Renungan Harian Katolik menjadi sarana bagi umat untuk menyiapkan hati sebelum menjalani aktivitas sehari-hari. Melalui bacaan Kitab Suci dan permenungan singkat, umat diajak untuk semakin memahami kehendak Tuhan serta menerapkannya dalam kehidupan nyata.
Pada Sabtu, 24 Januari 2026, Gereja kembali menghadirkan bacaan harian yang mengajak umat untuk merenungkan kasih dan penyertaan Tuhan dalam setiap perjalanan hidup. Sabda Tuhan yang dibacakan tidak hanya menjadi penguat iman, tetapi juga pedoman agar umat mampu bersikap bijaksana, setia, dan penuh kasih dalam keseharian.
Renungan hari ini mengangkat tema “Kesibukan” yang dikutip dari buku Renungan Tiga Titik ditulis oleh Grace A S. Nah, secara lengkap artikel di bawah ini menyajikan:
Sebelum membaca renungan harian hari ini baca terlebih dahulu sabda-sabda Tuhan lewat bacaan hari ini, antara lain:
Setelah Saul mati, dan ketika Daud kembali sesudah memukul kalah orang Amalek dan tinggal dua hari di Ziklag,
maka datanglah pada hari ketiga seorang dari tentara, dari pihak Saul, dengan pakaian terkoyak-koyak dan tanah di atas kepala. Ketika ia sampai kepada Daud, sujudlah ia ke tanah dan menyembah.
Bertanyalah Daud kepadanya: “Dari manakah engkau?” Jawabnya kepadanya: “Aku lolos dari tentara Israel.”
Bertanyalah pula Daud kepadanya: “Apakah yang terjadi? Coba ceriterakan kepadaku.” Jawabnya: “Rakyat telah melarikan diri dari pertempuran; bukan saja banyak dari rakyat yang gugur dan mati, tetapi Saul dan Yonatan, anaknya, juga sudah mati.”
Lalu Daud memegang pakaiannya dan mengoyakkannya; dan semua orang yang bersama-sama dengan dia berbuat demikian juga.
Dan mereka meratap, menangis dan berpuasa sampai matahari terbenam karena Saul, karena Yonatan, anaknya, karena umat TUHAN dan karena kaum Israel, sebab mereka telah gugur oleh pedang.
Kepermaianmu, hai Israel, mati terbunuh di bukit-bukitmu! Betapa gugur para pahlawan!
Saul dan Yonatan, orang-orang yang dicintai dan yang ramah, dalam hidup dan matinya tidak terpisah. Mereka lebih cepat dari burung rajawali, mereka lebih kuat dari singa.
Hai anak-anak perempuan Israel, menangislah karena Saul, yang mendandani kamu dengan pakaian mewah dari kain kirmizi, yang menyematkan perhiasan emas pada pakaianmu.
Betapa gugur para pahlawan di tengah-tengah pertempuran! Yonatan mati terbunuh di bukit-bukitmu.
Merasa susah aku karena engkau, saudaraku Yonatan, engkau sangat ramah kepadaku; bagiku cintamu lebih ajaib dari pada cinta perempuan.
Betapa gugur para pahlawan dan musnah senjata-senjata perang!
Di hadapan Efraim, Benyamin, dan Manasye! Bangkitkan kekuatanmu dan datanglah untuk menyelamatkan kami.
Ya Tuhan, pulihkan kami, buatlah wajah-Mu bersinar, dan kami akan selamat.
Engkau memberi mereka roti air mata, Engkau memberi mereka banyak air mata untuk diminum,
Kamu telah menjadikan kami celaan bagi tetangga kami, dan musuh kami menjadi bahan ejekan bagi kami.
Ya Tuhan semesta alam, pulihkan kami, buatlah wajah-Mu bersinar, dan kami akan diselamatkan.
Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah, dan orang banyak berkumpul lagi, sehingga mereka bahkan tidak dapat makan.
Ketika keluarganya mendengar tentang hal itu, mereka datang untuk membawanya pergi, karena mereka mengatakan bahwa dia sudah tidak waras.
Yesus pulang ke rumah. Orang banyak datang lagi berkerumun, sehingga makan pun mereka tidak dapat. (Mrk. 3:20)
Dalam bacaan Injil hari ini dikisahkan bahwa Yesus dan para rasul begitu sibuk melayani orang banyak yang datang berduyun-duyun. Mereka memohon kesembuhan, bimbingan, dan pengajaran dari Yesus.
Kesibukan itu sedemikian besar, hingga Yesus dan para rasul tidak sempat beristirahat dan makan. Ketika keluarga Yesus mendengar kabar tersebut, mereka menyangka bahwa Yesus sudah tidak waras.
Mereka hanya mendengar cerita tentang kesibukan Yesus, tetapi tidak menyaksikan bagaimana Ia mengabdikan diri sepenuhnya bagi orang-orang yang membutuhkan pertolongan-Nya. Dalam budaya dan adat istiadat Yahudi, tata kehidupan seseorang diatur dengan sangat rinci, termasuk perhatian terhadap kesehatan jasmani.
Dari sudut pandang ini, kesibukan Yesus dan para rasul yang sampai melupakan makan, dapat dipahami sebagai sesuatu yang tidak lazim. Namun, Yesus menunjukkan bahwa pelayanan dan kasih kepada sesama kadang menuntut pengorbanan diri yang besar, bahkan melampaui kenyamanan pribadi.
Setiap orang memiliki jadwal dan kesibukan masing-masing. Seorang ibu rumah tangga misalnya, sudah mulai bekerja sejak subuh: menyiapkan sarapan, bekal anak-anak sekolah, serta kebutuhan keluarga.
Setelah itu, pekerjaan rumah pun menanti tanpa henti. Demikian pula mereka yang bekerja di kantor, dengan berbagai tuntutan pekerjaan seperti menyiapkan laporan, menghadiri rapat, hingga menyusun anggaran.
Tidak jarang, karena terlalu sibuk, kita melupakan waktu untuk beristirahat atau bahkan melewatkan waktu makan. Kesibukan sering menjadi alasan bagi kita untuk tidak hadir dalam Perayaan Ekaristi.
Kita kerap menemukan berbagai pembenaran untuk diri sendiri agar tidak mengikuti Misa kudus, atau hadir hanya sebagai rutinitas. Akibatnya, kita lupa akan sapaan Tuhan yang hadir dalam Ekaristi.
Padahal, Allah tidak pernah melupakan anak-anak-Nya. Dengan penuh kesabaran, Ia senantiasa menanti jawaban kita atas kasih dan undangan-Nya.
Karena itu, marilah kita berusaha tetap setia memenuhi panggilan Allah untuk mengikuti Perayaan Ekaristi di tengah kesibukan sehari-hari! Kita juga diajak untuk terlibat dalam kegiatan lingkungan dan wilayah, sebab di dalam diri sesama, teman, saudara, dan keluarga, Tuhan sungguh hadir dan menyapa kita.
Allah Bapa Yang Maha Baik dan Maha Murah, terima kasih atas kesabaran-Mu dalam menanti tanggapan kami anak-anak-Mu. Semoga di dalam kesibukan kami, kami tidak lupa untuk menjawab sapaan-Mu untuk mengikuti Misa dan selalu menjaga tubuh, jiwa dan raga yang telah Kau berikan kepada kami dengan baik. Amin.
Demikianlah renungan harian Katolik Sabtu, 24 Januari 2026. Tuhan menyertai keseharian kita!
