Penentuan awal bulan Syaban 1447 Hijriah menjadi informasi yang banyak dicari umat Islam. Pasalnya, bulan Syaban dikenal sebagai salah satu bulan istimewa yang kerap dimanfaatkan sebagai masa persiapan spiritual sebelum memasuki Bulan Suci Ramadan.
Perbedaan penetapan tanggal Hijriah kerap terjadi karena ada berbagai metode yang digunakan di Indonesia, mulai dari rukyatul hilal atau pengamatan langsung terhadap hilal, dan hisab atau perhitungan astronomi. Perbedaan metode inilah yang memungkinkan penetapan awal bulan Syaban antara pemerintah dengan berbagai organisasi Islam di Indonesia tidak selalu seragam.
Lantas, kapan 1 Syaban 2026/1447 H menurut Pemerintah, Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah?
Untuk mengetahui jawabannya, berikut infoSulsel sajikan jadwal serta konversi tanggalnya. Yuk, simak selengkapnya!
Penetapan resmi awal Syaban 1447 H versi pemerintah tercantum dalam Kalender Hijriah 1447 H/2026 yang diterbitkan Kementerian Agama (Kemenag). Berdasarkan kalender tersebut, 1 Syaban 1447 H ditetapkan jatuh pada Selasa, 20 Januari 2026.
Perlu diketahui, pergantian hari dalam kalender Hijriah dimulai sejak waktu Maghrib, bukan tengah malam seperti kalender Masehi. Oleh karena itu, 1 Syaban 1447 Hijriah sudah dimulai sejak Maghrib pada Senin, 19 Januari 2026, dan berakhir saat memasuki Maghrib pada Selasa, 20 Januari 2026.
Agar lebih mudah dipahami, berikut rincian waktunya:
Melansir laman Majelis Ulama Indonesia (MUI), pemerintah melalui Kemenag dalam penetapan awal bulan Hijriah menggunakan metode rukyat. Secara Secara bahasa, rukyat berarti “melihat”, dalam konteks penentuan awal bulan, rukyat dimaknai sebagai kegiatan mengamati hilal atau bulan baru di ufuk, baik dengan mata telanjang maupun menggunakan alat bantu seperti teropong.
Dengan metode rukyat ini, hilal harus benar-benar terlihat secara nyata sebelum awal bulan Hijriah ditetapkan. Oleh karena itu, tanggal-tanggal penting dalam kalender Hijriah yang dirilis pemerintah bersifat tentatif dan dapat mengalami penyesuaian sesuai hasil rukyatul hilal yang dilakukan menjelang pergantian bulan.
Berdasarkan Almanak Tahun 2026 yang disusun oleh Lembaga Falakiyah PCNU Kabupaten Bojonegoro, NU memprakirakan 1 Syaban jatuh pada Selasa, 20 Januari 2026.
“Posisi hilal belum memenuhi kriteria imkanurrukyah sehingga 1 Syaban 1447 H diprediksi jatuh pada Selasa Pahing, 20 Januari 2026,” bunyi keterangan tersebut dikutip infoSulsel, Selasa (19/1/2026).
Melansir laman NU Online, NU juga menggunakan metode rukyat dalam menentukan awal bulan Hijriah, termasuk Syaban. NU mendasarkan penanggalan Hijriah dengan metode rukyatul hilal, yakni observasi bulan secara langsung
Berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) Muhammadiyah juga menetapkan 1 Syaban 1477 Hijriah pada Selasa, 20 Januari 2026. Muhammadiyah menetapkan bulan Syaban hanya berlangsung 29 hari sehingga berakhir pada Selasa, 17 Februari 2026.
Kembali melansir laman MUI, berbeda dengan pemerintah dan NU, Muhammadiyah menggunakan metode hisab dalam menetapkan KHGT. Secara bahasa, hisab berarti menghitung. Sehingga dalam metode ini, penentuan awal bulan mengandalkan perhitungan ilmu falak atau astronomi untuk memastikan apakah hilal telah wujud atau belum.
Muhammadiyah menetapkan bulan Syaban 1447 H berlangsung selama 29 hari, sehingga berakhir pada Selasa, 17 Februari 2026, dan bulan Ramadan diperkirakan dimulai keesokan harinya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis Informasi Prakiraan Hilal saat Matahari Terbenam 19 Januari 2026 M sebagai bahan acuan penentuan awal bulan Syaban 1447 Hijriah. Data ini disusun berdasarkan perhitungan astronomi (hisab) dan dapat digunakan dalam pelaksanaan rukyatul (observasi) hilal di berbagai wilayah Indonesia.
BMKG menjelaskan bahwa konjungsi atau ijtima’, yakni peristiwa ketika posisi Bulan dan Matahari berada pada bujur ekliptika yang sama dengan pengamat di pusat Bumi, terjadi pada Ahad, 18 Januari 2026 pukul 19.51.59 UT. Waktu tersebut setara dengan Senin, 19 Januari 2026 pukul 02.51.59 WIB, 03.51.59 WITA, dan 04.51.59 WIT. Pada saat itu, nilai bujur ekliptika Matahari dan Bulan sama, yakni 298,73 derajat.
BMKG juga mencatat bahwa periode sinodis Bulan, yaitu jarak waktu antara konjungsi sebelumnya (awal Rajab 1447 H) hingga konjungsi berikutnya (awal Syaban 1447 H), berlangsung selama 29 hari 18 jam 9 menit. Sementara itu, waktu Matahari terbenam di Indonesia pada 19 Januari 2026 bervariasi, dengan waktu paling awal terjadi di Jayapura, Papua pada pukul 17.55.12 WIT, dan paling akhir di Calang, Aceh pada pukul 18.45.05 WIB.
Dengan memperhatikan waktu konjungsi dan Matahari terbenam tersebut, BMKG menyimpulkan bahwa konjungsi terjadi sebelum Matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia pada 19 Januari 2026. Berdasarkan data-data tersebut, secara astronomis pelaksanaan rukyatul hilal penentu awal bulan Syaban 1477 H bagi yang menerapkan rukyat dalam penentuannya adalah setelah Matahari terbenam pada tanggal 19 Januari 2026.
Itulah informasi mengenai jadwal 1 Syaban 2026/1447 H menurut pemerintah, NU, maupun Muhammadiyah. Semoga bermanfaat!
