaam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit keenam dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab:”Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:”Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit) dan saya bertemu dengan Musa. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit ketujuh dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab, “Muhammad” Dikatakan, “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab, “Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit ketujuh) dan saya bertemu dengan Ibrahim. Beliau sedang menyandarkan punggungnya ke Baitul Ma’muur. Setiap hari masuk ke Baitul Ma’muur tujuh puluh ribu malaikat yang tidak kembali lagi. Kemudian Ibrahim pergi bersamaku ke Sidratul Muntaha. Ternyata daun-daunnya seperti telinga-telinga gajah dan buahnya seperti tempayan besar. Tatkala dia diliputi oleh perintah Allah, dia pun berubah sehingga tidak ada seorangpun dari makhluk Allah yang sanggup menggambarkan keindahannya.

Nabi Muhammad kemudian dibawa menuju Sidratul Muntaha yang disebut sebagai tempat akhir dari semua amal manusia di Bumi. Rasulullah SAW lalu dihadapkan kepada Allah SWT dan bersujud kepada-Nya.

Pada momen inilah Allah SWT memberikan wahyu berupa perintah sholat wajib kepada umat Nabi Muhammad SAW. Awalnya, Allah SWT mewajibkan sholat wajib 50 waktu, namun atas saran dari Nabi Musa AS kepada Rasulullah dan atas kasih sayang Allah, maka jumlah tersebut diringankan menjadi 5 waktu.

Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah yang dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan Muslim, dari sahabat Anas bin Malik:

“Lalu Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia wahyukan. Allah mewajibkan kepadaku 50 shalat sehari semalam. Kemudian saya turun menemui Musa ‘alaihis salam. Lalu dia bertanya: “Apa yang diwajibkan Tuhanmu atas ummatmu?”. Saya menjawab: “50 shalat”. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan, karena sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya. Sesungguhnya saya telah menguji dan mencoba Bani Isra`il”. Beliau bersabda :”Maka sayapun kembali kepada Tuhanku seraya berkata: “Wahai Tuhanku, ringankanlah untuk ummatku”. Maka dikurangi dariku 5 shalat. Kemudian saya kembali kepada Musa dan berkata:”Allah mengurangi untukku 5 shalat”. Dia berkata:”Sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya, maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”. Maka terus menerus saya pulang balik antara Tuhanku Tabaraka wa Ta’ala dan Musa ‘alaihis salaam, sampai pada akhirnya Allah berfirman:”Wahai Muhammad, sesungguhnya ini adalah 5 shalat sehari semalam, setiap shalat (pahalanya) 10, maka semuanya 50 shalat. Barangsiapa yang meniatkan kejelekan lalu dia tidak mengerjakannya, maka tidak ditulis (dosa baginya) sedikitpun. Jika dia mengerjakannya, maka ditulis(baginya) satu kejelekan”. Kemudian saya turun sampai saya bertemu dengan Musa’alaihis salaam seraya aku ceritakan hal ini kepadanya. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”, maka saya pun berkata: “Sungguh saya telah kembali kepada Tuhanku sampai saya pun malu kepada-Nya”. (HR Muslim Nomor 162)

Setelah penjelasan mengenai sejarah perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW di atas, ada beberapa hikmah yang dapat dipelajari dari peristiwa agung tersebut, yakni:

Dilansir dari laman Muslim.or.id, perjalanan Isra Nabi Muhammad dari Mekkah ke Baitul Maqdis menjadi penguat hujjah atau argumen di hadapan orang-orang musyrik. Jika Rasulullah langsung melakukan perjalanan Miraj ke langit, peristiwa tersebut akan sulit dibuktikan ketika dipertanyakan oleh mereka.

Karena itu, ketika orang-orang musyrik mendatanginya dan bertanya, Nabi Muhammad SAW menceritakan pertemuannya dengan kafilah yang dijumpainya selama perjalanan Isra. Ketika kafilah tersebut kembali dan memberikan kesaksian, orang-orang musyrik pun mengetahui bahwa apa yang disampaikan oleh Nabi SAW adalah benar.

Melalui peristiwa Isra Miraj, Allah SWT menunjukkan keutamaan Nabi Muhammad SAW dibandingkan nabi-nabi lainnya. Pada peristiwa tersebut, Rasulullah SAW bertemu dengan para nabi di Baitul Maqdis dan menjadi imam sholat bagi mereka.

Peristiwa Isra Miraj menggambarkan hubungan antara Mekkah dan Baitul Maqdis sebagai kiblat dalam sejarah Islam. Para pengikut nabi terdahulu menghadapkan wajah mereka ke Baitul Maqdis ketika beribadah, sementara kaum Nabi SAW menghadap ke Mekkah Al-Mukarramah.

Hal ini sekaligus menunjukkan keutamaan Nabi Muhammad SAW yang menyaksikan kedua kiblat tersebut dalam satu malam.

Disadur dari laman resmi Kementerian Agama RI, perjalanan Isra dan Miraj Nabi Muhammad SAW merupakan peristiwa bersejarah saat Rasulullah menerima perintah sholat wajib lima waktu dari Allah SWT. Istimewanya, perintah tersebut diterima secara langsung oleh Rasulullah tanpa melalui perantara.

Melalui peristiwa tersebut, umat Islam dapat memetik hikmah berharga tentang betapa pentingnya kedudukan sholat dalam ajaran Islam. Sholat menjadi ibadah utama yang mendekatkan seorang muslim kepada Allah SWT.

Demikianlah ulasan mengenai peringatan Isra Miraj 2026, mulai dari jadwal, dalil, hingga hikmahnya. Semoga bermanfaat!

Jadwal Peringatan Isra Miraj 2026

Libur Isra Miraj 2026

Sejarah Isra Miraj Nabi Muhammad SAW

Dalil tentang Isra Miraj

Ayat tentang Isra Miraj

Hadits tentang Isra Miraj

Hikmah Isra Miraj

1. Memperkuat Hujjah bagi Orang Musyrik

2. Keutamaan Nabi Muhammad SAW

3. Menunjukkan Hubungan antara Mekkah dan Baitul Maqdis

4. Sholat 5 Waktu