Isra Miraj terjadi pada 27 Rajab berdasarkan penanggalan kalender Hijriah. Melalui peristiwa agung Allah SWT memperlihatkan kekuasaan dan kebesaran-Nya atas alam dan seisinya.
Menukil buku ‘Di Balik 7 Hari Besar Islam’ karya KH Muhammad Sholikhin, Isra Miraj menandai perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa dengan didampingi malaikat Jibril. Dari Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad kemudian naik ke langit dan mencapai Sidratul Muntaha.
Peristiwa bersejarah ini disebutkan dalam firman Allah pada surat Al-Isra ayat 1 dan surat An-Najm ayat 12-18. Ayat-ayat tersebut juga menjelaskan pengalaman Nabi Muhammad SAW terkait tanda-tanda kebesaran Allah SWT.
Untuk memahaminya, berikut infoSulsel menyajikan kumpulan ayat tentang Isra Miraj beserta tafsirnya yang dilansir dari laman Quran Kementerian Agama. Yuk, disimak!
Berikut adalah ayat Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 1 yang menjelaskan perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa:
سُبْحْنَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَا الَّذِي بِرَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ايْتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Arab Latin: Sub-haanalladzii asraa bi’abdihii lailam minal-masjidil-haraami ilal-masjidil-aqshalladzii baaraknaa haulahuu linuriyahuu min aayaatinaa, innahuu huwas-samii’ul-bashiir(u).
Artinya: Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Allah SWT membuka firman-Nya dengan kata “subhaana” yang berarti Maha Suci. Penggunaan kata ini menjadi penanda bahwa ayat tersebut mengandung peristiwa luar biasa yang hanya dapat terjadi atas kehendak dan kekuasaan-Nya.
Kata “asra” dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa perjalanan Rasulullah SAW terjadi pada malam hari. Malam dipilih karena menjadi waktu yang paling utama bagi hamba untuk beribadah serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ayat ini tidak menjelaskan secara rinci kapan peristiwa Isra dimulai hingga Nabi Muhammad SAW kembali ke Mekkah. Namun, disebutkan bahwa perjalanan tersebut berlangsung dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Baitul Makdis.
Masjid tersebut dinamakan Masjidil Aqsa yang berarti “terjauh”, karena letaknya yang jauh dari kota Mekkah. Masjidil Aqsa dan daerah sekitarnya mendapat keberkahan Allah SWT karena menjadi tempat turunnya wahyu kepada para nabi.
Tanahnya disuburkan sehingga menjadi daerah yang makmur, serta menjadi tempat beribadah dan menetap para nabi terdahulu.
Allah kemudian menjelaskan tujuan perjalanan Nabi Muhammad SAW dilakukan pada malam hari, yakni untuk memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya. Hal itu dimaksudkan untuk memantapkan hati Rasulullah dalam menghadapi berbagai tantangan dari kaumnya serta meneguhkan keyakinannya terhadap wahyu Allah SWT.
Pada akhir ayat, Allah SWT menegaskan bahwa Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat. Tidak ada satu pun bisikan batin maupun perbuatan mahkluk di langit dan di bumi yang luput dari pengawasan-Nya.
Untuk memudahkan infoers, berikut surat An-Najm ayat 12-18 yang dilengkapi dengan tulisan Latin, terjemahan, beserta tafsirannya:
اَفَتُمٰرُوْنَهٗ عَلٰى مَا يَرٰى
Arab Latin: Afa tumaaruunahuu ‘alaa maa yaraa.
Artinya: Apakah kamu (kaum musyrik Mekkah) hendak membantahnya (Nabi Muhammad) tentang apa yang dilihatnya itu (Jibril)?
Tafsir: Dalam ayat ini, Allah mempertanyakan apakah orang-orang Quraisy akan mendustakan dan membantah Muhammad SAW terkait bentuk Jibril yang pernah dilihatnya secara langsung.
وَلَقَدْ رَاهُ نَزْلَةً أُخْرَى
Arab Latin: Wa laqad ra’aahu nazlatan ukhraa.
Artinya: Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain,
Tafsir: Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah melihat Jibril untuk kedua kalinya dalam wujudnya yang asli.
عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى
Arab Latin: ‘Inda sidratil-muntahaa.
Artinya: (yaitu ketika) di Sidratulmuntaha.
Tafsir: Muhammad SAW melihat Jibril untuk kedua kalinya saat melakukan perjalanan ke Sidratul Muntah, yaitu suatu tempat yang merupakan batas alam yang dapat diketahui oleh para malaikat.
عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى
Arab Latin: ‘Indahaa jannatul-ma’waa.
Artinya: Di dekatnya ada surga tempat tinggal.
Tafsir: Ayat ini menerangkan bahwa surga terletak di dekat Sidratul Muntaha yang menjadi tempat tinggal bagi orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang meninggal dalam keadaan syahid.
إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى
Arab Latin: Idz yaghsyas-sidrata maa yaghsyaa.
Artinya: (Nabi Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratulmuntaha dilingkupi oleh sesuatu yang melingkupinya.
Tafsir: Allah SWT menerangkan bahwa Rasulullah SAW melihat Jibril di Sidratul Muntaha, ketika tempat tersebut diliputi suasana yang menunjukkan kebesaran Allah.
مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى
Arab Latin: Maa zaaghal-basharu wa maa thaghaa.
Artinya: Penglihatan (Nabi Muhammad) tidak menyimpang dan tidak melampaui (apa yang dilihatnya).
Tafsir: Dalam ayat ini, Allah SWT kembali menjelaskan bahwa ketika Rasulullah SAW melihat malaikat Jibril di Sidratul Muntaha, pandangannya tidak berpaling dari apa yang diperlihatkan kepadanya. Rasulullah SAW juga tidak melampaui batas, kecuali sebatas yang telah diizinkan Allah SWT untuk dilihatnya.
لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى
Arab Latin: Laqad ra’aa min aayaati rabbihil-kubraa.
Artinya: Sungguh, dia benar-benar telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang sangat besar.
Tafsir: Ayat ini menerangkan bahwa dengan menyaksikan Sidratul Muntaha, Nabi Muhammad SAW telah melihat sebagian tanda kebesaran Allah. Hal tersebut menegaskan bahwa apa yang disaksikan Nabi merupakan pengalaman spiritual yang berada di luar jangkauan manusia pada umumnya.
Demikianlah kumpulan ayat Al-Quran tentang Isra Miraj yang dilengkapi dengan terjemahan serta tafsirannya. Semoga bermanfaat!
