Anggota Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) 45 Makassar, Ahmad Kadim menjadi sosok penting dalam penemuan black box atau kotak hitam pesawat ATR 42-500 PK-THT di lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel). Dia memanjat pohon melepas kotak hitam dari ekor pesawat.
Ahmad mengaku dirinya dan dua anggota Mapala dari Politeknik ATI Makassar yang pertama menemukan ekor pesawat dan dilaporkan ke posko SAR di Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Selasa (20/1). Dia kemudian ditugaskan mengantar anggota SAR gabungan ke lokasi mencari kotak hitam, pada Rabu (21/1) pagi.
“Hari Selasa itu malam, kami bertiga saya dan dari Mapala Atim menyampaikan bahwasannya posisi ekor pesawat. Habis itu kami dapat tugas untuk mengantar teman-teman dari TNI dan beberapa potensi SAR lainnya untuk ikut bergabung dalam pencarian kota hitam tersebut,” kata Ahmad kepada infoSulsel, Minggu (25/1/2026).
Alumni Universitas Bosowa (Unibos) itu mengatakan timnya yang bertugas mencari kotak hitam berangkat dari Posko SAR ke puncak pada Rabu (21/1) sekitar pukul 08.00 Wita. Setelah sampai puncak, mereka kemudian turun ke titik ekor pesawat.
“Sebelum jam 08.00 Wita kami mulai menuju ke puncak, di puncak itu kurang lebih jam 11 kami sampai. Jadi perjalanan dari pos 9 ke puncak turun ke lokasi bangkai ekor,” bebernya.
Dia mengungkapkan lokasi ekor pesawat di lereng gunung atau jurang dengan kedalaman sekitar 300 meter dari puncak. Ekor pesawat itu ternyata tersangkut di atas pohon.
“Ekor pesawat ini menggantung di atas posisinya, berada di atas pohon. Jadi sempat ini ekor pesawat kita goyang dulu supaya tidak jatuh karena bahaya sekali kalau misalkan ada pergeseran (ekor pesawat saat) kita buka (kotak hitam), itu bahaya sekali,” jelasnya.
Melihat ekor pesawat yang tidak terjatuh, Ahmad kemudian memanjat pohon untuk mengecek kotak hitam di ekor pesawat. Dia membawa parang saat memanjat pohon dan membutuhkan waktu sekitar 10 menit melepas kotak hitam dari dudukannya.
“Jadi saya manjat ke atas, saya bawa parang, saya buka (kotak hitam). Itu kurang lebih sekitar 10 menit saya di atas di ekor pesawat itu cari cara bagaimana caranya ini barang bisa keluar,” ungkapnya.
Dia mengatakan, saat berada di ekor pesawat dia melihat salah satu kotak hitam sudah longgar dari posisinya sehingga mudah diambil. Sementara satunya masih terpasang erat sehingga dia menggunakan parang untuk melepasnya.
“(Kotak hitam) yang satunya ini sudah longgar jadi sisa diambil dari posisinya. Yang satunya ini masih terikat kuat di atas ekor pesawat. Saya usahakan saya parangi itu bautnya. Saya parangi kurang lebih 10 menit. Saya parangi akhirnya keluar,” ucapnya.
Saat memanjat pohon tempat ekor pesawat, Ahmad tidak menggunakan peralatan pengaman karena khawatir ekor pesawat jatuh dari pohon dan langsung jatuh ke tebing dengan kemiringan 90 derajat. Hal itu dilakukan agar bisa langsung melompat jika ekor pesawat tiba-tiba jatuh.
“Jadi untuk naik di atas saya kurang lebih 4 atau 5 meter dari permukaan tanah. Ke bawahnya itu jurang sekali. Makanya waktu saya naik ke posisi black box, saya tidak pakai pengaman karena kalau saya pakai pengaman, ini ekor pesawat jatuh. Bisa-bisa saya terseret,” bebernya.
“Jadi memang saya tidak pakai pengaman. Kalau ada pergeseran, saya bisa langsung lompat. Kemiringan tebingnya 90 derajat,” lanjutnya.
Setelah mengambil kotak hitam itu, dia kemudian kembali naik ke Pos 9 dan menyerahkan benda tersebut ke tim SAR dan melaporkan ke posko SAR di Desa Tompobulu. Penemuan tersebut membuat seluruh tim Ahmad girang.
“Setelah keluar (dari ekor pesawat) saya (naik) serahkan ke TNI yang ada di bawah. Setelah saya serahkan itu semua teriak kegirangan,” pungkasnya.
Dalam sebuah video yang beredar, Ahmad memegang sebilah parang dan mengatakan bahwa parang yang dipegangnya digunakan membuka kotak hitam.
“Ini parang yang membuka black box,” ucapnya dalam video.
Basarnas resmi menyerahkan black box pesawat milik Indonesia Air Transport (IAT) itu ke KNKT di Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar pada Kamis (22/1). Penyerahan black box menandai dimulainya investigasi untuk mengungkap penyebab kecelakaan udara itu.
“Ditemukannya black box ini dimaksudkan adalah untuk menjawab seperti apa penyebab terjadinya kecelakaan tersebut,” ungkap Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono dalam sambutannya.
Investigasi untuk mengungkap penyebab kecelakaan akan dilakukan secara bertahap. Pemeriksaan dimulai dengan menganalisa data rekaman penerbangan yang diunduh dari black box.
“Kita buka black box-nya, datanya nanti kita unduh, baru kita verifikasi data-datanya apakah baik atau tidak setelah itu baru kita analis. (Black box) Akan dibawa ke kantor kita di Jakarta,” ucapnya.
Soerjanto mengatakan proses analisis data rekaman penerbangan membutuhkan waktu. Hal ini untuk memastikan keakuratan hasil pemeriksaan data penerbangan.
“(Proses analisa data) 5 sampai 10 hari. Iya (untuk memastikan) hasilnya benar apa nggak,” jelas Soerjanto.
KNKT Investigasi Penyebab Pesawat Jatuh
Basarnas resmi menyerahkan black box pesawat milik Indonesia Air Transport (IAT) itu ke KNKT di Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar pada Kamis (22/1). Penyerahan black box menandai dimulainya investigasi untuk mengungkap penyebab kecelakaan udara itu.
“Ditemukannya black box ini dimaksudkan adalah untuk menjawab seperti apa penyebab terjadinya kecelakaan tersebut,” ungkap Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono dalam sambutannya.
Investigasi untuk mengungkap penyebab kecelakaan akan dilakukan secara bertahap. Pemeriksaan dimulai dengan menganalisa data rekaman penerbangan yang diunduh dari black box.
“Kita buka black box-nya, datanya nanti kita unduh, baru kita verifikasi data-datanya apakah baik atau tidak setelah itu baru kita analis. (Black box) Akan dibawa ke kantor kita di Jakarta,” ucapnya.
Soerjanto mengatakan proses analisis data rekaman penerbangan membutuhkan waktu. Hal ini untuk memastikan keakuratan hasil pemeriksaan data penerbangan.
“(Proses analisa data) 5 sampai 10 hari. Iya (untuk memastikan) hasilnya benar apa nggak,” jelas Soerjanto.
