Sebanyak 30 personel Satpol PP Polewali Mandar (), Sulawesi Barat (Sulbar), diterjunkan mengawasi dan menertibkan warga yang kerap buang sampah sembarangan di Pasar Wonomulyo. Kebijakan ini dilakukan di tengah maraknya sampah yang membuat pedagang mengeluh mengalami kerugian.
“Ada 30 orang personel semua, itu kita rolling setiap malam, bergantian (berjaga),” kata Kepala Satpol PP Polman, Arifin Halim kepada wartawan, Selasa (13/1/2026)
Arifin mengatakan, personel disiagakan pada dua titik yang kerap dimanfaatkan warga sebagai tempat membuang sampah. Selain di kompleks Pasar Wonomulyo, personel juga ditempatkan di Jalan Gatot Subroto sekitar SMA 1 Wonomulyo.
“Ada dua titik, di pasar ikan dan jalan SMA yang sering dijadikan tempat buang sampah,” ujarnya.
Personel Satpol PP tidak hanya bertugas melakukan pengawasan tapi juga mengedukasi warga agar tidak buang sampah sembarangan. Warga yang kepergok membuang sampah akan dilakukan pembinaan lebih dulu.
“Belum ada kita berikan efek jera, hanya kita catat saja dulu siapa yang buang sampah, di mana alamatnya. Kalau orang dari luar terjaring berulang kali buang sampah dan tidak mengindahkan aturan kita jemput, memungkinkan diberlakukan sanksi (sesuai perda) kepada orang yang membantah,” jelasnya.
Pengerahan Satpol PP untuk mengawasi aktivitas warga yang kerap buang sampah sembarangan rencananya akan dilakukan selama dua pekan. Satpol PP mulai berjaga dari pukul 17.00 Wita sampai pukul 05.00 Wita.
“Rencana dua minggu, mulai pukul 17 sore sampai jam 5 subuh. Kita lihat dulu kondisi lapangan, kalau sudah memungkinkan kita akan tarik anggota,” ucap Arifin.
Sementara salah satu pedagang bernama Aminah menyebut, sampah yang menumpuk di area pasar Wonomulyo merupakan limbah rumah tangga dari sejumlah tempat yang sengaja dibuang di tempat ini. Pedagang meminta ada penjagaan agar situasi ini bisa ditangani.
“Kalau sampah pasar tidak sebanyak ini, itu semua sampah dari luar. Kadang ada warga yang marah ketika ditegur karena kedapatan buang sampah,” terang Amina.
“Kita minta ada penjaga, supaya orang tidak sembarangan buang sampah. Harus didenda kalau ada yang buang sampah sembarangan,” sambungnya.
Aminah menyayangkan lantaran pemerintah tak kunjung menemukan solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah sampah. Dia mengeluhkan keberadaan sampah membuat pendapatannya menurun meski rutin membayar iuran kebersihan sebesar Rp 2.000 per hari.
“Berpengaruh sama pendapatan karena orang tidak mau lewat kalau banyak sampah. Padahal kita semua pedagang yang ada di sini tiap hari bayar iuran sampah,” pungkasnya.
