Warga di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar), was-was dengan keberadaan buaya di Sungai Mandar. Pasalnya, dalam satu bulan terakhir sudah dua warga diterkam buaya di sungai tersebut.
“Sudah dua warga yang diserang buaya (dalam sebulan terakhir),” ujar warga bernama Haedir kepada wartawan, Minggu (25/1/2026).
Dia mendesak pemerintah terkait segera mengambil tindakan sebelum jatuh korban jiwa. Apalagi, banyak warga setempat yang kerap beraktivitas di Sungai Mandar untuk mencari nafkah.
“Pemerintah harus bergerak cepat, sebelum buaya kembali menyerang warga, jangan sampai korban berjatuhan baru kita menyesal. Ini tidak boleh dibiarkan berlama-lama, semua pihak terkait harus segera turun mengatasi masalah ini,” kata Haedir.
Dia menduga buaya di sungai tersebut berasal dari daerah lain yang terbawa banjir beberapa tahun lalu. Belakangan buaya tersebut kekurangan makanan hingga menyerang warga yang beraktivitas di sungai.
“Perkiraan saya, itu buaya yang hanyut terbawa banjir dan mulai berkembang biak. Kenapa akhirnya menyerang warga, mungkin karena sudah kesulitan mencari makan, makanya pola serangannya terjadi pada malam hari, mungkin mereka sedang mencari makan,” bebernya.
Keresahan serupa juga disampaikan warga bernama Abdullah. Dia meminta pihak terkait segera turun tangan menangkap buaya tersebut.
“Makanya, kalau bisa itu, pemerintah segera turun tangkap itu buaya karena sudah meresahkan sekali, apalagi itu banyak warga yang biasa turun ke sungai,” ujar Abdullah.
Dia mengungkapkan buaya yang menyerang warga kerap terlihat di sungai pada sore hari. Menurutnya, buaya itu bukan penghuni Sungai Mandar namun buaya yang hanyut dan tinggal mencari makan.
“Ini sudah dua kali serangan semenjak selalu kelihatan, muncul. Buaya liar itu selalu terlihat apalagi kalau sudah menjelang sore, kalau buaya asli Sungai Mandar sangat jarang terlihat dan tidak menyerang seperti ini,” imbuhnya.
Sementara Camat Tinambung, Rifai mengaku akan segera berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) terkait penanganan buaya di Sungai Mandar. Dia mengakui buaya itu membuat warga jadi ketakutan.
“Insyaallah kami akan berupaya bertemu dengan pihak berwenang untuk membicarakan masalah ini,” kata Rifai kepada wartawan melalui sambungan telepon.
Pihak kecamatan sejauh ini telah mengeluarkan imbauan kepada warga untuk mengurangi aktivitas di Sungai Mandar. Rifai mengungkapkan warga sudah pernah mencoba menangkap buaya itu namun tidak berhasil.
“Saya secara pribadi memastikan hawa buaya memang sudah banyak sekarang, kenapa kemudian menjadi sangat meresahkan, karena informasi di media sosial yang betul-betul merekam buaya saat menampakkan diri bahkan dengan mulut terbuka,” terangnya.
“Pernah ada warga yang berani mencoba menangkap buaya dengan alat bantu pakai umpan ayam mati, namun tidak buahkan hasil,” tambahnya.
Diketahui, buaya pertama kali menyerang pemuda bernama Jaumil (21) yang sedang mandi di Sungai Mandar, Kelurahan Tinambung, Kecamatan Tinambung, Minggu (28/12/2025) sekira pukul 19.30 Wita. Meski selamat, Jaumil menderita luka pada kedua kaki akibat kibasan ekor buaya.
Serangan kedua dialami pria paruh baya bernama Ismail (52) yang saat itu sedang buang air besar di Sungai Mandar, Jumat (23/1) sekira pukul 19.00 Wita. Korban selamat dengan luka di punggung dan bokong akibat digigit buaya.
